Korsel Desak Korut Setop Peluncuran Rudal Balistik Ilegal

- Korea Selatan mendesak Korea Utara menghentikan peluncuran rudal balistik, yang dinilai melanggar resolusi DK PBB dan memperburuk ketegangan di Semenanjung Korea.
- Militer Korea Selatan dan AS mendeteksi beberapa rudal dari Pyongyang menuju Laut Timur, dengan jarak lebih dari 900 kilometer; Seoul mengevaluasi dampaknya terhadap keamanan nasional.
- Ketegangan dua Korea meningkat setelah ledakan ranjau di DMZ melukai tiga personel Korea Selatan, sementara Pyongyang membantah keterlibatan dan menuduh Seoul memalsukan temuan.
Jakarta, IDN Times - Kantor Keamanan Nasional (NSO) Kepresidenan Korea Selatan (Korsel) mendesak Korea Utara (Korut) untuk segera menghentikan peluncuran rudal balistiknya. Pernyataan tegas ini disampaikan pada Senin (12/10/2026) dalam pertemuan darurat NSO, menyusul laporan militer Korsel yang mendeteksi sejumlah rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Pyongyang menuju Laut Timur.
"Peluncuran rudal berulang kali oleh Korut merupakan pelanggaran serius terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB dan tidak membantu meredakan ketegangan di Semenanjung Korea," kata juru bicara kepresidenan Kang Yu-jung dalam sebuah pengarahan tertulis, dilansir Korea Herald.
1. Rudal Korut tempuh jarak lebih dari 900 km

Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Maciej Ruminkiewicz) Kang mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut mempertemukan para pejabat dari kementerian pertahanan dan Kepala Staf Gabungan (JCS). Mereka membahas kesiapan pertahanan Korsel, serta situasi keamanan negara menyusul serangkaian peluncuran rudal Korut baru-baru ini.
NSO menyerukan pengambilan semua langkah yang diperlukan sambil menganalisis dan menilai dampak peluncuran terbaru terhadap keamanan Korsel.
Menurut laporan JCS, militer Korsel dan Amerika Serikat (AS) mendeteksi beberapa rudal balistik yang meluncur dari Pyongyang mulai pukul 09.20 pagi waktu setempat. Sejumlah rudal dilaporkan mampu menempuh jarak hingga lebih dari 900 kilometer.
Jarak tempuh yang tak biasa ini memicu spekulasi di kalangan pejabat dan analis militer bahwa Pyongyang sedang menguji varian yang ditingkatkan dari seri Hwasong-11 (KN-23). Rudal tersebut kerap dijuluki 'Iskander Korea Utara' karena kemiripannya dengan rudal balistik jarak pendek Rusia. Spesimen ini dinilai berbeda dari peluncur roket super besar KN-25 (kaliber 600 mm), yang biasa digunakan Korut dalam unjuk kekuatan, Korea JoongAng Daily melaporkan.
2. Uji coba senjata hipersonik pertegas rivalitas dua Korea
Para pejabat dan analis Korsel juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa peluncuran itu bertujuan menguji jangkauan maksimum atau meningkatkan kinerja rudal. Pada September 2024, Korut pernah menguji Hwasong-11C-4.5, rudal balistik yang dirancang membawa hulu ledak seberat 4,5 ton.
Waktu peluncuran terbaru turut menjadi perhatian karena terjadi beberapa hari setelah Seoul mengumumkan uji coba pertama kendaraan luncur hipersonik (hypersonic glide vehicle/HGV) buatan dalam negeri, pada Kamis (8/10/2026). Presiden Korsel Lee Jae Myung menghadiri pengujian tersebut, yang menurut pemerintah merupakan bagian dari pengembangan kemampuan pertahanan negara.
Pada hari yang sama dengan pengujian HGV, Lee memeriksa Hyunmoo-5, rudal balistik berkekuatan tinggi milik Korsel. Keesokan harinya, Seoul merilis foto dan video uji coba tersebut, yang menyoroti kemampuan pencegahan militernya terhadap Pyongyang.
3. Ketegangan memanas di Semenanjung Korea, usai insiden ledakan ranjau di DMZ

Ilustrasi bendera Korea Utara (kiri) dan bendera Korea Selatan (kanan). (pixabay.com/www_slon_pics) Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan antara kedua Korea meningkat. Ini setelah militer Korsel dan Komando PBB (UNC) yang dipimpin AS menemukan Korut bertanggung jawab atas ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang dijaga ketat bulan lalu.
Dilaporkan, ledakan terjadi saat militer Korsel dan UNC berupaya membuka akses untuk melakukan inspeksi bersama, setelah Seoul mendeteksi perubahan kondisi medan yang diduga berkaitan dengan aktivitas penanaman ranjau oleh Korut. Seoul mencurigai aktivitas tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata yang menghentikan Perang Korea (1950-1953). Akibat insiden tersebut, 3 personel militer Korsel terluka. Salah satu korban adalah komandan batalyon pengintai dan korban lainnya merupakan seorang insinyur militer.
Terkait insiden tersebut, Pyongyang membantah bertanggung jawab dan menuduh Seoul memalsukan temuan tersebut. Pihaknya menyebut tuduhan itu sebagai lelucon, dan meluncurkan rudal balistik pada 3 Oktober 2026. Korut mengklaim peluncuran itu sebagai uji coba strategis hipersonik jarak menengah.





















