Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Penusukan di Supermarket Korsel, 8 Orang Terluka dan Pelaku Ditangkap

3 min read
Penusukan di Supermarket Korsel, 8 Orang Terluka dan Pelaku Ditangkap
Ilustrasi penikaman. (unsplash.com/Markus Spiske)
  • Delapan orang terluka dalam penusukan di kompleks Homeplus Guwol, Incheon, Selasa siang. Pengunjung menghentikan pelaku berusia 59 tahun dengan kursi sebelum polisi menangkapnya.
  • Korban terdiri dari enam perempuan dan dua laki-laki berusia 20 hingga 50-an; seorang perempuan mengalami henti jantung. Polisi menyelidiki motif dan menemukan sejumlah pisau dalam ransel tersangka.
  • Tersangka memakai gelang pemantau sejak 2019 setelah hukuman percobaan pembunuhan mantan istri. Kementerian Kehakiman meminta maaf dan akan mengevaluasi sistem pengawasan elektronik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Delapan orang terluka dalam serangan penusukan di sebuah supermarket Homeplus di Incheon, Korea Selatan (Korsel), pada Selasa (13/10/2026). Polisi telah menangkap seorang laki-laki berusia 59 tahun yang diduga sebagai pelaku.

Menurut Kepolisian Incheon Namdong, serangan terjadi sekitar pukul 13.40 waktu setempat di kompleks komersial yang menaungi gerai Homeplus Guwol, wilayah Namdong. Tersangka diduga menyerang pengunjung saat menaiki eskalator dari lantai basement dua kompleks tempat Homeplus berada, menuju lantai dua gedung tersebut.

  1. 1. Kronologi serangan, kondisi korban, dan status tersangka yang dalam pengawasan elektronik

    Aksi pelaku berhasil dihentikan oleh para pengunjung supermarket yang dengan sigap menggunakan kursi, guna menghalangi pergerakannya sebelum polisi tiba dan menangkapnya di lokasi kejadian. Menurut keterangan para saksi, tersangka mengacungkan pisau yang sengaja dikaitkan pada kedua tangannya. Polisi menemukan sejumlah pisau di dalam ransel tersangka dan tengah menyelidiki motif, serta kronologi serangan.

    Korea Herald melaporkan, kedelapan korban dilarikan ke rumah sakit terdekat. Mereka adalah 6 perempuan dan 2 laki-laki yang berusia 20 hingga 50-an tahun. Salah satu korban perempuan berusia 20-an mengalami henti jantung (cardiac arrest), sementara 7 korban lainnya menderita luka-luka di bagian punggung dan bahu. Pihak berwenang juga sempat mendirikan pusat medis darurat di lantai satu gedung tersebut.

    Tersangka diketahui sedang berada dalam pengawasan elektronik dan mengenakan gelang pemantau (ankle monitor) di pergelangan kakinya saat penyerangan terjadi. Kementerian Kehakiman mengonfirmasi bahwa laki-laki tersebut telah berada di bawah pengawasan sejak 2019. Sebelumnya, pelaku menjalani hukuman empat tahun penjara atas kasus percobaan pembunuhan terhadap mantan istrinya.

  2. 2. Riwayat pelaku dan respons Kementerian Kehakiman Korsel

    Ilustrasi kantor polisi di Korea Selatan. (unsplash.com/Le Thanh Huyen)
    Ilustrasi kantor polisi di Korea Selatan. (unsplash.com/Le Thanh Huyen)

    Sebelum penyerangan terjadi, pelaku dilaporkan menghadiri sesi konseling kecanduan alkohol dan masalah kesehatan mental dari pukul 10.00-11.00 pagi. Lalu, ia mengikuti sesi pemeriksaan rutin oleh petugas pengawas hingga pukul 12.30 waktu setempat.

    Bulan lalu, ia juga sempat ditangkap polisi karena membawa pisau saat menggelar demonstrasi seorang diri di depan sebuah rumah sakit di Incheon. Aksi tersebut berkaitan dengan perselisihannya mengenai perawatan medis yang diterimanya.

    Kementerian menyampaikan permintaan maaf dan berjanji menyelidiki insiden tersebut, termasuk mengevaluasi sistem pengawasan elektronik untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Menurut kementerian, tersangka tidak merusak alat pemantau maupun melanggar ketentuan pengawasan yang berlaku pada hari kejadian.

  3. 3. Tingkat keamanan Korsel dan maraknya serangan acak

    Ilustrasi suasana kota Seoul di Korea Selatan pada malam hari. (pexels.com/Ethan Brooke)
    Ilustrasi suasana kota Seoul di Korea Selatan pada malam hari. (pexels.com/Ethan Brooke)

    Dilansir BBC, serangan itu terjadi di negara yang dikenal dengan standar keamanan publik yang tinggi. Menurut Badan Statistik Korea, Negeri Ginseng mencatat sekitar 0,5 kasus pembunuhan per 100 ribu penduduk pada 2024. Angka tersebut sekitar sepersepuluh dari rata-rata global. Namun, masyarakat belakangan ini diresahkan oleh maraknya aksi kekerasan acak.

    Insiden terbaru di Incheon menambah daftar kasus kekerasan bersenjata yang kembali menjadi perhatian masyarakat dan aparat keamanan Korsel. Pada 2023, Korsel diguncang oleh serangkaian penusukan, termasuk serangan yang menyebabkan beberapa orang tewas dan terluka. Serangan semacam itu yang dikenal sebagai kejahatan Mudjima atau 'Jangan Tanya Mengapa'. Istilah tersebut merujuk pada tindakan kekerasan terhadap orang asing tanpa hubungan atau motif yang jelas.

    Pada Mei 2026, seorang perempuan berusia 17 tahun tewas ditikam dan seorang remaja lainnya terluka di Gwangju, Korsel bagian barat daya. Pelaku adalah seorang laki-laki berusia 20-an, dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan, dikutip dari The Straits Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More