Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Korut Minta Korsel Tunjukkan Rasa Hormat Imbas Ledakan Ranjau DMZ

2 min read
Korut Minta Korsel Tunjukkan Rasa Hormat Imbas Ledakan Ranjau DMZ
Ilustrasi Bendera Korea Utara (magnific.com/leoaltman)
  • Kim Yo Jong menyatakan dialog Korea Utara-Korea Selatan mustahil tanpa perubahan sikap Seoul, sembari membantah Pyongyang memasang ranjau dan menolak meminta maaf.
  • Ledakan ranjau pada 21 September 2026 di DMZ dekat Paju melukai tiga prajurit Korea Selatan, termasuk dua korban luka berat, saat membuka jalur pengintaian.
  • Penyelidikan Korea Selatan dan Komando PBB menemukan ranjau aktif serta bukti bahan yang dikaitkan dengan Korea Utara; Seoul membersihkan area dan menyiapkan langkah balasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Hubungan Korea Utara dan Korea Selatan kembali tegang pada Kamis (8/10/2026). Pejabat tinggi Pyongyang meminta Seoul menjaga sopan santun diplomatik agar situasi di perbatasan bisa mereda.

Perbedaan pendapat yang tajam mengenai penyebab ledakan di zona penyangga memicu konflik baru ini. Perselisihan tersebut dinilai dapat mengganggu keamanan kawasan serta memperkecil peluang kedua negara untuk kembali berdialog.

  1. 1. Syarat Kim Yo Jong agar dialog bilateral Korut dan Korsel terwujud

    IMG_0316.jpeg
    Adik pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong. (AFP/VLADIMIR SMIRNOV)

    Adik pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, menegaskan pembicaraan kedua pihak mustahil terjadi jika Korea Selatan tidak mengubah sikapnya. Pyongyang mengkritik kebiasaan Seoul yang sering mengambil keputusan secara sepihak.

    "Jika ingin memperbaiki hubungan, mereka harus menghargai perasaan kami serta menunjukkan rasa hormat dan niat baik yang tulus," tegas Kim Yo Jong, dilansir Channel News Asia.

    Kim Yo Jong membantah tuduhan bahwa pasukannya memasang ranjau. Ia menuding tuduhan Seoul sengaja dibuat-buat setelah tawaran bantuan medis ditolak. Pyongyang juga menolak meminta maaf dan menyebut tindakan Seoul sebagai gangguan terhadap kedaulatan mereka.

  2. 2. Insiden ledakan ranjau yang melukai prajurit Korea Selatan di Paju

    ilustrasi militer Korea Selatan (commons.wikimedia.org/Korea.net / Korean Culture and Information Service (Photographer name))
    ilustrasi militer Korea Selatan (commons.wikimedia.org/Korea.net / Korean Culture and Information Service (Photographer name))

    Insiden ledakan terjadi pada 21 September 2026 di Zona Demiliterisasi dekat Paju, wilayah tugas Divisi Infanteri ke-25 Korea Selatan. Saat peristiwa berlangsung, para prajurit sedang membuka jalur pengintaian di area ranjau.

    Ledakan pertama terjadi ketika pasukan hendak mundur, disusul ledakan kedua saat regu penyelamat sedang menolong korban. Tiga prajurit terluka dalam insiden ini, dengan dua di antaranya mengalami luka berat dan langsung dilarikan ke rumah sakit militer.

    Korea Selatan segera menghentikan kegiatan patroli di luar pagar kawat berduri untuk memeriksa potensi bahaya lanjutan.

    "Jika terbukti ranjau Korea Utara yang melukai korban, mereka harus bertanggung jawab penuh," tegas Letnan Jenderal Kwon Dae-won.

  3. 3. Hasil penyelidikan ranjau aktif di Garis Demarkasi Militer Korea

    IMG_0636.jpeg
    Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea Utara dan Selatan. (AFP/JUNG YEON-JE)

    Penyelidikan bersama militer Korea Selatan dan Komando PBB menemukan ranjau aktif sepuluh meter di selatan Garis Demarkasi Militer. Temuan ini dinilai melanggar perjanjian gencatan senjata tahun 1953.

    Pemeriksaan laboratorium forensik menemukan sisa bahan peledak TNT dan resin plastik pada pakaian korban, yang sama persis dengan bahan ranjau plastik milik Korea Utara. Letak ranjau tersebut juga menunjukkan bahwa senjata itu sengaja dipasang, bukan terbawa arus air.

    Militer Korea Selatan telah membersihkan area tersebut pada 5 Oktober 2026 dan meminta Korea Utara mengakui perbuatannya.

    "Pemerintah sedang menyiapkan langkah balasan yang tepat untuk mendesak Korea Utara meminta maaf secara resmi," kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Jeon Ha-kyu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More