Korsel Ajak Korut Lanjut Dialog usai Ledakan Ranjau di DMZ

- Presiden Korsel Lee Jae-myung mengajak Korut memulihkan kepercayaan dan dialog, sambil menegaskan upaya praktis Seoul untuk meredakan ketegangan militer setelah ledakan ranjau di DMZ.
- Komando PBB dan militer Seoul menemukan ranjau antipersonel aktif yang diklaim milik Korut di sisi Korsel; ledakan 21 September melukai parah tiga tentara, sementara Pyongyang membantah.
- Lee menargetkan pertahanan nasional mandiri melalui pengalihan kendali masa perang dari AS, pembangunan kapal selam bertenaga nuklir, serta penguatan pertahanan rudal, AI, dan sistem pencegat laser.
Jakarta, IDN Times - Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae-myung, menyerukan Korea Utara (Korut) untuk memulihkan kepercayaan dan melanjutkan kembali dialog. Pernyataan tersebut disampaikan Lee sehari setelah militer Seoul menuntut permintaan maaf terkait ledakan ranjau darat di zona demiliterisasi (DMZ) yang menyebabkan tiga tentara Korsel terluka parah.
Lee menambahkan bahwa pemerintahannya akan secara konsisten mengupayakan langkah-langkah praktis untuk meredakan ketegangan militer antara kedua negara Korea. Komitmen tersebut disampaikan Lee dalam peringatan Hari Angkatan Bersenjata ke-78 di markas besar militer di Gyeryongdae pada Kamis (1/10/2026).
Dikutip dari Yonhap, Lee mengatakan bahwa perdamaian dan kemakmuran harus diwujudkan dengan upaya kedua negara. Pemimpin Korsel itu menambahkan bahwa bentuk keamanan yang paling pasti adalah keamanan yang menciptakan perdamaian.
1. Komando PBB dan militer Seoul temukan ranjau Korut di sisi perbatasan Korsel

Bendera Korea Selatan (Korsel) (pexels.com/byunghyun lee) Komando PBB yang dipimpin AS bersama militer Seoul mengatakan telah mengidentifikasi sebuah ranjau antipersonel aktif milik Korut di sisi Korsel dari Garis Demarkasi Militer. Menteri Pertahanan Seoul, Kang Shin-chul, mengatakan bahwa pihaknya akan mengambil langkah-langkah yang setimpal jika Pyongyang dipastikan berada di balik ledakan ranjau tersebut.
Dilansir The Japan Times, tiga tentara korsel terluka parah akibat ledakan pada 21 September lalu, salah satu di antara mereka bahkan kehilangan kakinya. Militer Seoul menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap Perjanjian Gencatan Senjata. Hal itu juga mencederai semangat kesepakatan antar-Korea yang ada saat ini.
Insiden tersebut semakin memperparah ketegangan antara kedua negara Korea, yang saat ini tidak memiliki saluran komunikasi militer langsung maupun saluran komunikasi darurat lainnya yang berfungsi. Hal itu terjadi di tengah sikap Korut yang semakin keras terhadap Seoul seraya terus memperluas program nuklir militernya.
2. Korut bantah kepemilikan ranjau di sisi perbatasan Korsel

ilustrasi bendera Korea Utara (unsplash.com/Micha Brandli) Saudara perempuan berpengaruh pemimpin Korut, Kim Yo Jong, menolak temuan Korsel pada Rabu (30/9/2026). Yo-jong menuduh Seoul merekayasa hasil temuan tersebut dan memperingatkan akan adanya tindakan balasan.
Yo-jong mengkritik Korsel karena menyiarkan peringatan dan melepaskan tembakan peringatan ke arah pasukan Korut. Dia mengancam akan melakukan pembalasan jika Negeri Ginseng itu menembaki pasukan Pyongyang yang sedang memperkuat pertahanan di perbatasan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Korut telah menambah pemasangan ranjau, penghalang anti-tank, dan berbagai benteng pertahanan garis depan lainnya. Langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran di Korsel terkait semakin banyaknya kehadiran tentara negara rivalnya itu di dekat perbatasan.
3. Lee ingin wujudkan pertahanan nasional Korsel yang mandiri

ilustrasi bendera Korsel (pexels.com/준섭 윤) Pada kesempatan yang sama, Lee menegaskan kembali tujuannya untuk mewujudkan pengalihan kendali operasional masa perang dari AS ke Korsel. Dia menyebut bahwa langkah tersebut sebagai bagian dari upaya jangka panjang demi mewujudkan pertahanan nasional yang mandiri.
Mengutip The Straits Times, Lee menyatakan bahwa Korsel akan membangun kapal selam bertenaga nuklir pada pertengahan 2030-an. Seoul juga akan meningkatkan kemampuan pertahanan rudal, termasuk sistem komando dan kendali berbasis kecerdasan buatan (AI), serta sistem pencegat laser berenergi tinggi.
Pemimpin Korsel itu mengatakan bahwa upaya modernisasi ini juga mencakup pengembangan kemampuan AI, restrukturisasi militer untuk menghadapi peperangan masa depan, serta penguatan sistem pertahanan tiga poros negara tersebut. Hal tersebut dilakukan guna mendeteksi dan mencegat ancaman rudal.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















