Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Korut Tembak Rudal Balistik ke Laut Jepang, Korsel Siaga Penuh

3 min read
Korut Tembak Rudal Balistik ke Laut Jepang, Korsel Siaga Penuh
ilustrasi serangan rudal balistik (unsplash.com/Maciej Ruminkiewicz)
  • Korea Utara meluncurkan rudal balistik dari Wonsan ke Laut Jepang pada 3 Oktober 2026, menempuh lebih dari 700 kilometer sebelum jatuh ke laut.
  • Militer Korea Selatan dan AS menduga rudal tersebut bertipe MRBM atau IRBM, sementara Seoul meningkatkan siaga serta menggelar rapat darurat bersama intelijen AS dan Jepang.
  • Ketegangan antar-Korea meningkat setelah ledakan ranjau di DMZ melukai tiga tentara Seoul; Korut membantah keterlibatan dan menolak usulan dialog mengenai garis perbatasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Militer Korea Selatan (Korsel) mengatakan bahwa Korea Utara (Korut) telah meluncurkan rudal balistik ke arah Laut Jepang pada Sabtu (3/10/2026). Peluncuran tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara akibat insiden ledakan ranjau di sepanjang perbatasan antar-Korea yang melukai tiga tentara Seoul..

Kepala Staf Gabungan (JCS) Korsel mengungkapkan bahwa pihaknya mendeteksi peluncuran tersebut sekitar pukul 06.30 pagi dari wilayah Wonsan. Rudal itu menempuh jarak lebih dari 700 kilometer sebelum jatuh ke laut, dikutip dari Yonhap.

JCS mengatakan bahwa otoritas intelijen Korsel dan Amerika Serikat (AS) telah memantau peluncuran tersebut sejak tahap awal dan saling berbagi informasi terkait. Pihaknya juga mempertahankan kemampuan serta kesiapan untuk merespons secara tegas setiap bentuk provokasi.

  1. 1. Korut kemungkinan meluncurkan rudal balistik jenis MRBM atau IRBM

    ilustrasi bendera Korea Utara (unsplash.com/Micha Brandli)
    ilustrasi bendera Korea Utara (unsplash.com/Micha Brandli)

    Militer Korsel-AS membuka kemungkinan bahwa Korut meluncurkan rudal balistik jarak menengah (MRBM) atau rudal balistik jarak menengah-jauh (IRBM). Sebuah sumber pemerintah mengatakan rudal tersebut tampak serupa dengan yang diluncurkan pada 12 Agustus, saat Pyongyang menembakkan rudal balistik untuk memprotes latihan militer Seoul-Washington.

    Meski tidak mengungkapkan spesifikasi rudal tersebut, muncul spekulasi bahwa Korut mungkin telah melakukan uji coba peluncuran MRBM yang memiliki jangkauan 1.000 hingga 3.000 kilometer. Selain itu, pihaknya juga membuka kemungkinan Pyongyang menggunakan IRBM, yang memiliki jangkauan 3.000 hingga 5.500 kilometer, dengan jarak tempuh yang dikurangi.

    Dilansir France 24, para analis menilai peluncuran pada Sabtu sebagai unjuk kekuatan Korut dalam menanggapi upaya diplomatik pemerintah Korsel. Peluncuran itu secara efektif menunjukkan penolakan Pyongyang terhadap langkah untuk menjalin kembali hubungan.

  2. 2. Korsel gelar rapat darurat waspadai kemungkinan peluncuran lanjutan

    Bendera Korea Selatan (Korsel) (pexels.com/byunghyun lee)
    Bendera Korea Selatan (Korsel) (pexels.com/byunghyun lee)

    Kantor keamanan nasional kepresidenan Seoul menggelar rapat darurat untuk menilai situasi pascapeluncuran tersebut. Militer Korsel telah meningkatkan status siaga terhadap kemungkinan peluncuran lanjutan. Pihaknya juga akan berbagi informasi intelijen dengan AS dan Jepang, dilaporkan oleh Al Jazeera.

    Peluncuran rudal Korut pada Sabtu merupakan peluncuran terbaru dalam serangkaian unjuk kekuatan militer Pyongyang belakangan ini. Peluncuran tersebut terjadi hanya 13 hari setelah negara rival Barat itu meluncurkan dua rudal balistik jarak pendek pada 20 September lalu.

  3. 3. Hubungan Korut-Korsel memanas imbas ledakan ranjau darat di DMZ

    Pasukan Korea Selatan (Korsel)
    Pasukan Korea Selatan (Korsel). (U.S. Army photo by Pfc. Seu Chan, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Peluncuran pada Sabtu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan Korut-Korsel menyusul ledakan ranjau darat Pyongyang di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua negara. Seoul menyalahkan negara rivalnya tersebut atas ledakan yang terjadi dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata.

    Sementara itu, saudara perempuan pemimpin Korut, Kim Yo-jong, membantah klaim Korsel terkait keterlibatan negaranya. Dia menuduh Seoul merekayasa temuan ranjau Pyongyang, serta memperingatkan akan adanya pembalasan tanpa ampun jika Negeri Ginseng itu mengambil tindakan balasan apa pun.

    Yo-jong juga menolak usulan Menteri Unifikasi Chung Dong-young untuk mengadakan dialog guna membahas klarifikasi Garis Demarkasi Militer (MDL). Dia menyebutnya sebagai ocehan sepihak yang penuh khayalan dan tidak layak ditanggapi. Chung sebelumnya menyebut memudarnya visibilitas garis perbatasan sebagai faktor utama penyebab ledakan di DMZ.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More