Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Korut Tembakkan 10 Rudal usai Trump Klaim Ingin Bertemu Kim Jong Un
Ilustrasi Bendera Korea Utara (freepik.com/leoaltman)
  • Korea Utara menembakkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek dari Pyongyang ke Laut Timur; proyektil jatuh di luar ZEE Jepang tanpa laporan korban atau kerusakan.
  • Peluncuran terjadi beberapa jam setelah Donald Trump menyatakan ingin bertemu Kim Jong Un dan memangkas latihan AS-Korea Selatan; Kim Yo Jong menilai kebijakan Washington tetap bermusuhan.
  • Perkiraan arsenal nuklir Korut diperdebatkan: Trump menyebut sekitar 57 senjata, sementara riset independen memperkirakan 80-120 hulu ledak yang belum bisa diverifikasi Seoul.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Korea Utara meluncurkan sekitar sepuluh rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Timur pada Kamis (20/8/2026). Peluncuran roket militer dari wilayah Pyongyang tersebut terdeteksi langsung oleh otoritas militer Korea Selatan serta Kementerian Pertahanan Jepang.

Aksi unjuk kekuatan militer dari Pyongyang ini terjadi pada Kamis pagi, hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (19/8/2026) menyatakan niatnya untuk kembali bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong Un pada tahun ini. Langkah provokatif tersebut juga bertepatan dengan pelaksanaan latihan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Korea Selatan yang sedang dikurangi skalanya.

1. Peluncuran sepuluh rudal balistik di Laut Timur

ilustrasi rudal balistik (pexels.com/Moslem Daneshzadeh)

Otoritas militer Korea Selatan mendeteksi pergerakan rentetan rudal balistik jarak pendek yang ditembakkan dari kawasan Pyongyang pada Kamis (20/8/2026). Seluruh proyektil tersebut terbang melintasi wilayah perairan sebelum jatuh di luar Zona Ekonomi Eksklusif Jepang. Kementerian Pertahanan Jepang mencatat bahwa proyektil militer itu menempuh jarak sekitar 320 kilometer dengan ketinggian maksimum mencapai 90 kilometer.

Dilansir The Japan Times, peta lintasan yang dirilis militer Jepang menunjukkan jalur penerbangan rudal tampak menyisuri garis pantai timur laut Korut. Pemerintah Korea Selatan langsung menggelar rapat Dewan Keamanan Nasional untuk menilai situasi keamanan pascapeluncuran tersebut. Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai kerusakan fasilitas kapal pelayaran maupun korban jiwa akibat aktivitas militer itu.

Pihak militer Korea Selatan menegaskan tetap mempertahankan kesiapsiagaan penuh pascarapat Dewan Keamanan Nasional (NSC). Koordinasi intensif terus dilakukan bersama pasukan sekutu Amerika Serikat untuk memantau potensi aktivitas militer susulan dari wilayah Pyongyang.

2. Pernyataan Donald Trump dan respons Kim Yo Jong

potret Kim Yo Jong (주식회사문화방송, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)

Peluncuran proyektil militer Korut ini terjadi hanya beberapa jam setelah Donald Trump menyampaikan keinginannya untuk menemui Kim Jong Un. Pemimpin Amerika Serikat tersebut mengaku memiliki hubungan personal yang sangat baik dengan pimpinan tertinggi Pyongyang. Trump bahkan memerintahkan pemangkasan skala latihan militer Ulchi Freedom Shield karena menilai latihan gabungan tersebut memberi sinyal yang tidak tepat.

"Latihan militer itu memberikan sinyal yang sama sekali tidak tepat dan bermusuhan," ujar Trump. Selain faktor hubungan pribadi dengan Kim, Trump juga menyinggung minimnya dukungan Korea Selatan dalam konflik AS di Iran sebagai alasan lain pemangkasan porsi latihan tersebut.

Namun, respons dingin disampaikan oleh adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, melalui media resmi pemerintah. Ia menyebut keputusan Trump memangkas latihan militer sebagai hal yang "tidak layak dikomentari" dan menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Pyongyang tetap bersifat bermusuhan.

Walaupun mengakui hubungan pribadi antara kakaknya dan Trump tetap baik, Kim Yo Jong mengaku tidak mengetahui adanya komunikasi baru antara kedua belah pihak. "Hubungan pribadi antara kedua pemimpin memang luar biasa, tetapi saya tidak mengetahui adanya komunikasi baru-baru ini," kata Kim Yo Jong.

Dilansir CBS News, manuver diplomasi Trump ini memicu perhatian dari para sekutu Amerika Serikat di kawasan Asia Timur. Pengurangan skala latihan militer gabungan di Semenanjung Korea tersebut disepakati untuk diakhiri lebih cepat dari jadwal semula. Pihak Pentagon menegaskan bahwa pemangkasan porsi latihan itu tidak mengurangi kesiapan tempur maupun tujuan pelatihan pasukan mereka.

3. Perbedaan estimasi jumlah hulu ledak nuklir Korut

ilustrasi senjata nuklir (unsplash.com/Stephen Cobb)

Di tengah eskalasi peluncuran rudal, perdebatan mengenai kapasitas persenjataan nuklir Pyongyang kembali mengemuka. Donald Trump sempat menyebutkan bahwa Korut saat ini diperkirakan memiliki sekitar 57 senjata nuklir yang sangat kuat. Pernyataan tersebut mengejutkan banyak pihak karena angka itu berbeda cukup jauh dari penilaian resmi lembaga pertahanan di Seoul.

Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu Baek memberikan klarifikasi terkait perbedaan estimasi tersebut. Ia menjelaskan di hadapan parlemen bahwa angka 80 hingga 120 hulu ledak nuklir berasal dari kajian berbagai organisasi riset independen, serta menegaskan bahwa estimasi tersebut belum dapat diverifikasi secara mandiri oleh militer Korea Selatan.

Ahn Gyu Baek menegaskan bahwa pemerintah Korea Selatan tetap menolak untuk mengakui Korut sebagai negara pemilik senjata nuklir secara resmi. Kendati demikian, Seoul berjanji akan terus memberikan dukungan terhadap upaya terciptanya perdamaian berkelanjutan di Semenanjung Korea. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyatakan komitmennya untuk memperkuat pertahanan mandiri sembari tetap membuka pintu diplomasi kawasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article