Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Krisis Kertas, Siswa Sekolah Palestina Terpaksa Mencatat di Kardus
potret siswa sekolah di Gaza, Palestina (flickr.com/GishaOrg via commons.wikimedia.org/GishaOrg)
  • Krisis kertas di Palestina membuat siswa terpaksa menulis pelajaran di kardus bekas karena harga buku tulis melonjak akibat minimnya pasokan.
  • Meskipun ujian sekolah dilakukan secara daring melalui situs E-School, siswa tetap membutuhkan kertas untuk mencatat materi karena keterbatasan perangkat digital.
  • Serangan Israel yang masih berlanjut memperburuk situasi belajar siswa Palestina, menyebabkan gangguan konsentrasi dan meningkatnya rasa waspada di tengah persiapan ujian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Selain krisis air, makanan, dan minuman, Palestina kini juga mengalami krisis kertas. Ini terjadi karena pasokan kertas di sana sangat kurang akibat serangan Israel. Imbasnya, siswa sekolah di Palestina terpaksa menulis materi pelajaran di kardus bekas.

Kurangnya pasokan kertas ini juga membuat harga buku tulis di Palestina melambung tinggi. Hal ini membuat orangtua di sana tidak bisa membelikan buku untuk anak-anaknya di sekolah. Padahal, buku catatan sangat penting untuk menunjang kegiatan belajar anak di sekolah.

1. Siswa sekolah SMA di Palestina jadi kesulitan menyiapkan ujian

ilustrasi ujian sekolah (pexels.com/This And No Internet 25)

Salah satu siswa yang merasakan dampak krisis kertas ini adalah Mohammed Salem. Siswa sekolah menengah atas (SMA) berusia 18 tahun itu mengatakan, dirinya kesulitan untuk mencatat materi sekolah karena tidak punya buku catatan. Ini karena pasokan kertas ke Palestina sangat minim. Padahal, ia butuh buku catatan untuk mencatat materi pelajaran agar bisa mempersiapkan ujian sekolah yang semakin dekat.

"Saya mengumpulkan kardus-kardus itu, memotongnya menjadi berbagai ukuran, dan menggunakannya seperti halaman (buku). Saya menulis pelajaran, ringkasan, dan soal latihan di atasnya. Karena ujian semakin dekat, saya perlu menulis setiap hari, tetapi menemukan kertas menjadi sangat sulit," kata Salem dilansir The New Arab, Jumat (19/6/2026). Salem menambahkan bahwa teman-temannya juga melakukan hal serupa agar bisa mencatat materi sekolah. 

2. Ujian sekolah di Palestina akan dilakukan secara daring

ilustrasi ujian daring (pexels.com/Kampus Production)

Sebetulnya, ujian sekolah di Palestina akan dilakukan secara daring. Kementerian Pendidikan Palestina menjelaskan, ujian daring itu akan dilakukan lewat situs bernama E-School. Lewat situs tersebut, semua siswa Palestina bisa mengakses soal ujian. Di sisi lain, guru-guru juga bisa langsung menerima hasil jawaban dari para siswa secara real time.

Kendati demikian, para siswa mengatakan bahwa mereka tetap membutuhkan kertas dan buku tulis. Sebab, meski ujian bakal dihelat secara daring, mereka tetap harus mencatat materi pelajaran lewat kertas atau buku tulis. Apalagi, mereka juga tidak punya gawai canggih untuk menyimpan semua materi pelajaran agar bisa dipelajari untuk menyiapkan ujian. 

3. Israel masih menyerang Palestina hingga saat ini

potret reruntuhan bangunan di Jalur Gaza, Palestina (unsplash.com/Emad El Byed)

Selain krisis kertas, para siswa di Palestina juga mengeluhkan sulitnya menyiapkan ujian di tengah serangan Israel. Mereka merasa tidak konsen saat belajar di sekolah karena selalu waspada akan serangan dari negara Yahudi tersebut. Sebab, hingga saat ini, agresi Israel di Palestina masih berlanjut. 

Serangan terbaru Israel ke Palestina terjadi pada Kamis (18/6/2026) kemarin. Kala itu, Israel menyerang Rimal, salah satu wilayah yang ada di Gaza bagian barat. Dilansir Al Jazeera, serangan itu menewaskan setidaknya tiga orang dan melukai beberapa orang lainnya. Namun, tidak disebut berapa jumlah pasti korban yang mengalami luka. 

Israel sendiri sebetulnya sudah menyepakati gencatan senjata fase pertama dengan Hamas sejak Oktober 2025. Dalam kesepakatan ini, Israel wajib menghentikan serangan ke Palestina. Kesepakatan gencatan senjata fase kedua juga sudah berlaku pada Januari lalu. Sayangnya, meski sudah ada gencatan senjata, Israel tetap menyerang Palestina. Mereka berdalih serangan dilakukan untuk membalas Hamas yang lebih dulu menyerang mereka.   

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article