Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cekcok Soal Utang, Eks Anggota Parlemen Thailand Tembak Mati Pejabat

Cekcok Soal Utang, Eks Anggota Parlemen Thailand Tembak Mati Pejabat
bendera Thailand. (pexels.com/Markus Winkler)
  • Mantan anggota parlemen lokal Chalong Riewrang ditahan setelah diduga menembak Ketua Organisasi Administrasi Provinsi Nonthaburi, Thongchai Yenprasert, menyusul perselisihan utang di kantor pemerintahan.
  • Thongchai meninggal akibat luka tembak di leher setelah dibawa ke rumah sakit; sopirnya turut terluka namun tidak kritis. Chalong mengaku sempat berdebat soal uang pinjaman.
  • Setelah dua penembakan dalam tiga hari, pemerintah Thailand memperketat aturan senjata dan menyiapkan protokol keselamatan sekolah, termasuk pemeriksaan mental, latihan darurat, serta deteksi senjata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times Seorang pejabat Thailand tewas ditembak di dalam kantor pemerintahan di Nonthaburi, wilayah yang berbatasan dengan Bangkok, pada Senin (10/8/2026). Polisi menyebut penembakan terjadi setelah korban dan pelaku terlibat perselisihan terkait uang pinjaman.

Pelaku yang ditahan polisi merupakan mantan anggota parlemen lokal bernama Chalong Riewrang. Dia diduga menembak Thongchai Yenprasert, Ketua Organisasi Administrasi Provinsi di Nonthaburi. Penembakan terjadi sekitar pukul 11.00 waktu setempat di kantor Thongchai.

Mengutip laporan The Straits Times, Thongchai mengalami luka tembak di leher dan sempat dilarikan ke Phra Nang Klao Hospital. Direktur rumah sakit, Sakol Sookprome, mengatakan bahwa nyawa pejabat tersebut tidak tertolong. Thongchai meninggal akibat luka yang dideritanya.

Penembakan pejabat Thailand itu terjadi hanya tiga hari setelah aksi penembakan di sebuah sekolah di wilayah yang sama. Insiden pada Jumat lalu menewaskan sembilan orang, termasuk pelaku, dan melukai lebih dari 20 orang lainnya. Peristiwa itu menjadi penembakan massal paling mematikan di Negara Gajah Putih dalam hampir empat tahun.

  1. 1. Polisi sebut motif penembakan karena alasan pribadi

    ilustrasi penembakan (unsplash.com/Max Kleinen)
    ilustrasi penembakan (unsplash.com/Max Kleinen)

    Polisi mengatakan bahwa penembakan terhadap Thongchai bermotif pribadi. Letnan Jenderal Polisi Wattana Yijin menyebut perselisihan antara pelaku dan korban berkaitan dengan persoalan uang. Menurut kepolisian, sopir Thongchai juga terluka dalam penembakan tersebut. Dia tertembak di bagian lengan dan tangan, meski kondisinya tidak kritis.

    Chalong mengatakan bahwa dirinya sempat berdebat dengan Thongchai mengenai uang yang pernah dipinjamkannya. Dia kemudian mengikuti pejabat itu hingga ke mobil sebelum mengeluarkan senjata api. Chalong mengaku tidak berniat menembak Thongchai. Namun, sopir korban yang juga mengeluarkan senjata dan mengarahkannya kepadanya membuatnya melepaskan tembakan.

    Dilansir ABC News, Chalong sebelumnya merupakan anggota partai yang dipimpin oleh Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul. Pemimpin Negara Gajah Putih itu mengatakan bahwa proses hukum terhadap Chalong akan dilakukan tanpa pengecualian.

  2. 2. Anutin desak penegakan hukum terkait aturan senjata

    Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul.
    Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul. (Presidential Communications Office, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Merespons dua insiden penembakan yang terjadi dalam tiga hari tersebut, Anutin memerintahkan pengetatan penegakan aturan terkait kepemilikan dan penggunaan senjata api di ruang publik. Polisi akan mendirikan pos pemeriksaan sebagai bagian dari langkah penertiban.

    Pemerintah juga akan memperketat pengawasan terhadap kepemilikan, pembawaan, dan penggunaan senjata api. Anutin mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak membawa senjata api, terutama di tempat umum. Dia menambahkan bahwa alasan membawa senjata untuk membela diri tidak dapat dijadikan pembenaran untuk membawa senjata api di tempat umum.

    Thailand diperkirakan memiliki sekitar 10,3 juta senjata api yang berada di tangan warga sipil. Angka tersebut setara dengan sekitar 15 senjata untuk setiap 100 penduduk dan menjadi tingkat kepemilikan senjata sipil tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan perkiraan Small Arms Survey pada 2017.

    Mengutip The Straits Times, sistem perizinan senjata di Thailand saat ini juga tidak mewajibkan pemeriksaan kesehatan mental bagi pemohon. Kepemilikan senjata diperbolehkan bagi warga yang telah berusia 20 tahun dan pemegang izin tidak diwajibkan menjalani pemeriksaan ulang secara berkala.

  3. 3. Thailand siapkan protokol keselamatan baru di sekolah

    ilustrasi pistol (unsplash.com/Tom Def)
    ilustrasi pistol (unsplash.com/Tom Def)

    Pemerintah Thailand juga menyiapkan protokol keselamatan baru di sekolah dalam tiga bulan ke depan usai insiden penembakan pada 7 Agustus lalu. Protokol tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan mental, latihan tanggap darurat, langkah untuk menangani perundungan, serta peningkatan kemampuan mendeteksi senjata dan barang terlarang.

    Pada Senin, para peserta didik dilaporkan telah kembali memulai aktivitas belajar-mengajar di sekolah. Sejumlah sekolah menerapkan pemeriksaan menggunakan detektor logam dan pemeriksaan keamanan lainnya.

    Di Debsirin School di Bangkok, yang merupakan sekolah saudara dari sekolah tempat penembakan 7 Agustus terjadi, pihak berwenang memasang detektor logam dan meningkatkan pengamanan ketika siswa kembali mengikuti kegiatan belajar. Kepala sekolah Withan Promsintusak mengatakan pemeriksaan bertujuan memberikan rasa aman kepada orang tua sekaligus melindungi para siswa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More