Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Trump Pangkas Separuh Latihan Militer Gabungan AS-Korsel?
Pasukan Korea Selatan (Korsel). (U.S. Army photo by Pfc. Seu Chan, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • AS dan Korea Selatan memangkas latihan Ulchi Freedom Shield: tahap serangan balasan ke Pyongyang dibatalkan, latihan berakhir 21 Agustus 2026, dan sebagian latihan lapangan dikurangi.
  • Pentagon mengonfirmasi pengurangan signifikan setelah Trump mengaitkannya dengan penolakan Seoul bergabung dalam perang AS melawan Iran serta hubungannya dengan Kim Jong Un.
  • Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mendorong kendali militer independen dan kapal selam nuklir, sementara Trump meminta persiapan pertemuan baru dengan Kim Jong Un.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times Militer Korea Selatan (Korsel) mengatakan bahwa AS meminta agar latihan militer gabungan kedua negara yang dimulai pada Senin dipangkas. Latihan gabungan Ulchi Freedom Shield (UFS) yang semula dijadwalkan berlangsung hingga pekan depan kini akan berakhir pada Jumat (21/8/2026), atau enam hari lebih cepat dari rencana awal.

Latihan gabungan awalnya akan dilaksanakan dalam dua tahap, di mana tahap pertama berlangsung hingga Jumat dengan fokus pada operasi pertahanan dalam simulasi menghadapi serangan Korea Utara (Korut). Sementara itu, tahap kedua yang berfokus pada simulasi serangan balasan terhadap Pyongyang akan dibatalkan sepenuhnya sehingga latihan tersebut berakhir lebih cepat.

Selain itu, latihan lapangan gabungan yang melibatkan simulasi secara langsung di luar ruangan juga akan dikurangi sebagian. Kedua militer masih membahas rincian mengenai bentuk dan skala pengurangan tersebut, dikutip dari The Guardian.

Kehadiran militer AS di Korsel bermula sejak Perang Korea, yang berakhir dengan gencatan senjata pada 1953. Negeri Ginseng tersebut kini menjadi lokasi Camp Humphreys, pangkalan militer terbesar Negeri Paman Sam di luar wilayah AS. Kedua negara menjalin kerja sama erat dalam pelatihan dan operasi, termasuk melalui latihan tahunan berskala besar seperti yang berlangsung pekan ini.

1. AS kurangi latihan gabungan dengan Korsel secara signifikan

Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pentagon mengonfirmasi bahwa AS secara signifikan mengurangi latihan militer bersama Korsel. Trump sebelumnya menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan penolakan Seoul untuk bergabung dalam perang AS melawan Iran.

Mengutip BBC, pengurangan latihan tersebut dinilai dapat mengguncang keyakinan Korsel terhadap komitmen pertahanan AS. Pasalnya, pakta pertahanan kedua negara selama ini menjadi salah satu fondasi utama hubungan Washington dan Seoul.

Pada Minggu, Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap keterlibatan AS dalam latihan militer bersama Korsel. Dia mengaitkan sikap tersebut dengan hubungan yang sangat baik dengan Pemimpin Korut, Kim Jong Un. Trump juga menggambarkan latihan gabungan sebagai kegiatan yang mahal dan bersifat bermusuhan terhadap Pyongyang.

2. Korsel dorong kendali militer yang lebih independen

Bendera Korea Selatan (Korsel) (pexels.com/byunghyun lee)

Presiden Korsel, Lee Jae-myung, kembali mendorong upaya mendapatkan kendali independen atas militernya ketika terjadi perang. Dorongan tersebut muncul sebagai respons terhadap perintah Trump untuk mengurangi latihan gabungan AS-Korsel, dilansir The Guardian.

Lee juga menyerukan percepatan pembangunan dan pengadaan kapal selam bertenaga nuklir untuk memperkuat kemampuan pertahanan Korsel. Meski demikian, Lee berharap hubungan yang baik antara Trump dan Kim dapat membuka jalan bagi dialog yang bermakna demi mendorong perdamaian di Semenanjung Korea.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari kelompok konservatif Korsel. Mereka menilai pemerintah Lee terlalu memprioritaskan kembalinya diplomasi Trump-Kim dibandingkan dengan kekhawatiran keamanan yang muncul akibat pengurangan latihan militer.

3. Trump dorong agenda pertemuan dengan Kim Jong Un

Presiden AS, Donald Trump (kiri), dan Pemimpin Korut, Kim Jong Un (kanan), bertemu di zona demiliterisasi Korut-Korsel. (Callista Gingrich, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pemangkasan latihan militer AS-Korsel terjadi ketika Trump disebut kembali mendorong upaya pertemuan dengan Kim. Para pejabat Washington mengatakan Trump telah meminta para stafnya untuk mempersiapkan pertemuan dengan pemimpin Korut tersebut.

Dilansir Euronews, Trump mengklaim Kim telah merespons tawaran dialog yang disampaikannya. Namun, pemimpin AS itu tidak menjelaskan secara rinci bentuk respons maupun kemungkinan waktu pertemuan tersebut.

Trump dan Kim bertemu sebanyak tiga kali selama masa jabatan pertama Trump. Salah satu pertemuan terjadi pada 2019 ketika Trump sempat melintasi perbatasan dan memasuki wilayah Korut melalui zona demiliterisasi. Namun, diplomasi itu terhenti akibat tuntutan Pyongyang untuk mendapatkan keringanan sanksi dalam jumlah besar sebagai imbalan atas denuklirisasi yang terbatas.

Wakil presiden lembaga think tank yang berbasis di Seoul, Sejong Institute, mengatakan bahwa Trump bisa melangkah lebih jauh jika perundingan dengan Kim dilanjutkan. Pemimpin Negeri Paman Sam itu kemungkinan menghentikan total latihan gabungan atau mengurangi jumlah pasukan AS tanpa berkonsultasi dengan Korsel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article