“Latihan-latihan ini tidak hanya memakan biaya besar yang sebagian besarnya ditanggung oleh Amerika Serikat (seperti biasa!), tetapi juga mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan kepada sebuah negara yang, selama masa kepemimpinan Donald J. Trump, tidak menunjukkan sikap mengancam dan justru bersikap penuh hormat. Berdasarkan fakta bahwa sudah terlambat untuk membatalkannya, saya telah menginstruksikan Menteri Perang, Pete Hegseth, untuk mengurangi secara substansial latihan militer gabungan tersebut!" tulis Trump di Truth Social.
Tolak Bantu Perangi Iran, AS Kurangi Latihan Militer dengan Korsel

- Presiden Donald Trump menginstruksikan Pentagon mengurangi substansial latihan militer gabungan AS-Korea Selatan, dengan alasan biaya besar yang diklaim mayoritas ditanggung Washington.
- Keputusan itu diduga terkait penolakan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung bergabung dalam upaya AS untuk denuklirisasi Iran, demi menghindari eskalasi konflik Timur Tengah.
- Latihan gabungan 17–27 Agustus yang melibatkan sedikitnya 18 ribu personel Korea Selatan terancam batal; Seoul telah bersiap tetapi belum merespons pernyataan Trump.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan mengurangi latihan militer gabungan bersama Korea Selatan (Korsel) seperti yang sudah sering dilakukan kedua negara setiap tahun. Pengumuman itu disampaikan oleh Presiden AS, Donald Trump, pada Minggu (16/8/2026). Trump mengatakan dirinya sudah menyampaikan hal tersebut ke Kementerian Pertahanan AS (Pentagon).
1. Trump mengurangi latihan militer diduga karena Korsel menolak membantu AS perangi Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang diwawancara oleh pembawa acara NBC News, Tom Llamas, di Ruang Oval, Gedung Putih, pada 4 Februari 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House) Keputusan AS untuk mengurangi latihan militer gabungan bersama Korsel ini diduga karena Seoul menolak membantu Washington memerangi Iran. Dugaan ini lantas diperkuat oleh pernyataan Trump dalam unggahan di Truth Social-nya.
“Meskipun agak tidak terkait, baru-baru ini saya bertanya kepada Presiden Korea Selatan (Lee Jae-myung), apakah mereka ingin bergabung dengan kami dalam (upaya) denuklirisasi Republik Islam Iran. Mereka lantas berkata, ‘Tidak, terima kasih! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini',” lanjut Trump.
Beberapa waktu lalu, Trump sempat mengajak Jae-myung agar Korsel bergabung dengan AS untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir. Namun, Jae-myung menolak karena tidak ingin membuat konflik semakin panas. Ia juga tidak ingin negaranya terlibat dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
2. Trump ingin menghormati Korea Utara

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menggelar pertemuan dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un, di acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-Korut di Singapura pada Juni 2018. (commons.wikimedia.org/ Executive Office of the President of the United States) Namun, dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa keputusan ini dilakukan karena biaya latihan militer gabungan bersama Korsel terlalu mahal. Apalagi, Trump mengklaim bahwa semua biaya latihan ditanggung negaranya. Selain itu, Trump juga ingin menghormati Korea Utara (Korut) sebagai negara tetangga Korsel.
Setiap kali AS menghelat latihan militer gabungan dengan Korsel, Korut kerap kali merasa geram. Sebab, negara yang dipimpin Kim Jong Un itu menganggap latihan tersebut sebagai ancaman. Merespons latihan tersebut, Korut kerap membalas dengan menggelar latihan militer mandiri sambil meluncurkan rudal-rudal ke dekat wilayah Korsel.
Trump menjelaskan, ia tidak mau Korut merasa terganggu dan terancam karena latihan militer AS dan Korsel. Sebab, selama ini, Trump merasa Korut sudah menghormati AS. Mereka tidak pernah mengancam, menghina, apalagi sengaja membuat konflik dengan Negeri Paman Sam.
3. Latihan militer gabungan AS dan Korsel pada Agustus ini terancam

ilustrasi latihan militer (pexels.com/Mick Latter) AS dan Korsel sendiri sebetulnya sudah dijadwalkan untuk menggelar latihan militer gabungan selama sekitar 10 hari, yakni pada 17–27 Agustus ini. Latihan itu dikabarkan akan diikuti oleh setidaknya 18 ribu pasukan militer Korsel. Namun, latihan tersebut kini terancam batal usai Trump memutuskan untuk mengurangi latihan militer dengan Seoul.
Menurut laporan Reuters, pasukan militer Korsel saat ini sudah bersiap penuh untuk menggelar latihan militer gabungan dengan AS. Namun, Negeri Ginseng belum memberikan respons soal pernyataan Trump yang ingin mengurangi latihan militer gabungan bersama mereka.




















