Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pangkas Latihan Militer AS-Korsel Jadi Cara Trump Dekati Kim Jong Un

Pangkas Latihan Militer AS-Korsel Jadi Cara Trump Dekati Kim Jong Un
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menggelar pertemuan dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un, di acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-Korut di Singapura pada Juni 2018. (commons.wikimedia.org/ Executive Office of the President of the United States)
  • Latihan Ulchi Freedom Shield AS-Korea Selatan dipangkas menjadi 17-21 Agustus 2026 atas perintah Donald Trump, sehingga tahap serangan balik yang dijadwalkan 24-27 Agustus dibatalkan.
  • Trump menyebut latihan itu tidak pantas dan bermusuhan terhadap Korea Utara, mengaitkannya dengan upaya menjaga hubungan baik serta komunikasi positif dengan Kim Jong Un.
  • Pyongyang tetap menyebut UFS ancaman terbuka, sementara pemangkasan latihan dinilai dapat membuka ruang dialog AS-Korea Utara; AS masih menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Latihan perang tahunan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan, Ulchi Freedom Shield (UFS), akan berakhir hampir sepekan lebih cepat dari jadwal. Keputusan itu diambil setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan latihan tersebut dipangkas.

Militer Korea Selatan pada Rabu (19/8/2026) menyatakan latihan UFS yang semula dijadwalkan berlangsung hingga 27 Agustus 2026 akan berakhir pada 21 Agustus.

“Kami telah memutuskan untuk menyesuaikan periode latihan UFS menjadi 17 hingga 21 Agustus,” kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP.

Menurut militer Korea Selatan, keputusan tersebut dibuat atas usulan pihak AS. Pentagon mengatakan, latihan yang dikurangi secara signifikan itu tetap akan mempertahankan kesiapan penting dan tidak mengurangi tujuan pelatihan AS.

  1. 1. Trump sebut latihan AS-Korsel tak tepat

    Donald Trump
    Donald Trump (Matt Johnson from Omaha, Nebraska, United States, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Trump sebelumnya memerintahkan Pentagon memangkas latihan tersebut sehari sebelum UFS dimulai. Dia mengatakan, latihan militer AS-Korsel sebagai kegiatan yang tidak pantas dan bermusuhan.

    Trump juga mengaitkan keputusan tersebut dengan hubungannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dia bahkan memuji Kim dan menyatakan ingin mempertahankan hubungan yang baik dengan pemimpin negara bersenjata nuklir tersebut.

    Dalam pernyataan awalnya di Truth Social, Trump menyebut latihan itu tidak bersahabat terhadap Korea Utara yang menurut dia telah menunjukkan sikap hormat kepadanya.

    Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, mengatakan kepada anggota parlemen, Seoul tidak mengetahui sebelumnya mengenai rencana Trump untuk memangkas latihan tersebut.

    “Baik pemerintah kami maupun pejabat Pemerintah AS tidak mengetahui sebelumnya apa yang diungkapkan Presiden Trump melalui Truth Social,” kata Cho.

    Latihan UFS dirancang untuk mempersiapkan pasukan AS dan Korea Selatan menghadapi kemungkinan serangan Korea Utara. Latihan tahun ini semula terdiri atas dua tahap, yakni pertahanan menghadapi potensi ancaman Korea Utara hingga Jumat, kemudian latihan serangan balik pada 24-27 Agustus.

    Dengan keputusan terbaru, tahap kedua latihan tersebut dipahami telah dibatalkan.

  2. 2. Korea Utara sebut latihan ancaman terbuka

    Kim Jong-un
    Kim Jong-un (https://commons.wikimedia.org/The Presidential Press and Information Office)

    Korea Utara telah lama mengecam latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan. Pyongyang menganggap latihan tersebut sebagai simulasi untuk mempersiapkan invasi ke wilayahnya.

    Media pemerintah Korea Utara pada Rabu menyebut latihan UFS sebagai ancaman paling langsung dan terbuka terhadap Korea Utara serta keamanan kawasan. Namun, pernyataan tersebut tidak menyinggung keputusan Trump untuk memangkas latihan.

    Media pemerintah Korea Utara juga tidak menyebut keinginan Trump untuk kembali membuka dialog dengan Kim Jong Un. Sikap tersebut dinilai sebagai langkah yang disengaja oleh sejumlah pengamat.

    Peneliti senior di Korea Institute for National Unification, Hong Min, mengatakan, Pyongyang seolah sengaja mengabaikan pernyataan Trump.

    “Korea Utara tetap berpegang pada prinsip-prinsip umum seolah-olah sama sekali tidak mengetahui komentar Trump,” kata Hong kepada AFP.

    Menurut dia, menunjukkan Pyongyang memahami komentar Trump dapat mengisyaratkan adanya tingkat pemahaman bersama antara kedua pihak. Sebaliknya, dengan berpura-pura tidak mengetahui, isu tersebut dapat dijadikan salah satu poin tawar dalam pembicaraan mendatang dengan Washington.

    Trump sebelumnya mengatakan, Kim telah merespons upayanya untuk membuka komunikasi. Namun, dia tidak menjelaskan secara rinci bentuk komunikasi tersebut.

    “Ya, dia merespons,” kata Trump pada Senin ketika ditanya apakah Kim telah menanggapi permintaannya untuk berbicara.

    Trump menyebut komunikasi tersebut berlangsung sangat positif, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

  3. 3. Pemangkasan latihan militer kembali buka peluang dialog Trump-Kim

    Presiden Donald J. Trump menyalami Kim Jong Un, Pemimpin Partai Buruh Korea, pada Minggu, 30 Juni 2019, ketika keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea. (Foto resmi dari Gedung Putih, diambil oleh Shealah Craighead)
    Presiden Donald J. Trump menyalami Kim Jong Un, Pemimpin Partai Buruh Korea, pada Minggu, 30 Juni 2019, ketika keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea. (Foto resmi dari Gedung Putih, diambil oleh Shealah Craighead, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Pemangkasan UFS dinilai dapat membuka ruang bagi dimulainya kembali dialog antara Washington dan Pyongyang. Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu tiga kali ketika Trump menjabat sebagai Presiden AS periode pertama, tetapi keduanya belum melakukan pertemuan pada masa jabatan Trump saat ini.

    “Pengurangan latihan dapat memberikan dampak positif terhadap kemungkinan dialog AS-Korea Utara,” kata Park Won Gon, profesor di Ewha Womans University.

    Menurut Park, penghentian latihan militer gabungan selama ini menjadi salah satu prasyarat yang selalu disampaikan Korea Utara untuk membuka dialog dengan AS.

    Spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan kembali Trump dan Kim juga semakin menguat. Yang Moo Jin, mantan Presiden University of North Korean Studies, mengatakan Washington berpotensi mencari momentum untuk kembali berdialog dengan Pyongyang menjelang pemilu sela AS pada November.

    “Bagi Trump, pertemuan dengan Kim Jong Un dapat menjadi peluang untuk mengamankan warisan kebijakan luar negerinya,” kata Yang.

    Sementara itu, Wall Street Journal sebelumnya melaporkan, mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, Trump mendorong para pembantunya untuk mengatur pertemuan dengan Kim sesegera mungkin pada musim gugur tahun ini.

    Di sisi lain, AS masih menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara tersebut. Kehadiran pasukan AS merupakan warisan dari Perang Korea 1950-1953 yang berakhir melalui gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

    Trump sendiri berulang kali mengkritik aliansi AS yang telah berlangsung lama. Sikap tersebut menimbulkan kekhawatiran di antara sejumlah mitra Washington di Asia Timur terkait komitmen AS terhadap keamanan kawasan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More