Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ledakan Granat di Sekolah Afghanistan Melukai Puluhan Siswa Hazara
ilustrasi bendera Afghanistan (unsplash.com/Farid Ershad)
  • Ledakan di pelataran sekolah swasta Sham-e-Hedayat, Dasht-e-Barchi, Kabul Barat, pada 17 Agustus 2026 melukai sedikitnya 42 hingga 52 orang, mayoritas siswa yang hendak pulang.
  • Rumah sakit menerima sedikitnya 35 pasien anak berusia 10–14 tahun; UNAMA mengonfirmasi 42 anak usia 9–14 tahun terluka, dengan setidaknya tiga memerlukan operasi.
  • Penyebab ledakan masih diselidiki polisi Kabul, dengan indikasi granat tangan; PBB, UNICEF, Uni Eropa, dan pihak lain mendesak penyelidikan independen serta perlindungan sekolah dari kekerasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Suasana tenang di area pemukiman Dasht-e-Barchi, Kabul Barat, mendadak mencekam setelah sebuah ledakan geger melanda pelataran sekolah swasta Sham-e-Hedayat pada Senin (17/8/2026) sore. Peristiwa tragis yang terjadi sekitar pukul 16.30 waktu setempat ini mengakibatkan sedikitnya 42 hingga 52 orang mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban merupakan anak-anak sekolah yang sedang bersiap untuk pulang ke rumah.

Penyebab pasti ledakan masih dalam penyelidikan. Kepolisian setempat dan lembaga terkait mengindikasikan ledakan granat tangan, sementara pihak UNAMA menyebut terdapat laporan yang belum terkonfirmasi mengenai apakah insiden tersebut merupakan serangan sengaja atau pemicuan peledak sisa perang. Peristiwa ini langsung memicu keprihatinan internasional, terutama karena wilayah sasaran tersebut dihuni oleh komunitas minoritas Hazara yang kerap menjadi target kekerasan kelompok ekstremis.

1. Mayoritas korban luka merupakan anak-anak usia sekolah

anak perempuan Afghanistan sedang belajar (Davric, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Para korban yang terdampak insiden memilukan ini segera dilarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat di wilayah Kabul guna mendapatkan perawatan medis darurat. Pihak Emergency Hospital di Kabul melaporkan bahwa pihaknya menerima sedikitnya 35 pasien anak-anak berusia antara 10 hingga 14 tahun yang menderita luka parah. Dari keseluruhan pasien anak tersebut, setidaknya tiga di antaranya membutuhkan tindakan operasi bedah akibat cedera fisik yang sangat serius.

Sementara itu, dilansir Kabul Now, Misi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afghanistan (UNAMA) mengonfirmasi bahwa terdapat setidaknya 42 anak berusia 9 hingga 14 tahun yang menjadi korban luka. UNAMA menyampaikan rasa simpati yang mendalam kepada para korban beserta keluarga mereka yang terkena dampak peristiwa memilukan ini. Lembaga internasional tersebut menegaskan bahwa kawasan pendidikan wajib steril dari segala bentuk aksi kekerasan demi keselamatan peserta didik.

2. PBB dan komunitas internasional desak penyelidikan tuntas

ilustrasi bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (Makaristos, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Gelombang kecaman atas aksi tak berperikemanusiaan ini terus mengalir deras dari berbagai pihak serta badan internasional. Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Afghanistan, Richard Bennett, secara tegas mengecam insiden tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang sangat keji. Ia mendesak agar penyelidikan independen segera dilangsungkan demi menyeret para pelaku ke meja hijau serta mengusut tuntas motif serangan.

"Sekolah dan pusat pendidikan harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak," tegas UNAMA dalam keterangan resminya. UNICEF juga menyuarakan hal serupa dengan menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh dijadikan target maupun dihadapkan pada ancaman kekerasan. Desakan untuk mengusut tuntas peristiwa ini turut disuarakan oleh Uni Eropa, kelompok oposisi bersenjata, serta mantan politisi Afghanistan.

3. Reaksi kepolisian dan ancaman serangan ISIS-K

ilustrasi polisi (pexels.com/Kindel Media)

Kepolisian Kabul melalui juru bicaranya, Khalid Zadran, mengonfirmasi bahwa penyelidikan resmi saat ini tengah berjalan untuk membedah latar belakang peristiwa tersebut. Pihak otoritas keamanan setempat sejauh ini belum mengumumkan identitas pelaku maupun kelompok yang berada di balik serangan itu. Saksi mata di sekitar lokasi kejadian mengaku sangat terkejut saat mendengar suara ledakan keras yang disusul kepanikan luar biasa dari para siswa.

Seperti dilansir Times of India, kawasan Dasht-e-Barchi yang padat penduduk selama ini dikenal sebagai pemukiman mayoritas warga etnis Hazara. Kelompok ekstremis ISIS Khorasan atau ISIS-K tercatat berulang kali melancarkan serangan mematikan yang menyasar fasilitas umum di wilayah tersebut. Meski belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan granat ini, rekam jejak terorisme di area tersebut terus memicu ketakutan mendalam bagi warga sipil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article