Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Maroko Latih 500 Personel untuk Pasukan Stabilisasi di Gaza

4 min read
Maroko Latih 500 Personel untuk Pasukan Stabilisasi di Gaza
tentara Maroko saat latihan militer (USAFRICOM from Stuttgart, Germany, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Maroko melatih 500 personel untuk Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza, menjadi negara Arab pertama yang terbuka berkomitmen mengirim pasukan serta menyiapkan personel keamanan dan rumah sakit lapangan.
  • Penempatan pasukan Maroko dan Kosovo terhambat karena Israel memblokir pembangunan pangkalan ISF dekat Garis Kuning Gaza, termasuk akses kontraktor dan peralatan konstruksi ke wilayah tersebut.
  • Rencana ISF untuk mengamankan Gaza pascapenarikan Israel masih buntu; Hamas mengaitkan pelucutan senjata dengan penarikan Israel, sementara militer Israel masih menduduki hampir 70 persen Gaza.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sebanyak 500 personel keamanan Maroko telah menjalani pelatihan untuk bergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Jalur Gaza. Seorang pejabat Dewan Perdamaian (Board of Peace) mengungkapkan kesiapan pengerahan pasukan multinasional itu pada Senin (19/10/2026) kepada The Times of Israel. Pelatihan ini tetap berjalan meski implementasi rencana perdamaian Gaza yang didukung Amerika Serikat (AS) mengalami penundaan.

Program pelatihan yang dipimpin AS tersebut berlangsung di Maroko sejak akhir Agustus lalu. Tahap awal pelatihan diikuti oleh kelompok perwira dan instruktur, kemudian dilanjutkan oleh kontingen personel yang lebih luas. Namun, pejabat terkait belum dapat memastikan apakah seluruh rangkaian pelatihan itu telah rampung sepenuhnya.

  1. 1. Maroko jadi negara Arab pertama yang berkomitmen kirim pasukan

    bendera Maroko
    bendera Maroko (unsplash.com/Afker Moiz)

    Maroko telah menyatakan komitmen untuk mengirim personel militer dan kepolisian ke Gaza pascaperang sejak Februari lalu. Langkah tersebut menjadikan Maroko sebagai negara Arab pertama yang mengumumkan kontribusi pasukan ke Gaza kepada publik. Selain Maroko, tiga negara lain yakni Albania, Kazakhstan, dan Kosovo juga sepakat menyumbangkan personel untuk misi tersebut.

    Melansir Morocco World News, pemerintah Maroko telah menandatangani perjanjian partisipasi dalam ISF pada Juli lalu. Kesepakatan itu mengatur kerangka hukum terkait aspek teknis dan operasional keterlibatan personel mereka di lapangan. Maroko dijadwalkan menjadi negara pertama dari jajaran kontributor tersebut yang menerjunkan pasukannya ke Gaza.

    Kontribusi Maroko mencakup pengiriman perwira senior angkatan bersenjata ke Komando Gabungan ISF. Mereka juga mengerahkan personel Gendarmerie Kerajaan, aparat Direktorat Jenderal Keamanan Nasional (DGSN), serta mendirikan rumah sakit lapangan militer. Pemerintah di Rabat menegaskan langkah ini didasari pengalaman panjang mereka dalam operasi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

  2. 2. Israel hambat pembangunan pangkalan pasukan di Gaza

    ilustrasi bendera Israel
    ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)

    Di sisi lain, rencana penempatan personel dari Maroko dan Kosovo masih terhambat di lapangan. Israel memblokir rencana Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump untuk membangun pangkalan militer ISF di dekat area Garis Kuning Gaza. Padahal, Dewan Perdamaian telah memberikan kontrak konstruksi pertama kepada perusahaan asal AS, Arkel International, sejak Agustus lalu.

    Perusahaan tersebut bertugas membangun pos terdepan berbenteng seluas 10 ribu meter persegi untuk menampung 150 personel dari total 500 pasukan Maroko dan Kosovo. Namun, setelah dua bulan berlalu, otoritas Israel masih menolak mengizinkan kontraktor serta peralatan konstruksi masuk ke Gaza.

    "Tidak ada keamanan dan tidak ada pengiriman peralatan konstruksi," kata seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut, dilansir The Guardian.

    Keputusan pengiriman pasukan ini juga memicu kontroversi di dalam negeri Maroko dan Kosovo. Kelompok masyarakat sipil dan akademisi di kedua negara mengecam pengerahan itu karena dinilai membantu Israel menduduki tanah Palestina.

  3. 3. Rencana perdamaian di Gaza masih buntu

    Berdasarkan rencana Dewan Perdamaian pada Oktober 2025, ISF bertugas mengamankan wilayah Gaza setelah penarikan pasukan Israel. Pasukan multinasional berpayung mandat PBB ini juga akan melatih unit kepolisian baru Palestina serta mendukung distribusi bantuan kemanusiaan. Rencana tersebut mengharuskan Hamas turun dari pemerintahan dan melucuti senjata seiring penarikan bertahap militer Israel.

    Hamas menyatakan siap menyerahkan kekuasaan di Gaza kepada otoritas sementara dan melucuti senjata sesuai kesepakatan gencatan senjata. Namun, kelompok itu menegaskan implementasi kesepakatan bergantung pada kepatuhan Israel untuk menghentikan serangan dan menarik pasukannya. Hingga kini, militer Israel masih menolak keluar dan menduduki hampir 70 persen wilayah Gaza.

    Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan kembali pada Senin bahwa pihaknya tidak akan mengizinkan rekonstruksi Gaza sebelum Hamas dilucuti dan wilayah itu didemiliterisasi.

    "Anda bahkan tidak bisa mulai memasang utilitas. Anda tidak bisa mulai membangun fasilitas penunjang kehidupan dasar karena tanpa ISF, Anda tidak bisa masuk," ujar seorang sumber yang memahami proyek konstruksi di Gaza.

    Meski memblokir pangkalan ISF, pemerintah Israel memberikan pengecualian untuk proyek kompleks hunian warga Palestina yang didukung Uni Emirat Arab di wilayah Gaza selatan yang dikuasai Israel. Sementara itu, serangan harian Israel sejak gencatan senjata diumumkan telah menewaskan lebih dari 1.488 warga Palestina. Secara keseluruhan, operasi militer Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 74 ribu warga Palestina.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More