vandalisme sebuah mobil di Tepi Barat oleh pemukim Israel (איאד חדאד, בצלם, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Seruan yang digulirkan Smotrich dinilai pakar hukum bukan sekadar retorika menjelang pemilu legislatif pada 27 Oktober. Penggusuran paksa warga dan penghancuran kamp pengungsi dinilai mencerminkan pola serangan yang sudah berjalan sistematis di lapangan.
"Smotrich bukan hanya mengusulkan perang terhadap warga Palestina di Tepi Barat, dia sudah melancarkannya. Seruannya untuk mengulangi tindakan di Gaza adalah deklarasi terbuka atas niat melakukan kejahatan perang dan genosida," ujar Direktur Hukum Pusat Hukum Hak Minoritas Arab di Israel (Adalah) Suhad Bishara, dilansir Al Jazeera.
Analis International Crisis Group Mairav Zonszein turut menegaskan bahwa faksi sayap kanan Israel sengaja mendanai kelompok pemukim untuk memperluas pendudukan. Langkah ekspansi permukiman dan intimidasi warga Palestina dirancang guna memicu reaksi balasan yang dijadikan dalih perebutan wilayah baru.
Ketegangan di Tepi Barat terus memburuk seiring lonjakan kekerasan pemukim yang kerap dipersenjatai aparat keamanan. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mencatat lebih dari 1.330 serangan pemukim terhadap warga Palestina sejak Januari hingga akhir Juli 2026, dengan rata-rata enam insiden per hari.
Situasi kian genting setelah militer Israel memberlakukan penutupan perbatasan penuh di Tepi Barat selama sepekan perayaan Sukkot. Pada saat bersamaan, ratusan pemukim Yahudi memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa dengan pengawalan ketat polisi dan memicu amarah warga Palestina di Yerusalem Timur.