ilustrasi AC (magnific.com/freepik)
Meski penggunaan AC masih rendah, perubahan mulai terlihat di berbagai negara Eropa. Gelombang panas yang semakin ekstrem membuat banyak masyarakat mulai mempertimbangkan AC sebagai kebutuhan, bukan lagi barang mewah. Bahkan perusahaan penyedia layanan pendingin ruangan di Inggris mengaku permintaan pemasangan AC rumah meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan AC bukan solusi tanpa risiko. Radhika Khosla, Associate Professor di Smith School of Enterprise and the Environment, University of Oxford, menjelaskan bahwa penggunaan AC yang masih bergantung pada listrik dari bahan bakar fosil dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan siklus yang membuat suhu bumi semakin panas sehingga kebutuhan AC pun terus meningkat. Karena itu, para pakar menilai peningkatan penggunaan pendingin ruangan harus dibarengi dengan teknologi yang lebih hemat energi dan regulasi yang lebih ketat agar dampaknya terhadap lingkungan bisa ditekan.
Gelombang panas yang semakin brutal membuat Eropa menghadapi tantangan baru yang sebelumnya gak pernah menjadi perhatian utama. Meski AC mulai semakin dibutuhkan, banyak faktor seperti biaya, desain bangunan, regulasi, hingga komitmen terhadap pengurangan emisi membuat penggunaannya masih jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat.
Ke depannya, kebutuhan akan sistem pendingin kemungkinan terus meningkat seiring perubahan iklim yang semakin nyata. Tantangan terbesar bagi negara-negara Eropa adalah menemukan solusi yang mampu menjaga masyarakat tetap nyaman tanpa mengorbankan target perlindungan lingkungan dalam jangka panjang.