Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Gelombang Panas di Eropa Mungkin Terjadi di Indonesia?

Apakah Gelombang Panas di Eropa Mungkin Terjadi di Indonesia?
ilustrasi heatwave (vecteezy.com/Lugon Studio)
Intinya Sih
  • BMKG menegaskan gelombang panas seperti di Eropa tidak mungkin terjadi di Indonesia karena perbedaan karakteristik atmosfer.

  • Fenomena heatwave di Eropa dipicu kombinasi sistem tekanan tinggi dari Afrika Utara, minimnya awan, serta dampak perubahan iklim.

  • Gelombang panas Eropa kali ini berbahaya karena suhu siang dan malam jauh di atas normal selama beberapa hari, meningkatkan risiko kesehatan serius bagi kelompok rentan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Gelombang panas atau heatwave tengah melanda sejumlah negara di Eropa dengan suhu yang jauh di atas normal. Kondisi ini memicu berbagai dampak serius, mulai dari kebakaran hutan, gangguan transportasi, hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan dan kematian. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim kini makin nyata di berbagai belahan dunia.

Sementara itu, beberapa wilayah di Indonesia juga mulai merasakan suhu udara yang lebih terik menjelang puncak musim kemarau. Hal ini pun memunculkan pertanyaan, apakah gelombang panas di Eropa mungkin terjadi di Indonesia? Meski sama-sama terasa panas, kondisi di Indonesia berbeda dengan heatwave yang terjadi di Eropa. Untuk mengetahui perbedaannya, simak penjelasan berikut.

1. Apakah gelombang panas di Eropa mungkin terjadi di Indonesia?

Jika mengacu pada definisi meteorologi, gelombang panas seperti yang terjadi di beberapa negara Eropa pada dasarnya tidak mungkin terjadi di Indonesia. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), heatwave merupakan fenomena yang umumnya terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi akibat massa udara panas yang terperangkap oleh sistem tekanan tinggi dalam waktu cukup lama. Sementara itu, Indonesia berada di kawasan ekuator yang memiliki karakteristik atmosfer berbeda sehingga tidak mendukung terbentuknya gelombang panas seperti di Eropa.

Kondisi yang lebih sering terjadi di Indonesia adalah peningkatan suhu udara pada siang hari akibat cuaca cerah, intensitas sinar matahari yang tinggi, serta minimnya tutupan awan, terutama saat musim kemarau. BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini bukan termasuk heatwave, melainkan suhu panas harian yang masih dipengaruhi oleh kondisi cuaca tropis. Karena itu, meski udara terasa sangat terik, penyebab dan mekanisme terjadinya berbeda dengan gelombang panas yang melanda negara-negara beriklim subtropis atau sedang.

Meski demikian, cuaca panas di Indonesia tetap perlu diwaspadai. Jika terjadi anomali iklim yang menyebabkan suhu meningkat jauh di atas normal, dampaknya bisa terasa lebih berat karena kelembapan udara di Indonesia cenderung tinggi. Kelembapan yang tinggi membuat keringat lebih sulit menguap, padahal penguapan keringat merupakan cara utama tubuh untuk melepaskan panas. Alhasil, tubuh akan lebih sulit mendinginkan diri sehingga suhu yang sebenarnya tidak mencapai 40 derajat Celsius pun dapat terasa jauh lebih menyengat.

2. Penyebab heatwave di Eropa

Penyebab heatwave di Eropa
ilustrasi serangan gelombang panas (pexels.com/Sean P. Twomey)

Gelombang panas di Eropa dipengaruhi oleh kombinasi fenomena cuaca alami dan perubahan iklim. Menurut Wahid Dianbudiyanto, dosen Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (UNAIR), salah satu faktor yang diduga berperan adalah sistem tekanan tinggi yang kuat dari Afrika Utara.

Sistem ini menjebak udara panas dan kering di Eropa Barat sehingga suhu terus meningkat. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya tutupan awan, meningkatnya suhu permukaan Laut Mediterania, serta kekeringan yang mengurangi efek pendinginan alami dari tanah.

Di sisi lain, perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca juga membuat heatwave semakin sering dan lebih ekstrem. Pemanasan global meningkatkan suhu rata-rata Bumi sekaligus mengubah pola sirkulasi atmosfer sehingga sistem tekanan tinggi dapat bertahan lebih lama di suatu wilayah. Akibatnya, gelombang panas berlangsung lebih lama dengan suhu yang lebih tinggi.

3. Mengapa heatwave di Eropa kali ini sangat berbahaya?

Gelombang panas yang sedang melanda Eropa tergolong sangat serius karena suhu yang tercatat jauh melampaui kondisi normal untuk periode ini. Di sejumlah wilayah, suhu maksimum tercatat sekitar 5—10 derajat Celsius lebih tinggi dari biasanya. Tidak hanya pada siang hari, suhu pada malam hari juga tetap tinggi hingga di atas 20 derajat Celsius atau dikenal sebagai tropical nights. Kondisi ini membuat tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan diri setelah terpapar panas sepanjang hari, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit tertentu.

Selain suhunya yang ekstrem, durasi heatwave juga menjadi alasan utama fenomena ini sangat berbahaya. Beberapa wilayah di Eropa Selatan, seperti Spanyol dan Prancis, diperkirakan mengalami suhu ekstrem selama 5 hingga 6 hari berturut-turut. Paparan panas yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas, seperti dehidrasi, kelelahan panas (heat exhaustion), hingga heatstroke. Jika terjadi secara luas, kondisi ini juga dapat membebani layanan kesehatan karena meningkatnya jumlah pasien yang membutuhkan perawatan akibat cuaca ekstrem.

Itulah penjelasan mengenai apakah gelombang panas di Eropa mungkin terjadi di Indonesia berdasarkan penjelasan para ahli dan BMKG. Meski Indonesia juga sering mengalami cuaca yang terasa sangat panas, fenomenanya tidak sama dengan heatwave di Eropa.

FAQ seputar apakah gelombang panas di Eropa mungkin terjadi di Indones

Apakah Indonesia bisa mengalami heatwave seperti di Eropa?

Tidak. Menurut BMKG, Indonesia tidak mengalami heatwave secara meteorologis karena berada di wilayah ekuator dengan karakteristik atmosfer yang berbeda.

Apa bedanya cuaca panas di Indonesia dengan heatwave di Eropa?

Heatwave di Eropa terjadi akibat sistem tekanan tinggi yang menjebak udara panas selama beberapa hari. Sementara itu, cuaca panas di Indonesia lebih dipengaruhi kondisi harian dan perubahan cuaca tropis.

Apakah cuaca panas di Indonesia tetap berbahaya bagi kesehatan?

Ya. Paparan suhu panas yang tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko dehidrasi, heat exhaustion, hingga heatstroke, terutama jika tidak cukup minum dan beraktivitas di bawah terik matahari.

Referensi

"Krisis Gelombang Panas Global: Pelajaran dari Eropa dan Potensi Dampaknya di Iklim Tropis Indonesia". BMKG. Diakses Juni 2026.
"Dosen UNAIR Sebut Gelombang Panas di Eropa Berpotensi Terjadi di Indonesia". UNAIR. Diakses Juni 2026.
"Rapid Reaction: Why Are We Seeing Record-breaking Heatwaves in Europe and UK?". London School of Hygiene & Tropical Medicine. Diakses Juni 2026.
"Europe is Battling a Record‑breaking Heatwave. What’s Making It So Severe". Monash University. Diakses Juni 2026.
"What to Know About Europe’s Deadly Heatwave—and How to Stay Safe". Time. Diakses Juni 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Lea Lyliana
EditorLea Lyliana

Related Articles

See More