Suhu di Eropa Sentuh 40 Derajat, Apa Penyebab Gelombang Panasnya?

- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa dengan suhu mencapai lebih dari 40°C, menyebabkan lebih dari 1.300 kematian berlebih dan berdampak parah di Spanyol.
- WWA menyebut perubahan iklim akibat emisi bahan bakar fosil memperparah gelombang panas, membuat peristiwa serupa kini puluhan kali lebih mungkin terjadi dibandingkan beberapa dekade lalu.
- Fenomena heat dome memerangkap udara panas di atmosfer, memperkuat suhu ekstrem yang mengganggu kesehatan masyarakat, sektor energi, transportasi, hingga ketersediaan air di berbagai negara Eropa.
Gelombang panas yang melanda negara-negara di Eropa menjadi sorotan dunia. Berdasarkan laporan Euronews, fenomena cuaca panas ekstrem ini bahkan dikaitkan dengan lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths). Fenomena panic buying AC pun terjadi di sejumlah negara.
Salah satu negara yang terdampak paling serius adalah Spanyol. Menurut World Meteorological Organization (WMO), negara tersebut mengalami hari-hari terpanas pada 23 dan 24 Juni 2026 lalu. Suhu di sejumlah wilayah di Spanyol bahkan melampaui 40 derajat Celsius. Salah satunya terjadi di Kota Bilbao yang mencatat suhu hingga 42,7 derajat Celsius sekaligus menjadi yang tertinggi pada bulan Juni.
Dilansir World Weather Attribution (WWA), beberapa wilayah di Eropa juga mengalami kelembapan udara yang tinggi sehingga membuat cuaca terasa lebih panas. Kombinasi panas ekstrem dan kelembapan tinggi membuat tubuh lebih sulit mendinginkan diri melalui proses penguapan keringat. Akibatnya, kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis. Lantas, apa penyebab di balik fenomena tersebut? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
1. Perubahan iklim akibat emisi bahan bakar fosil

Menurut laporan WWA, gelombang panas ekstrem yang menghantam Eropa dipengaruhi oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas telah meningkatkan suhu rata-rata Bumi. Akibatnya, gelombang panas di Eropa berlangsung lebih lama dengan intensitas suhu yang semakin ekstrem.
Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perubahan iklim telah menyebabkan lebih dari 200.000 kematian akibat panas ekstrem di negara-negara Uni Eropa dalam empat tahun terakhir. Tragisnya, sebagian besar kematian tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang lebih baik.
WWA juga menyebutkan bahwa musim panas ini menunjukkan dampak nyata dari pemanasan global yang mencapai 1,4 derajat Celsius dibandingkan era praindustri. Gelombang panas ekstrem tersebut telah mencapai batas kemampuan masyarakat untuk menghadapinya. Peristiwa panas ekstrem seperti ini kini puluhan hingga ratusan kali lebih mungkin terjadi dibandingkan tahun 2003, bahkan nyaris mustahil terjadi sekitar 50 tahun lalu.
2. Fenomena heat dome memerangkap panas di Eropa

Selain perubahan iklim, gelombang panas yang terjadi di Eropa juga diperkuat oleh fenomena heat dome atau kubah panas. Fenomena ini merupakan sistem tekanan udara tinggi yang bertahan di atmosfer selama beberapa hari hingga lebih dari sepekan. Kondisi tersebutlah yang membuat panas terus terperangkap di suatu wilayah.
Mengutip New York Times, heat dome bekerja layaknya "tutup panci" yang menutupi suatu wilayah. Sistem tekanan udara tinggi tersebut menghambat udara panas di dekat permukaan Bumi untuk naik dan membentuk awan. Akibatnya, langit tetap cerah sehingga sinar matahari terus memanaskan permukaan Bumi dari hari ke hari.
Tak hanya itu, sistem tekanan udara tinggi tersebut juga membawa aliran udara panas dari Gurun Sahara di Afrika Utara ke Eropa. Pada saat yang sama, sistem ini menghalangi masuknya udara yang lebih sejuk dan hujan. Akibatnya, panas terus terperangkap dan terakumulasi sehingga suhu di berbagai wilayah Eropa meningkat hingga jauh di atas rata-rata musimannya.
3. Gelombang panas berdampak pada kesehatan hingga sistem energi

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, gelombang panas ekstrem dapat menimbulkan berbagai dampak, mulai dari gangguan kesehatan hingga meningkatnya angka kematian. Dilansir Kementerian Kesehatan RI, paparan suhu tinggi dalam waktu yang lama dapat memicu kelelahan, iritasi kulit, dehidrasi, sakit kepala, heat exhaustion hingga heatstroke. Dampak buruk dari suhu ekstrem ini lebih rentan dialami oleh lansia, bayi, dan anak-anak serta penderita jantung dan paru.
Tak hanya kesehatan, gelombang panas juga mengganggu berbagai sektor kehidupan. Di Prancis, suhu ekstrem menyebabkan penutupan sekolah hingga gangguan layanan kereta akibat rel yang memuai. Sementara itu, kekeringan parah melanda Spanyol sehingga membuat cadangan air waduk terus menurun.
Gelombang panas turut memberikan tekanan besar bagi sistem energi Eropa. Pasalnya, suhu ekstrem ini dikhawatirkan dapat mengurangi produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir di Prancis yang menggunakan air Sungai Rhône dan Garonne sebagai sistem pendingin. Sebagai salah satu pemasok utama listrik di Eropa, pembatasan produksi listrik di Prancis berpotensi memperketat pasokan listrik di kawasan tersebut sehingga memicu kenaikan harga listrik.
Dari perubahan iklim hingga fenomena heat dome, gelombang panas di Eropa terjadi akibat gabungan berbagai faktor yang saling berkaitan dampaknya pun tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi lingkungan, infrastruktur, hingga sistem energi. Oleh sebab itu upaya mitigasi perubahan iklim dan kesiapsiagaan menghadapi globalisasi ekstrem bisa menjadi kunci untuk mengurangi risiko di masa depan.


















