Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nepal akan menyimpan sampel DNA dan informasi identitas lainnya dari korban bencana yang jasadnya belum dapat dikenali sebelum jenazah tersebut ditangani dan dimakamkan oleh negara. Jaminan tersebut disampaikan Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, pada Sabtu (29/8/2026), ketika proses pencarian korban bencana di kawasan perbatasan Nepal-Tibet masih berlangsung.
Kebijakan itu diambil untuk memastikan keluarga korban tetap memiliki kemungkinan mengetahui nasib kerabat mereka di kemudian hari. Jumlah korban tewas dalam bencana yang dipicu runtuhnya gletser tersebut kini telah mencapai lebih dari 750 orang. Sementara itu, hampir 3.000 orang masih dinyatakan hilang di Nepal dan Tibet.
Bencana tersebut terjadi setelah runtuhnya gletser memicu gelombang air dan material dalam jumlah besar yang menerjang kawasan Himalaya. Air bercampur dengan batu, lumpur, es, dan puing menyapu sejumlah permukiman dan menyebabkan kerusakan besar di sepanjang aliran sungai.
