Nepal Simpan DNA Korban Tak Dikenali Sebelum Dimakamkan

- Pemerintah Nepal menyimpan sampel DNA dan informasi identitas korban yang belum dikenali sebelum pemakaman.
- Runtuhnya gletser di kawasan Himalaya memicu gelombang air dan material yang menerjang permukiman.
- Korban tewas telah melampaui 750 orang, sementara hampir 3.000 orang masih hilang di Nepal dan Tibet.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nepal akan menyimpan sampel DNA dan informasi identitas lainnya dari korban bencana yang jasadnya belum dapat dikenali sebelum jenazah tersebut ditangani dan dimakamkan oleh negara. Jaminan tersebut disampaikan Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, pada Sabtu (29/8/2026), ketika proses pencarian korban bencana di kawasan perbatasan Nepal-Tibet masih berlangsung.
Kebijakan itu diambil untuk memastikan keluarga korban tetap memiliki kemungkinan mengetahui nasib kerabat mereka di kemudian hari. Jumlah korban tewas dalam bencana yang dipicu runtuhnya gletser tersebut kini telah mencapai lebih dari 750 orang. Sementara itu, hampir 3.000 orang masih dinyatakan hilang di Nepal dan Tibet.
Bencana tersebut terjadi setelah runtuhnya gletser memicu gelombang air dan material dalam jumlah besar yang menerjang kawasan Himalaya. Air bercampur dengan batu, lumpur, es, dan puing menyapu sejumlah permukiman dan menyebabkan kerusakan besar di sepanjang aliran sungai.
1. Jasad korban sulit dikenali

Gambar satelit yang dirilis Vantor menunjukkan sebagian wilayah kota Timure, Nepal pada 1 Juli 2026. (SATELLITE IMAGE ©2026 VANTOR / AFP) Otoritas Nepal mengatakan sebagian jasad yang ditemukan dalam operasi pencarian telah mengalami pembusukan parah sehingga tidak lagi dapat dikenali secara visual. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas, terutama karena jumlah orang yang masih hilang sangat besar. Di Nepal, sekitar 2.426 orang masih dinyatakan hilang, sementara 546 lainnya dilaporkan hilang di Gyirong County, Tibet.
Dari mereka yang hilang di Tibet, terdapat sedikitnya 540 warga negara asing. Hal ini membuat proses identifikasi korban semakin kompleks dan membutuhkan metode forensik, termasuk pemeriksaan DNA.
Shah mengatakan jasad yang belum dapat diidentifikasi akan ditangani sesuai dengan pedoman pemerintah mengenai jenazah tanpa identitas dan jenazah yang tidak diklaim. Namun, sebelum proses tersebut dilakukan, pemerintah akan mengamankan sampel DNA serta informasi lain yang dapat membantu proses identifikasi.
"Sampel DNA dan informasi lainnya yang dapat membantu menetapkan identitas mereka akan terlebih dahulu disimpan," kata Shah dalam pembaruan mengenai operasi penyelamatan dan bantuan yang diunggah melalui media sosial, seperti dilansir dari Channel News Asia, Minggu (30/8/2026).
Kebijakan tersebut memungkinkan proses identifikasi tetap dilakukan meskipun kondisi jasad sudah tidak memungkinkan untuk dikenali oleh keluarga secara langsung.
2. Korban teridentifikasi sudah diserahkan ke keluarga

Banjir dan longsor di Nepal, ratusan orang masih hilang. (AFP/Prakash Mathema) Sementara itu, jasad korban yang telah berhasil diidentifikasi oleh keluarga akan diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman. Pemerintah Nepal menghadapi situasi sulit karena sebagian korban ditemukan dalam kondisi yang telah memburuk. Otoritas sebelumnya mengatakan jasad yang tidak dapat dikenali perlu segera dimakamkan setelah seluruh prosedur hukum diselesaikan.
Keputusan tersebut juga berkaitan dengan pertimbangan kesehatan. Jasad yang telah berada dalam kondisi membusuk dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama apabila dibiarkan terlalu lama di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung.
Meski demikian, pemerintah berupaya memastikan proses pemakaman tidak menghilangkan peluang bagi keluarga untuk memperoleh kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga mereka yang hilang.
Penyimpanan DNA menjadi bagian penting dari proses tersebut. Sampel dapat digunakan apabila di kemudian hari keluarga korban melaporkan orang hilang dan diperlukan pencocokan identitas secara forensik.
Situasi ini juga menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi Nepal dalam menangani bencana tersebut. Selain korban jiwa, banyak keluarga masih menunggu kabar mengenai kerabat mereka yang belum ditemukan.
3. Runtuhnya gletser picu gelombang mematikan

Banjir dan longsor di Nepal, ratusan orang masih hilang. (AFP/Prakash Mathema) Bencana tersebut bermula dari runtuhnya gletser di kawasan Himalaya dekat perbatasan Nepal dan Tibet. Material dari batu yang runtuh kemudian memicu gelombang air dan debris yang bergerak deras ke wilayah di bawahnya.
Gelombang tersebut memiliki kekuatan besar dan menyapu permukiman yang berada di sepanjang jalur aliran. Sejumlah bangunan, infrastruktur, serta fasilitas pembangkit listrik terdampak akibat terjangan air, lumpur, batu, dan puing.
Banyaknya korban yang masih hilang membuat operasi pencarian terus dilakukan. Tim penyelamat harus bekerja di tengah kondisi medan yang sulit serta risiko banjir susulan akibat perubahan aliran sungai dan terbentuknya genangan air di sejumlah lokasi.
Bencana ini juga kembali menyoroti meningkatnya risiko di kawasan pegunungan akibat perubahan kondisi gletser. Para ahli telah memperingatkan bahwa mencairnya gletser akibat perubahan iklim dapat meningkatkan potensi terjadinya berbagai bencana seperti banjir bandang dan runtuhnya material es maupun batu.
Bagi Nepal, tantangan kini tidak hanya menemukan korban yang masih hilang, tetapi juga memberikan kepastian kepada keluarga mereka. Dengan menyimpan DNA dan data identifikasi korban yang belum dikenali, pemerintah berupaya memastikan bahwa meskipun jasad harus dimakamkan, kesempatan untuk mengungkap identitas mereka tidak ikut hilang.

















