Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Orangtua di Gaza Imbau Anak Tak Bermain Layangan Usai Ancaman Israel
ilustrasi layang-layang (unsplash.com/Bill Fairs)
  • Orangtua dan komite populer Gaza mengimbau anak berhenti bermain layang-layang di pengungsian setelah Israel mengancam tindakan militer terhadap peluncuran layang-layang, balon, atau drone.
  • Netanyahu menyatakan peluncur benda terbang dari Gaza dapat menjadi sasaran pembunuhan terarah, sementara wilayah peluncuran terancam dievakuasi; Israel menganggapnya tindakan perang.
  • Hamas menolak tudingan Israel bahwa permainan layang-layang diprovokasi kelompoknya. Di tengah gencatan senjata, serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya empat warga Gaza.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Para orangtua dan komite populer di Jalur Gaza mengeluarkan imbauan tegas agar anak-anak segera menghentikan aktivitas bermain layang-layang di kawasan pengungsian pada Senin (24/8/2026). Langkah darurat ini diambil guna menghindari risiko serangan militer susulan dari Israel yang dapat mengancam keselamatan jiwa warga sipil di kawasan tersebut.

Langkah pencegahan ini diambil setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan peringatan keras pada Minggu (23/8/2026). Netanyahu menegaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab meluncurkan layang-layang, balon, atau drone ke wilayah Israel akan dijadikan target pembunuhan terarah (targeted assassination), serta wilayah peluncurannya akan diperintahkan untuk dievakuasi.

1. Ancaman serangan militer Israel pemicu kekhawatiran orangtua

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (UK Government, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Pemerintah Israel memperingatkan bakal mengambil langkah militer tegas terhadap setiap pergerakan benda terbang yang melintasi perbatasan dari Gaza. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pihak yang bertanggung jawab atas peluncuran layang-layang, balon, atau drone akan dijadikan target target pembunuhan terarah (targeted assassination). Selain itu, militer Israel mengancam akan memerintahkan evakuasi paksa di wilayah yang dicurigai sebagai lokasi pelepasan benda-benda tersebut.

Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, menganggap aktivitas peluncuran layang-layang sebagai tindakan perang dan menginstruksikan tentara untuk merespons secara keras. Pihak militer dilaporkan telah menerima otorisasi resmi untuk memperluas skala penyerangan ke berbagai penjuru kawasan Gaza. Eskalasi situasi militer ini juga telah disampaikan oleh pejabat Israel kepada pemerintah Amerika Serikat sebelum operasi dijalankan.

Dilansir Reuters, seorang ibu dari Kota Gaza bernama Umm Mohammed mengaku sangat khawatir anaknya menjadi sasaran tembak militer Israel. "Setiap musim panas, anak saya, Ahmed, 10, dan anak-anak di jalanan menerbangkan layang-layang untuk menghibur diri, tetapi saya tidak akan mengizinkannya lagi," ujar Umm Mohammed. Keputusan pahit tersebut diambil demi menjaga keselamatan jiwa sang anak agar terhindar dari bahaya serangan udara.

2. Komite populer dan orangtua Gaza bergerak menghentikan layangan

potret Gaza dari udara (pexels.com/Mohamed Zarandah)

Komite populer yang terdiri dari perwakilan organisasi non-pemerintah dan lembaga amal pengelola kamp pengungsian langsung merespons ancaman tersebut pada Senin (24/8/2026) malam. Pengumuman resmi tersebut dikeluarkan setelah berkoordinasi langsung dengan otoritas setempat di Gaza demi mencegah eskalasi serangan militer, sembari menegaskan komitmen komite untuk bekerja di lapangan guna menghentikan praktik tersebut.

Pihak komite menegaskan bahwa tindakan pemblokiran aktivitas hiburan ini terpaksa dilakukan demi keselamatan warga sipil. "Kami bekerja tanpa lelah di lapangan dan melakukan segala upaya untuk menghentikan praktik ini. Bukan untuk membatasi masa kanak-kanak anak-anak kami—yang sebenarnya telah dirampas hak paling mendasar mereka untuk bermain dan hidup aman—melainkan demi melindungi nyawa mereka yang tidak berdosa," tegas komite populer tersebut dalam peryataannya. Langkah pencegahan ini memicu keprihatinan mengingat layang-layang merupakan hiburan sederhana bagi anak-anak di tengah pengungsian.

Sejumlah warga Gaza menyoroti kondisi ironis di mana hiburan dasar bagi anak-anak kini dianggap sebagai ancaman keamanan. Seorang warga Gaza, Abu Mohammed Raid, menyoroti betapa terbatasnya hiburan bagi anak-anak di kawasan konflik tersebut. "Layang-layang ini adalah mainan yang memberi kesempatan bagi anak-anak untuk sekadar bernapas. Mereka tidak punya permainan lain yang tersisa," tuturnya.

3. Tudingan provokasi militer dan penolakan dari pihak Hamas

Israel Defense Forces (Pasukan Pertahanan Israel) (Israel Defense Forces, CC BY 2.0, via WIkimedia Commons)

Dilansir Türkiye Today, pejabat senior pertahanan Israel mengklaim bahwa pihak Hamas sengaja mendorong warga menerbangkan layang-layang melintasi perbatasan sebagai bentuk provokasi. Pihak Israel telah menyampaikan keluhan resmi kepada Board of Peace, lembaga pengawas gencatan senjata yang dipimpin oleh pemerintah Amerika Serikat. Perwakilan badan tersebut mengimbau seluruh aktivitas militan di Gaza dihentikan, sembari mengingatkan Israel agar tidak melancarkan aksi militer di luar ancaman nyata.

Pihak Hamas menolak keras tuduhan yang mengaitkan permainan layang-layang anak-anak dengan aktivitas militer. Pejabat senior Hamas, Basem Naim, mengecam tuduhan tersebut dan menilai ada upaya untuk membenarkan penyerangan terhadap warga sipil. "Sungguh lancang! Apakah masuk akal jika upaya menyenangkan penjahat perang Netanyahu telah mencapai titik di mana aktivitas anak-anak yang tidak berdosa dituduh sebagai operasi bersenjata, di saat Netanyahu sendiri terus melakukan pembunuhan dan penghancuran setiap hari meskipun ada kesepakatan?" ujar Basem Naim.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, aksi penyerangan militer di Jalur Gaza masih terus menimbulkan korban jiwa. Pada Selasa (25/8/2026), serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya empat warga di wilayah Al-Mawasi dan kawasan sekitar sekolah di Jabalia. Otoritas kesehatan Gaza mencatat lebih dari 1.280 warga Palestina gugur sejak gencatan senjata disepakati, sementara pihak militer Israel melaporkan empat tentaranya tewas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article