Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Diancam Israel, Warga Gaza Larang Anak Main Layang-layang

Diancam Israel, Warga Gaza Larang Anak Main Layang-layang
potret seorang anak di Gaza (pixabay.com/hosnysalah)
  • Orang tua dan komite-komite populer di Gaza meminta anak-anak berhenti menerbangkan layang-layang menyusul ancaman tindakan keras dari Israel.
  • Ancaman muncul setelah layang-layang dari Gaza kembali terlihat menuju Israel, meski tidak dilaporkan membawa bahan pembakar.
  • Layang-layang dan balon pernah digunakan dalam konflik pada 2018, sementara keluarga Gaza kini khawatir keselamatan anak-anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah larangan layang-layang untuk anak di Gaza perlu?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Orang tua di Jalur Gaza memperingatkan anak-anak mereka untuk berhenti menerbangkan layang-layang setelah Israel mengancam akan mengambil tindakan keras, jika Hamas kembali menggunakan layang-layang sebagai bagian dari aksi meluncurkan benda-benda pembakar ke wilayah Israel.

Peringatan tersebut disampaikan oleh komite-komite populer yang terdiri dari perwakilan organisasi nonpemerintah dan badan amal setempat yang mengelola kamp-kamp pengungsian serta tempat penampungan di Gaza. Pernyataan itu dikeluarkan pada Senin (24/8/2026) malam waktu setempat.

Pengumuman tersebut dikoordinasikan dengan otoritas Hamas, menurut seorang sumber dari kelompok tersebut. Komite mengatakan langkah itu bukan bertujuan membatasi aktivitas anak-anak, melainkan mencegah mereka menjadi korban di tengah ancaman serangan Israel.

“Kami bekerja tanpa lelah di lapangan dan melakukan segala yang kami bisa untuk menghentikan praktik ini, bukan untuk membatasi masa kanak-kanak anak-anak kami yang telah kehilangan hak paling dasar untuk bermain dan hidup dengan aman, tetapi untuk melindungi nyawa mereka yang tidak bersalah,” kata komite itu dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Anadolu, Selasa (25/8/2026).

  1. 1. Israel ancam serang peluncur layang-layang

    Serangan udara Israel di Jalur Gaza saat perang berlangsung.
    Serangan udara Israel di Jalur Gaza saat perang berlangsung. (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Ketegangan terkait layang-layang muncul setelah dalam sebulan terakhir sejumlah layang-layang terlihat melayang dari Gaza menuju wilayah Israel. Layang-layang tersebut tidak dilaporkan membawa bahan pembakar, tetapi keberadaannya membuat warga Israel di desa-desa sekitar perbatasan merasa khawatir.

    Wilayah tersebut merupakan lokasi yang terdampak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan itu kemudian memicu perang di Gaza yang berlangsung hingga kini.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu memperingatkan Hamas agar aktivitas penerbangan layang-layang, balon, maupun drone menuju Israel segera dihentikan. Dia mengatakan, pihak yang bertanggung jawab dapat menjadi sasaran pembunuhan.

    Netanyahu juga mengancam wilayah yang digunakan untuk meluncurkan benda-benda tersebut akan diperintahkan untuk dievakuasi. Seorang pejabat senior pertahanan Israel kemudian mengatakan, Hamas berusaha memprovokasi Israel dengan mendorong warga Gaza menerbangkan layang-layang melintasi perbatasan.

  2. 2. Layang-layang pernah dipakai untuk picu kebakaran

    ilustrasi kondisi Gaza
    ilustrasi kondisi Gaza (unsplash.com/Emad El Byed)

    Layang-layang dan balon memiliki sejarah dalam konflik antara Gaza dan Israel. Pada 2018, warga Gaza menerbangkan layang-layang dan balon yang membawa bahan pembakar melewati perbatasan Israel.

    Aksi tersebut menyebabkan kebakaran di ratusan hektare lahan terbuka dan area pertanian di Israel. Warga Gaza saat itu mengatakan, penggunaan layang-layang dan balon tersebut merupakan bentuk protes terhadap blokade Israel di wilayah yang dikuasai Hamas.

    Namun, layang-layang yang terlihat dalam beberapa pekan terakhir tidak dilaporkan membawa bahan pembakar. Meski demikian, kemunculannya kembali memicu kekhawatiran di wilayah Israel yang berbatasan langsung dengan Gaza.

    Seorang ibu dari Gaza City, Umm Mohammed, mengatakan dirinya khawatir anaknya dapat menjadi korban. Dia mengatakan anaknya yang berusia 10 tahun biasa menerbangkan layang-layang bersama anak-anak lain di sekitar tempat tinggal mereka selama musim panas.

    “Setiap musim panas, anak saya, Ahmed, yang berusia 10 tahun, dan anak-anak di jalan menerbangkan layang-layang untuk menghibur diri, tetapi saya tidak akan mengizinkannya lagi, tidak sekarang,” kata Umm Mohammed kepada Reuters melalui aplikasi percakapan.

  3. 3. Hamas sebut Israel hanya cari alasan agar perang berlanjut

    Anak-anak Gaza tetap tersenyum di tengah penderitaan di kamp pengungsi.
    Anak-anak Gaza tetap tersenyum di tengah penderitaan di kamp pengungsi. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

    Seorang pejabat Hamas mengatakan, kelompok tersebut telah menyampaikan keluhan kepada para mediator gencatan senjata. Hamas menilai Israel menggunakan isu layang-layang sebagai alasan untuk melanjutkan perang di Gaza.

    “Israel membuat alasan-alasan palsu untuk melanjutkan perang di Gaza,” kata pejabat Hamas.

    Israel juga telah menyampaikan keluhan terkait layang-layang kepada Board of Peace yang dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Badan tersebut bertugas mengawasi implementasi kesepakatan gencatan senjata Gaza 2025, menurut pejabat Israel lainnya.

    Di tengah situasi tersebut, komite-komite populer di Gaza meminta masyarakat mencegah anak-anak menerbangkan layang-layang. Mereka menilai ancaman Israel membuat aktivitas yang sebelumnya menjadi hiburan anak-anak kini dapat membahayakan keselamatan mereka.

    Peringatan itu muncul ketika warga Gaza masih menghadapi kondisi kehidupan yang berat akibat perang. Komite menekankan bahwa anak-anak di Gaza telah kehilangan banyak hak dasar, termasuk kesempatan untuk bermain dan hidup dengan aman.

    Bagi sejumlah keluarga, larangan menerbangkan layang-layang menjadi langkah pencegahan untuk menghindari kemungkinan serangan Israel, setelah Netanyahu mengancam akan menargetkan pihak yang dianggap bertanggung jawab atas peluncuran layang-layang, balon, atau drone menuju Israel.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More