Pertemuan di Urumqi ini dihadiri oleh delegasi senior dari Pakistan yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri, didampingi pejabat dari Kementerian Pertahanan, Kementerian Dalam Negeri, dan badan intelijen nasional. Di pihak lain, otoritas Taliban Afganistan juga mengirimkan utusan dari lembaga yang sama. Mereka bertemu secara langsung untuk meredakan ketegangan senjata yang telah memakan ratusan korban jiwa.
China turun tangan sebagai mediator karena khawatir konflik ini akan mengganggu keamanan proyek Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) dan potensi masuknya kelompok militan ke wilayah Xinjiang. Utusan Khusus China, Yue Xiaoyong, aktif membujuk Islamabad dan Kabul agar mau bernegosiasi kembali. Dalam diskusi tertutup tersebut, China menekankan pentingnya membangun rasa percaya dengan membuka kembali jalur perdagangan dan akses bagi warga sipil.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, mengonfirmasi bahwa delegasi mereka hadir sebagai bentuk dukungan terhadap perdamaian dan pemberantasan terorisme lintas batas. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan komitmen Presiden Xi Jinping untuk mendorong kedua negara agar menahan diri dan lebih mengutamakan jalan diplomasi.
"Benar, Pakistan telah mengirimkan delegasi ke Urumqi. Hal ini sejalan dengan sikap konsisten kami dalam mendukung proses perdamaian yang bisa memberikan solusi nyata terhadap masalah terorisme lintas batas dari wilayah Afganistan," kata Andrabi, dilansir Pakistan Today.