Banjir Bandang di Afghanistan, 22 Orang Tewas dan 32 Luka-luka

- Banjir bandang akibat hujan deras melanda 13 provinsi Afghanistan, menewaskan 22 orang dan melukai 32 lainnya, dengan banyak korban tertimpa bangunan runtuh di wilayah pegunungan.
- Sebanyak 241 rumah hancur dan lebih dari 80 kilometer jalan utama rusak, menghambat distribusi bantuan serta melumpuhkan sektor pertanian yang menjadi sumber ekonomi warga.
- Otoritas meteorologi memperingatkan potensi banjir susulan dan meminta warga segera mengungsi, sementara PBB menyoroti minimnya sumber daya untuk menangani krisis kemanusiaan yang memburuk.
Jakarta, IDN Times - Hujan deras yang memicu banjir bandang besar melanda kawasan pegunungan Afghanistan. Bencana alam ini mengakibatkan puluhan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang parah. Berdasarkan data resmi pada Senin (30/3/2026), cuaca ekstrem yang berlangsung selama dua hari terakhir telah menempatkan jutaan warga dalam risiko bahaya.
National Disaster Management Authority (NDMA) melaporkan bahwa banjir telah menerjang lebih dari 13 provinsi. Mayoritas korban jiwa jatuh akibat tertimpa bangunan yang runtuh karena tidak kuat menahan arus air dan lumpur. Saat ini, otoritas terkait terus memantau cuaca dan mengoordinasikan evakuasi darurat di wilayah-wilayah yang terisolasi.
1. Puluhan warga tewas dan terluka di 13 provinsi
Sedikitnya 22 warga sipil tewas dan 32 lainnya luka berat akibat bencana ini. Para korban luka membutuhkan penanganan medis segera, namun terkendala terbatasnya fasilitas kesehatan di daerah terpencil. Korban terbanyak berasal dari wilayah tengah dan timur, seperti Provinsi Parwan, Maidan Wardak, Daykundi, dan Logar. Di wilayah tersebut, banjir dari lereng pegunungan Hindu Kush menerjang permukiman dengan sangat cepat.
Otoritas setempat menyatakan dampak bencana tersebar di 13 provinsi, termasuk Herat, Farah, Ghor, Badghis, Samangan, Jowzjan, Sar-e-Pul, Faryab, dan Laghman. Selain banjir bandang, wilayah ini juga menghadapi tanah longsor dan sambaran petir.
"Dalam dua hari terakhir, banjir dan cuaca buruk di 13 provinsi telah menyebabkan 22 orang tewas, 32 luka-luka, dan 241 rumah rusak," kata pejabat NDMA, dilansir Pajhwok Afghan News.
Juru bicara resmi NDMA, Hafiz Mohammad Yusuf Hammad, menjelaskan bahwa proses evakuasi masih berjalan. Meski demikian, tim penyelamat menghadapi hambatan berupa medan yang sulit dan terputusnya akses komunikasi di sejumlah distrik pegunungan.
2. Ratusan rumah hancur dan akses jalan utama terputus total
Selain korban jiwa, banjir menghancurkan infrastruktur secara luas. Sebanyak 241 rumah rusak berat hingga runtuh, menyebabkan ratusan keluarga kehilangan tempat tinggal di tengah cuaca dingin. Sektor transportasi juga terdampak parah, sekitar 80 kilometer jalan raya utama dan jalur antarprovinsi rusak atau tertimbun longsor. Hal ini menghambat distribusi bantuan di Provinsi Sar-e-Pul, Balkh, dan Badghis.
Kehancuran infrastruktur menjadi beban berat bagi pemerintah di tengah keterbatasan anggaran. Sektor pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi warga pun ikut lumpuh. Banjir merendam lebih dari 582 jerib lahan produktif serta merusak 31 sumur air dan jaringan irigasi.
"Data ini masih sementara karena tim kami masih terus mendata dan memeriksa langsung seluruh lokasi yang terkena dampak bencana," ujar Juru bicara NDMA, Hafiz Mohammad Yusuf Hammad, dilansir Kabul Now.
3. Warga diminta waspada ancaman banjir susulan
Otoritas meteorologi nasional mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat susulan. NDMA meminta warga yang tinggal di kawasan pegunungan dan bantaran sungai untuk segera mengungsi. Kondisi tanah yang jenuh air sangat rawan longsor dan berisiko menimbun permukiman sewaktu-waktu.
Risiko bencana ini diperburuk oleh perubahan iklim global yang membuat cuaca ekstrem di Afghanistan terjadi lebih sering. Bencana ini juga datang di tengah krisis kelaparan akut. Data dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menunjukkan jutaan warga Afghanistan saat ini berada dalam status darurat pangan.
PBB melaporkan bahwa sumber daya untuk penanganan bencana kini sangat menipis, sehingga bantuan internasional sangat dibutuhkan untuk mencegah krisis kesehatan dan kelaparan lebih lanjut.


















