Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Panjang Umur tapi Tak Bahagia: Paradoks Generasi Muda Korea Selatan
ilustrasi Seoul, Korea Selatan (pexels.com/Theodore Nguyen)
  • Harapan hidup Korea Selatan naik dari 62,3 tahun pada 1970 menjadi 83,5 tahun pada 2023, tetapi kepuasan hidup usia 15–29 tahun hanya 6,5 dari 10.
  • Rendahnya kesejahteraan anak muda didukung indikator lain: Korea Selatan mencatat angka bunuh diri tertinggi OECD pada 2022, sementara kesejahteraan mental anak berada di peringkat 34 dari 36 negara.
  • Tekanan pendidikan, persaingan kerja, jam kerja panjang, harga rumah, dan budaya perbandingan memicu burnout; 32,2% anak muda mengalami kelelahan fisik dan mental.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Korea Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu negara paling maju di Asia. Kemajuan di bidang kesehatan, pendidikan, hingga teknologi membuat kualitas hidup masyarakatnya meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Salah satu buktinya terlihat dari angka harapan hidup yang kini termasuk tertinggi di dunia.

Namun di balik pencapaian tersebut, muncul kenyataan yang cukup bertolak belakang. Banyak anak muda Korea Selatan justru mengaku kurang puas dengan kehidupan mereka, sehingga memunculkan paradoks yang menarik untuk dipahami.

1. Harapan hidup terus naik, tapi kepuasan hidup anak muda justru rendah

ilustrasi orang tua, lansia, Seoul, Korea Selatan (pexels.com/Nuhyil Ahammed)

Korea Selatan berhasil mencatat lonjakan harapan hidup yang sangat signifikan dalam waktu relatif singkat. Data OECD Health Statistics 2025 yang dikutip The Korea Times menunjukkan bahwa bayi yang lahir di Korea Selatan pada 2023 diperkirakan memiliki harapan hidup hingga 83,5 tahun. Sebagai perbandingan, angka tersebut masih berada di kisaran 62,3 tahun pada 1970. Artinya, dalam sekitar dua generasi, harapan hidup masyarakat Korea Selatan bertambah lebih dari 20 tahun.

Namun, keberhasilan tersebut gak otomatis membuat generasi mudanya merasa lebih bahagia. Laporan Youth Quality of Life yang diterbitkan National Statistical Research Institute pada Desember 2025 menunjukkan bahwa masyarakat Korea Selatan berusia 15–29 tahun memberikan nilai rata-rata kepuasan hidup sebesar 6,5 dari 10 selama periode 2021–2023. Angka itu menempatkan Korea Selatan di peringkat ke-31 dari 38 negara anggota OECD. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa hidup lebih lama belum tentu diikuti dengan meningkatnya kepuasan dalam menjalani hidup.

2. Rendahnya skor kebahagiaan bukan sekadar karena budaya

ilustrasi Seoul, Korea Selatan (pexels.com/Nuhyil Ahammed)

Sebagian orang beranggapan bahwa masyarakat Korea Selatan cenderung rendah hati saat menilai dirinya sendiri. Karena itu, skor kepuasan hidup dianggap lebih rendah dibandingkan negara lain meskipun kondisi sebenarnya belum tentu seburuk yang terlihat. Memang, survei mengenai kebahagiaan bersifat subjektif sehingga dipengaruhi oleh budaya, karakter, dan cara seseorang memandang kehidupannya.

Meski begitu, berbagai indikator lain menunjukkan bahwa persoalan ini gak bisa dijelaskan hanya oleh faktor budaya. The Korea Herald, mengutip data OECD, melaporkan bahwa Korea Selatan masih mencatat angka bunuh diri tertinggi di antara negara-negara OECD, yaitu 23,2 kematian per 100.000 penduduk pada 2022. Selain itu, laporan UNICEF Innocenti yang dirilis pada Mei 2025 menempatkan anak-anak Korea Selatan di jajaran teratas dalam kemampuan akademik, tapi berada di posisi ke-34 dari 36 negara dalam aspek kesejahteraan mental. Ketika berbagai indikator mengarah pada kesimpulan yang sama, rendahnya kepuasan hidup tentu gak bisa dianggap sekadar efek cara mengisi survei.

3. Tekanan pendidikan dan persaingan hidup menjadi akar masalah

ilustrasi anak sekolah bersepeda di Seoul, Korea Selatan (pexels.com/Theodore Nguyen)

Salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan kondisi ini adalah tingginya tekanan dalam dunia pendidikan. Data Statistics Korea yang dikutip The Korea Times menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan privat atau les tambahan mencapai 29,2 triliun won pada 2024, atau sekitar Rp369,1 triliun. Nilai tersebut menjadi rekor tertinggi selama empat tahun berturut-turut, bahkan meningkat sekitar 7,7% dibandingkan tahun sebelumnya meski jumlah pelajar justru menurun.

Persaingan itu gak berhenti setelah jam sekolah usai. Banyak pelajar menghabiskan waktu di lembaga bimbingan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi Suneung, ujian masuk perguruan tinggi yang sangat menentukan masa depan mereka. Setelah memasuki dunia kerja, tekanan kembali muncul dalam bentuk jam kerja yang panjang, harga rumah yang terus meningkat, serta budaya membandingkan pencapaian dengan orang lain. Akumulasi tekanan tersebut membuat banyak anak muda merasa terus berlomba tanpa memiliki cukup ruang untuk beristirahat.

4. Kemajuan ekonomi ternyata belum cukup menciptakan kesejahteraan mental

ilustrasi pejalan kaki, perkotaan, crowd, Seoul, Korea Selatan (pexels.com/Huy Phan)

Paradoks yang terjadi di Korea Selatan bukan berarti pembangunan ekonomi telah gagal. Justru berkat pertumbuhan ekonomi yang pesat, masyarakat kini menikmati layanan kesehatan yang lebih baik, angka kematian lebih rendah, dan usia harapan hidup yang jauh lebih panjang dibandingkan generasi sebelumnya. Banyak orang tentu sepakat bahwa kemajuan tersebut membawa manfaat yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat.

Namun, pengalaman Korea Selatan juga menunjukkan bahwa kesejahteraan mental membutuhkan perhatian yang sama pentingnya. Laporan Youth Quality of Life yang diterbitkan National Statistical Research Institute pada Desember 2025 mencatat bahwa sekitar 32,2% anak muda di Korea Selatan mengalami kelelahan fisik dan mental (burnout). Angka tersebut menggambarkan bahwa tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat mengurangi kualitas hidup, meskipun seseorang tinggal di negara dengan tingkat kesejahteraan ekonomi yang tinggi.

5. Tantangan berikutnya adalah membuat hidup terasa lebih bermakna

ilustrasi anak bayi, budaya Korea Selatan (pexels.com/Ксения)

Ke depan, tantangan terbesar Korea Selatan bukan lagi sekadar membuat masyarakat hidup lebih lama. Tantangan yang gak kalah penting adalah menciptakan lingkungan yang membuat generasi mudanya dapat menikmati kehidupan dengan tekanan yang lebih seimbang. Perubahan kebijakan di bidang pendidikan, ketenagakerjaan, maupun perumahan diperkirakan akan menjadi faktor penting untuk mewujudkan hal tersebut.

Jika berbagai tekanan tersebut berhasil dikurangi, bukan tak mungkin tingkat kepuasan hidup generasi muda akan ikut meningkat. Sebaliknya, apabila tekanan tetap tinggi, angka harapan hidup yang terus bertambah belum tentu diiringi dengan meningkatnya kebahagiaan. Pengalaman Korea Selatan menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah negara gak hanya diukur dari seberapa panjang usia penduduknya, tapi juga dari seberapa puas mereka menjalani kehidupan setiap harinya.

Korea Selatan menunjukkan bahwa kemajuan sebuah negara memiliki banyak sisi. Di satu sisi, masyarakat berhasil menikmati usia yang lebih panjang berkat perkembangan ekonomi, layanan kesehatan, dan teknologi yang pesat. Di sisi lain, tekanan pendidikan, persaingan kerja, serta tingginya biaya hidup membuat banyak anak muda merasa kurang puas dengan kehidupan mereka.

Paradoks ini menjadi pelajaran bahwa membangun negara gak cukup hanya berfokus pada angka-angka pertumbuhan, tapi juga perlu memastikan masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup dengan lebih sehat secara mental dan merasa bahagia menjalani masa depan mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article