16 Orang Tewas Imbas Gelombang Panas di Korea Selatan

- Gelombang panas di Korea Selatan menewaskan sedikitnya 16 orang dan memicu gangguan kesehatan pada 2.025 orang sepanjang 15 Mei hingga 2 Agustus 2026.
- Yangsan mencatat suhu nasional tertinggi 42,5 derajat Celsius; pemerintah mengeluarkan peringatan di Seoul-Gyeonggi, menyediakan 4.000 pusat pendinginan, serta diminta memeriksa sistem kelistrikan.
- Pekerja luar ruangan menjadi kelompok paling terdampak, sementara ilmuwan memperingatkan gelombang panas makin sering dan intens akibat perubahan iklim, juga melanda Jepang serta Eropa.
Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 16 orang di Korea Selatan meninggal dunia akibat gelombang panas yang melanda negara tersebut. Data pemerintah juga menunjukkan bahwa dalam periode 15 Mei hingga 2 Agustus 2026, sebanyak 2.025 orang mengalami gangguan kesehatan akibat suhu panas.
Dalam rapat kabinet pada Selasa (4/8/2026), Presiden Lee Jae-myung mendesak para pejabat untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna melindungi aktivitas sehari-hari masyarakat. Ia juga meminta dilakukannya pemeriksaan terhadap sistem kelistrikan di tengah meningkatnya permintaan penggunaan AC.
"Kita perlu berupaya melakukan perombakan mendasar terhadap sistem penanganan krisis nasional, mengingat cuaca ekstrem kini telah menjadi hal yang lumrah," ujarnya, seperti dikutip The Guardian.
1. Suhu paling tinggi tercatat di kota Yangsan

Kota Yangsan, yang terletak di bagian tenggara, mencatat suhu 42,5 derajat Celsius pada Minggu (2/8/2026), suhu tertinggi yang pernah tercatat secara nasional dalam 122 tahun pengamatan cuaca.
Badan Meteorologi Korea juga untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan gelombang panas bagi sebagian wilayah Seoul dan provinsi Gyeonggi pada Senin (3/8/2026), sebelum memperluas cakupannya ke seluruh ibu kota keesokan harinya. Peringatan tersebut mengimbau masyarakat untuk menangguhkan aktivitas di luar ruangan dan dan banyak minum air putih.
Suhu di ibu kota mencapai 38 derajat Celsius pada siang hari dan diperkirakan hanya akan turun hingga sekitar 29 derajat Celsius pada malam hari. Pemerintah kota telah menetapkan sekitar 4 ribu fasilitas umum sebagai pusat pendinginan yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berlindung dari cuaca panas ekstrem.
2. Para pekerja luar ruangan menjadi kelompok yang paling terdampak cuaca ekstrem

Lee, seorang pria berusia 55 tahun asal Gwangmyeong yang bertugas mengumpulkan troli belanja di area parkir sebuah supermarket, mengatakan bahwa kondisi kerja saat ini sangat berat.
"Kurangnya ventilasi membuat suasananya terasa seperti berada di dalam sauna," ujarnya, dikutip The Straits Times.
Para pekerja luar ruangan menjadi kelompok yang paling terdampak oleh gelombang panas ekstrem. Seorang pekerja konstruksi di Seoul, yang diidentifikasi hanya dengan nama belakang Kim, mengatakan bahwa mereka harus bermandikan peluh setiap saat.
"Kami beristirahat selama 10 menit setiap jam, tetapi di sini bahkan tidak ada kipas angin. Jadi, yang bisa kami lakukan hanyalah duduk di tempat teduh. Saya berkeringat sangat banyak hingga pakaian saya menggesek kulit dan membuatnya lecet," keluh Kim.
3. Peristiwa cuaca ekstrem semakin sering terjadi akibat perubahan iklim

Dilansir DW, para ilmuwan telah memperingatkan peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas semakin sering terjadi dan kian intens akibat perubahan iklim. Pada musim panas tahun ini, sejumlah kota di Jepang mengalami "hari-hari yang panas menyengat" (cruelly hot days), istilah meteorologi baru yang digunakan untuk menyebut hari-hari dengan suhu ekstrem di atas 40 derajat Celsius. Kebun Binatang Tama di Tokyo baru-baru ini mengumumkan bahwa tiga ekor singa mati dalam sepekan terakhir akibat dugaan komplikasi yang dipicu sengatan panas (heatstroke).
Musim panas yang menyengat juga melanda Eropa. Di Jerman, jumlah kematian terkait gelombang panas sepanjang 2026 telah melampaui total kematian tahunan mana pun sejak 2016. Jumlah tersebut diperkirakan akan akan terus bertambah seiring datangnya gelombang suhu ekstrem berikutnya.






















