Kepadatan di lokasi pengungsian serta minimnya akses air bersih memicu lonjakan kasus penyakit menular seperti kolera dan campak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kasus suspek kolera naik tiga kali lipat dalam tiga pekan hingga mencapai total 8.034 kasus dengan 27 kematian sepanjang tahun ini. Lima provinsi penampung pengungsi di wilayah barat daya, yakni Abyan, Lahij, Al-Dhale'e, Taiz, dan Aden, menyumbang 92 persen dari total kasus tersebut.
"Keluarga yang melarikan diri dari konflik kini menghadapi ancaman lain dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati. Tanpa pendanaan mendesak serta akses tanpa hambatan ke air bersih, vaksinasi, dan layanan kesehatan penting, wabah dapat menyebar cepat di antara komunitas yang sudah rentan," tutur Direktur Darurat Regional WHO, Annette Heinzelmann.
Beban fasilitas kesehatan semakin berat karena sekitar 500 klinik di sembilan provinsi terdampak kekurangan dukungan mitra saat harus merawat ribuan korban luka akibat pertempuran. Hingga 2 Oktober, lebih dari 3.800 warga Yaman terpaksa menyeberang ke Djibouti untuk menghindari kekerasan, sementara WHO masih kekurangan dana sebesar 26,7 juta dolar AS (Ro480 miliar) untuk menjalankan respons darurat selama 90 hari di Yaman.
Di medan tempur, serangan rudal balistik Houthi ke kamp pelatihan militer al-Alam di Provinsi Shabwa pada Senin (19/10/2026) menewaskan sedikitnya 73 orang dan memicu kekurangan stok darah di rumah sakit Kota Ataq. Pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi Arab Saudi membalas rentetan serangan sejak Houthi merebut wilayah pesisir Laut Merah bulan lalu itu melalui Operasi Fajar Yaman untuk merebut kembali wilayah mereka. Koalisi pimpinan Arab Saudi mengeklaim telah menghancurkan 127 gudang senjata Houthi dan mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh.