Serangan Rudal Balistik Houthi di Yaman Tewaskan Lebih dari 53 Orang

- Serangan rudal balistik Houthi menghantam pusat pelatihan keamanan di Pangkalan Al-Alam, Shabwa, saat rekrutan baru berlatih; lebih dari 53 orang tewas dan 200 lainnya terluka.
- Jumlah korban meningkat dari laporan awal. Tim darurat mengevakuasi korban, rumah sakit menampung pasien, dan korban kritis dapat dipindahkan untuk penanganan medis lanjutan.
- Pemerintah Shabwa meminta sistem pertahanan udara, pengawasan, dan peringatan dini kepada pemerintah Yaman serta koalisi Arab Saudi, sementara Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
Jakarta, IDN Times - Lebih dari 53 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 200 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan rudal kelompok Houthi di Provinsi Shabwa, wilayah selatan Yaman, pada Senin (19/10/2026). Serangan tersebut menghantam sebuah fasilitas pelatihan keamanan saat personel keamanan internal yang baru direkrut tengah menjalani pelatihan.
Pemerintah Provinsi Shabwa menyatakan jumlah korban tersebut masih bersifat sementara dengan para korban luka dirawat di berbagai rumah sakit pemerintah dan swasta. Peristiwa ini berlangsung di tengah eskalasi pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi.
1. Rudal balistik hantam pusat pelatihan di pangkalan Al-Alam

ilustrasi pangkalan militer (National Archives at College Park, Public domain, via Wikimedia Commons) Pemerintah lokal Shabwa melalui pernyataan di platform media sosial Facebook mengonfirmasi bahwa beberapa rudal balistik menghantam Pusat Pelatihan Ahmed Al-Sulaimani. Pusat pelatihan itu berlokasi di dalam Pangkalan Militer Al-Alam di Distrik Jardan, dekat ibu kota provinsi, Ataq. Fasilitas tersebut diserang saat personel keamanan internal yang baru direkrut sedang mengikuti pelatihan kedinasan.
Dilansir Xinhua, angka korban jiwa mengalami lonjakan tajam dari data awal pihak medis lokal yang sebelumnya menyebutkan sedikitnya 25 tentara tewas dan lebih dari 30 orang luka-luka akibat tiga rudal. Tim darurat terus mengevakuasi para korban dari lokasi kejadian sementara rumah sakit disiagakan untuk menerima para korban luka. Pasien yang berada dalam kondisi kritis rencananya akan dipindahkan ke fasilitas medis khusus apabila diperlukan penanganan lebih lanjut.
2. Pemerintah Shabwa desak penyediaan sistem pertahanan udara

ilustrasi sistem pertahanan udara (unsplash.com/Gábor Szűts) Menanggapi insiden tersebut, otoritas Shabwa mendesak pemerintah Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi untuk memperkuat kemampuan pertahanan di provinsi yang kaya akan minyak itu. Mereka secara spesifik meminta penyediaan sistem pertahanan udara, sistem pengawasan, serta sistem peringatan dini untuk melindungi wilayah tersebut.
Pemerintah setempat menegaskan bahwa tragedi tersebut menuntut langkah konkret dari pihak pemerintah dan koalisi sekutu. "Skala tragedi ini tidak bisa hanya ditanggapi dengan kecaman semata, melainkan memerlukan langkah-langkah militer dan keamanan mendesak untuk mencegah serangan serupa terulang kembali," tegas otoritas lokal Shabwa seperti dikutip Anadolu.
3. Houthi klaim serang pasukan yang didukung Arab Saudi

Pasukan Houthi (Henry Ridgwell, Public Domain, via Wikimedia Commons) Kelompok Houthi kemudian mengeklaim bertanggung jawab atas serangan yang menyasar instalasi militer di Provinsi Shabwa tersebut. Saluran televisi al-Masirah milik kelompok Houthi mengutip sumber militer yang menyebut pasukannya telah menyerang perkumpulan dari apa yang mereka sebut sebagai "pasukan yang didukung Arab Saudi" di Pangkalan Militer Al-Alam. Pangkalan Al-Alam sendiri merupakan fasilitas militer besar yang digunakan oleh pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Melalui siaran televisi tersebut, kelompok Houthi turut memperbarui seruan kepada "seluruh rakyat Yaman" untuk meninggalkan kamp militer yang menurut klaim mereka menjadi lokasi mobilisasi pasukan oleh Arab Saudi. Konflik di Yaman sendiri telah berkecamuk sejak akhir 2014 ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara negara itu. Koalisi pimpinan Arab Saudi kemudian melakukan intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui komunitas internasional.























