Ilustrasi alam di Kenya (pixabay.com/jonny_joka)
Mackenzie yang dulunya bekerja sebagai sopir taksi pada awal 2000-an mendirikan Good News International Church pada 2003. Selama 16 tahun beroperasi, gereja ini berkembang pesat dan menarik ribuan pengikut lewat cabang di Nairobi serta pesisir Malindi, ditambah siaran khotbah melalui saluran televisi miliknya, Times TV, maupun internet. Dalam khotbah akhir zamannya, ia menyebarkan teori konspirasi bahwa pendidikan adalah kejahatan, layanan kesehatan melanggar doktrin agama, dan kartu identitas digital adalah tanda iblis, serta sempat meramalkan kedatangan virus besar sesaat sebelum pandemi COVID-19 melanda.
Pihak berwenang sebenarnya telah memantau aktivitas Mackenzie sejak menggeledah tempatnya dan menangkapnya atas tuduhan radikalisasi pada 2017, tetapi ia dibebaskan oleh pengadilan. Ia kembali ditangkap pada 2019 terkait kematian dua anak, tetapi dilepaskan dengan jaminan karena kurangnya bukti. Setelah gerejanya di Malindi ditutup pada 2019, Mackenzie memindahkan pengikutnya untuk tinggal di gubuk lumpur di lahan terpencil seluas 324 hektare di Peternakan Chakama, Hutan Shakahola, lalu membagi mereka ke dalam kelompok kecil bernama Alkitab untuk berpuasa bersama hingga mati.
Kasus ini baru terbongkar pada April 2023 ketika polisi menangkap Mackenzie berkat laporan kelompok hak asasi manusia dan menyelamatkan sejumlah pengikut yang nyaris tewas kelaparan. Penggalian kuburan dangkal dan lubang kakus tempat sebagian korban dikubur hidup-hidup di hutan tersebut bahkan sempat dihentikan sementara karena kamar mayat setempat kehabisan ruang. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya mencatat total 448 jasad ditemukan di Hutan Shakahola, sehingga jika digabungkan dengan 52 jasad di desa sekitar, total korban tewas mencapai 500 orang dan baru lebih dari 60 jasad yang berhasil diidentifikasi keluarga.
Skala tragedi ini dinilai sebanding dengan pembantaian sekte di Uganda pada 2000 yang menewaskan lebih dari 700 orang dan tragedi Jonestown di Guyana pada 1978 yang menewaskan lebih dari 900 orang. Publik sempat marah setelah penyelidikan komisi hak asasi manusia mengungkap bahwa pejabat daerah, polisi, dan intelijen berulang kali menutup mata terhadap tanda bahaya aktivitas sekte tersebut.
"Tidak ada yang bisa meredakan rasa sakit ini. Saya sangat marah kepada pihak berwenang, karena jika mereka segera mengambil tindakan saat itu, kami tidak akan berada di situasi seperti hari ini," tutur Francis Wanje, seorang guru berusia 62 tahun yang kehilangan delapan kerabat termasuk dua cucunya di Hutan Shakahola, dilansir CBS News.