Perdana Menter Kanada Mark Carney (World Economic Forum, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Perang dagang Trump telah mendorong perubahan dalam cara Kanada melihat hubungannya dengan AS. Hubungan kedua negara sebelumnya sangat terintegrasi, bukan hanya dalam perdagangan, tetapi juga pertahanan, keamanan, budaya, dan mobilitas penduduk.
Sebelum hubungan memburuk, sekitar 400 ribu orang melintasi perbatasan Kanada-AS setiap hari. Kedua negara juga memiliki jaringan rantai pasok yang sangat erat, setelah bertahun-tahun membangun kerja sama ekonomi Amerika Utara.
Namun, kebijakan Trump telah mengubah persepsi tersebut. Warga Kanada mulai mengurangi perjalanan ke AS, dan melakukan boikot terhadap sejumlah produk Amerika.
Profesor ilmu politik University of Toronto, Nelson Wiseman, mengatakan terpilihnya kembali Trump semakin memperdalam ketidakpercayaan masyarakat Kanada terhadap AS. Menurutnya, persoalan tersebut bahkan tidak lagi sebatas ketidakpercayaan terhadap pemerintah AS, tetapi juga terhadap penilaian masyarakat Kanada mengenai Amerika secara lebih luas.
“Hubungan Kanada-AS, bahkan tanpa konfrontasi, tidak akan pernah seperti sebelum Trump,” ujarnya.
Carney sendiri mulai tampil sebagai salah satu suara internasional yang mendorong negara-negara lain untuk menghadapi tekanan ekonomi dari AS. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Januari, ia memperingatkan kekuatan besar menggunakan integrasi ekonomi sebagai alat untuk menekan negara yang lebih kecil.
Pidato tersebut ikut mengukuhkan posisi Carney sebagai salah satu pemimpin yang paling vokal dalam menghadapi kebijakan ekonomi Trump. Pekan depan, ia dijadwalkan berbicara di Parlemen Eropa, yang akan memberinya panggung internasional lainnya.
Bagi Kanada, keberhasilan menghadapi Trump juga dapat memberikan contoh bagi negara-negara lain. Jika Ottawa mampu mempertahankan kepentingannya tanpa mengalami kerusakan ekonomi besar, strategi tersebut dapat menjadi model bagi negara lain yang menghadapi tekanan serupa dari Washington.
“Jika pendekatan Kanada yang tegas berhasil, hal itu dapat digunakan sebagai cetak biru untuk menghadapi kebijakan perdagangan pemerintahan Trump,” kata Daniel Béland, ilmuwan politik dari McGill University.
Namun, perang dagang masih jauh dari selesai. Trump telah menunjukkan kesediaan untuk meningkatkan tekanan, sementara Kanada juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah begitu saja.
Menteri Industri Kanada Mélanie Joly bahkan menyatakan keyakinannya negaranya akan mampu melewati konflik tersebut.
“Saya yakin kami akan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Kanada akan memenangkan perang dagang ini,” kata Joly.
Dengan demikian, pertarungan Kanada dan AS bukan hanya persoalan tarif senilai puluhan miliar dolar. Konflik tersebut menjadi ujian bagi kemampuan negara yang ekonominya lebih kecil untuk mempertahankan industri, kedaulatan ekonomi, dan ruang kebijakan ketika berhadapan dengan negara adidaya yang menjadi mitra dagang terbesarnya.