Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Nepal Gelar Hari Berkabung usai Banjir Tewaskan 1.300 Orang

Nepal Gelar Hari Berkabung usai Banjir Tewaskan 1.300 Orang
bendera Nepal (unsplash.com/Walter Coppola)
  • Nepal menetapkan hari berkabung nasional pada 7 September 2026, mengibarkan bendera setengah tiang, sementara keluarga korban menjalankan ritual duka dan aksi menuntut percepatan pencarian.
  • Operasi penyelamatan difokuskan pada 12 proyek PLTA rusak; sekitar 900 pekerja hilang, termasuk perkiraan 500 orang terjebak di terowongan, dengan empat penyintas berhasil dievakuasi.
  • Banjir bandang sejak 26 Agustus menewaskan sedikitnya 1.380 orang di Nepal dan Tibet, menyebabkan lebih dari 5.500 hilang serta kerusakan infrastruktur dan permukiman bernilai besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nepal menetapkan hari berkabung nasional pada Senin (7/9/2026) untuk mengenang ribuan korban tewas dan hilang akibat bencana banjir bandang. Seluruh kantor pemerintah dan perwakilan diplomatik Nepal di luar negeri mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda penghormatan.

Momen duka ini bertepatan berakhirnya masa berkabung bagi mayoritas penganut Hindu. Sejumlah keluarga yang belum menemukan jasad kerabat juga melangsungkan ritual kremasi simbolis.

  1. 1. Bertepatan berakhirnya masa berkabung masyarakat Hindu

    ilustrasi masa berkabung
    ilustrasi masa berkabung (unsplash.com/Inna Safa)

    Berdasarkan tradisi Hindu yang dianut mayoritas masyarakat Nepal, masa berduka biasanya berlangsung selama 13 hari. Selama periode tersebut, kerabat dekat berdiam di dalam rumah dan menerima kunjungan pelayat sebelum menggelar doa pada hari penutup.

    Di tengah suasana duka ini, para warga di ibu kota Kathmandu turut menyalakan lilin doa di sejumlah area terbuka. Pemerintah Nepal sendiri memutuskan tidak menggelar agenda seremonial kenegaraan berskala besar karena keterbatasan sarana penunjang.

    "Tidak ada program pemerintah yang diselenggarakan karena operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di daerah terdampak banjir," kata pejabat Pusat Operasi Darurat Nasional Nepal (NEOC) Phanindra Paudel, dilansir Al Jazeera.

    Pada saat yang sama, puluhan kerabat korban menggelar aksi damai di dekat kantor perdana menteri di Kathmandu. Massa membawa poster foto kerabat mereka sambil mendesak aparat mempercepat pencarian para pekerja yang tertimbun material longsor.

  2. 2. Pencarian pekerja di terowongan PLTA terus berlanjut

    ilustrasi banjir
    ilustrasi banjir (unsplash.com/Wes Warren)

    Fokus utama operasi pencarian kini dipusatkan pada 12 proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang rusak akibat banjir. Sekitar 900 pekerja dilaporkan hilang dengan perkiraan 500 orang di antaranya masih terjebak di dalam terowongan air.

    Petugas dilaporkan berhasil mengevakuasi empat orang dalam kondisi hidup pada Jumat dan Sabtu. Para penyintas meliputi seorang warga negara China, dua pekerja lokal proyek PLTA, serta seorang wanita lansia dari timbunan rumah di Distrik Nuwakot.

    Pakar evakuasi terowongan bawah tanah asal Australia, Arnold Dix, ikut membantu merancang strategi penyelamatan. Ia mengingatkan bahwa operasi ini sangat rumit lantaran tim penolong harus menangani berbagai titik sekaligus.

    "Fokus kami adalah pencarian dan penyelamatan pada tiga tingkatan, di darat, melalui udara, dan di dalam terowongan," tutur juru bicara Angkatan Darat Nepal Raja Ram Basnet, dilansir Euronews.

  3. 3. Total 1.380 orang tewas akibat banjir di Nepal

    Banjir di Nepal terjadi pada 26 Agustus 2026 akibat runtuhnya dinding gletser serta tebing batu di perbatasan Nepal dan Tibet. Reruntuhan material tersebut memicu gelombang banjir lumpur pekat di sepanjang Daerah Aliran Sungai Bhotekoshi.

    Banjir bandang itu merenggut sedikitnya 1.380 korban jiwa di Nepal dan kawasan Tibet, dengan korban hilang melebihi 5.500 orang. Dari ribuan korban hilang yang belum ditemukan, sekitar 800 orang merupakan warga negara asing.

    Fasilitas kamar mayat rumah sakit setempat dilaporkan penuh akibat lonjakan penerimaan jasad para korban. Kondisi tersebut memaksa petugas memakamkan ratusan jenazah di kuburan massal yang belum dapat diidentifikasi.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan kerugian akibat kerusakan bangunan tempat tinggal saja telah menyentuh angka 158 juta dolar AS (Rp2,7 triliun). Total kerugian ekonomi juga diperkirakan tinggi mengingat kerusakan parah pada jembatan antardaerah, akses jalan raya, dan lahan pertanian warga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More