Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan akan mengundurkan diri dari jabatannya setelah menghadapi tekanan yang semakin besar dari anggota Partai Buruh, termasuk sejumlah menteri kabinet.
Pengumuman itu disampaikan Starmer dalam pernyataan di depan Downing Street, Senin (22/6/2026) waktu setempat. Keputusan tersebut membuka jalan bagi perebutan kepemimpinan Partai Buruh sekaligus menentukan perdana menteri Inggris berikutnya.
Kurang dari dua tahun setelah membawa Partai Buruh meraih kemenangan telak dalam pemilu, posisi Starmer terus diguncang oleh merosotnya popularitas partai dan meningkatnya ancaman dari Reform UK yang dipimpin Nigel Farage.
Kembalinya Andy Burnham ke parlemen melalui kemenangan dalam pemilihan sela Makerfield semakin memperkuat desakan agar Starmer memberi jalan bagi pemimpin baru.
“Pertanyaan yang diajukan partai saya sekarang adalah apakah saya masih orang yang paling tepat untuk memimpin menuju pemilu berikutnya,” kata Starmer dalam pidatonya, dikutip dari BBC.
“Saya telah mendengar jawaban dari fraksi parlemen partai saya atas pertanyaan itu, dan saya menerimanya dengan lapang dada. Setiap keputusan yang saya ambil selalu tentang menempatkan negara yang saya cintai di urutan pertama, itulah sebabnya saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh,” ujar dia.
Starmer mengatakan, dirinya akan meminta Komite Eksekutif Nasional Partai Buruh menyusun jadwal pemilihan pemimpin baru. Proses pencalonan akan dimulai pada 9 Juli dan ditargetkan selesai sebelum parlemen memasuki masa reses musim panas.
Dia akan tetap menjabat sebagai perdana menteri hingga parlemen kembali bersidang pada September mendatang dan masih akan mewakili Inggris dalam KTT NATO pada awal Juli.
