Nakes Tangani Ebola di RD Kongo Protes, Gaji 3 Bulan Belum Cair

- Puluhan tenaga kesehatan penanganan Ebola di Provinsi Ituri, RD Kongo, memprotes gaji dan tunjangan yang tertunda hampir tiga bulan serta mengirim surat terbuka kepada Presiden Felix Tshisekedi.
- Respons wabah terkendala ancaman keamanan, pembubaran demonstrasi oleh polisi, penolakan warga, disinformasi, dan perusakan ambulans yang mengganggu evakuasi pasien.
- Sejak diumumkan pada 15 Mei, wabah Ebola mencatat 3.802 kasus dan 1.707 kematian; WHO melaporkan pengujian vaksin serta terapi strain Bundibugyo menunjukkan hasil positif.
Jakarta, IDN Times - Puluhan tenaga kesehatan yang menangani wabah ebola di Republik Demokratik Kongo menggelar aksi protes pada Selasa (4/8/2026). Mereka menuntut pembayaran gaji dan tunjangan yang belum diterima selama hampir tiga bulan.
Aksi ini berlangsung di tengah upaya pemerintah menangani wabah Ebola di Kongo timur. Para tenaga kesehatan memperingatkan bahwa keterlambatan gaji berpotensi mengganggu layanan medis dan respons darurat di lapangan.
1. Tenaga kesehatan tuntut pencairan gaji dan tunjangan
Demonstrasi berlangsung di sejumlah pusat penanganan Ebola di Provinsi Ituri, yakni Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu. Para petugas berkumpul di luar fasilitas medis untuk mendesak pemerintah segera mencairkan hak-hak mereka.
Selain berunjuk rasa, para tenaga medis juga mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Felix Tshisekedi. Mereka menegaskan bahwa masalah gaji ini mengancam keberlangsungan penanganan wabah Ebola.
"Kami berkumpul di luar fasilitas medis untuk mendesak pencairan gaji dan tunjangan kami yang tertunda," ujar salah satu demonstran, dilansir CNBC Africa.
2. Masalah keamanan hambat penanganan wabah Ebola
Selain keterlambatan gaji, para tenaga medis harus menghadapi ancaman keamanan di lapangan. Di Mongbwalu, kepolisian bahkan membubarkan aksi demonstrasi petugas kesehatan yang berlangsung di luar rumah sakit.
Di beberapa wilayah lain, upaya penanganan Ebola terhambat oleh penolakan warga serta maraknya disinformasi. Beberapa fasilitas operasional, seperti ambulans, bahkan menjadi sasaran perusakan hingga mengganggu evakuasi pasien.
"Kondisi tidak adil ini sangat membahayakan kelanjutan upaya penanganan wabah di lapangan," tulis para pekerja kesehatan dalam suratnya kepada Presiden Felix Tshisekedi.
3. Wabah Ebola di Kongo capai ribuan kasus
Wabah Ebola di Kongo saat ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah. Pemerintah melaporkan terdapat 3.802 kasus infeksi dan 1.707 korban jiwa sejak wabah resmi diumumkan pada 15 Mei.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pengujian vaksin serta terapi untuk strain Ebola Bundibugyo menunjukkan hasil yang positif. Namun, keberhasilan penanganan wabah tetap bergantung pada dukungan bagi tenaga kesehatan dan stabilitas keamanan.
"Pengujian obat eksperimental, pencegahan, dan vaksin untuk strain Ebola Bundibugyo menunjukkan hasil yang menjanjikan," kata perwakilan WHO.









.jpg)









