Jakarta, IDN Times - Nama Dino Patti Djalal kembali ramai diperbincangkan, bukan karena jabatan baru atau penghargaan, melainkan karena sebuah video tujuh menit yang ia unggah sendiri di media sosial. Dalam video itu, ia menyebut Presiden Prabowo Subianto sebagai kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri di antara para pemimpin dunia.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan luar negeri. Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri,” ujar Dino dalam video yang diunggah di media sosialnya akhir Mei lalu.
Kritik itu bukan lahir dari sosok yang asing dengan dunia diplomasi. Dino Patti Djalal adalah salah satu diplomat senior paling berpengalaman yang pernah dimiliki Indonesia, juru bicara presiden terlama di era modern, mantan duta besar untuk Amerika Serikat, sekaligus mantan Wakil Menteri Luar Negeri.
Dikutip dari laman website-nya, Dino lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965, Dino tumbuh dalam keluarga diplomat. Ayahnya, Hasjim Djalal, adalah pakar hukum laut internasional yang dikenal sebagai salah satu tokoh kunci di balik lahirnya United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Masa kecil Dino dihabiskan berpindah-pindah negara mengikuti penugasan sang ayah, dari Jakarta, Guinea, Singapura, Washington DC, New York, Ottawa, hingga Vancouver. Lingkungan itulah yang sejak dini membentuk kepekaan globalnya.
Pendidikan tingginya pun ia tempuh seluruhnya di luar negeri. Dino meraih gelar sarjana Ilmu Politik dari Carleton University di Kanada, kemudian magister dari Simon Fraser University, juga di Kanada, dan menuntaskan gelar doktor Hubungan Internasional dari London School of Economics and Political Science (LSE) di Inggris. Kombinasi latar belakang keluarga diplomat dan pendidikan bertaraf internasional itu kelak menjadi fondasi kokoh perjalanan karier panjangnya.
