Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Iran Ancam Serangan Baru jika Blokade Selat Hormuz Tak Berakhir

4 min read
Iran Ancam Serangan Baru jika Blokade Selat Hormuz Tak Berakhir
Kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • Iran menunggu jawaban resmi AS mengenai proposal pembukaan kembali Selat Hormuz.

  • Teheran mengajukan syarat, termasuk gencatan senjata tujuh hari dan penghentian sejumlah tekanan ekonomi serta blokade.

  • Iran dan AS masih berbeda klaim mengenai status Selat Hormuz, sementara pembicaraan pembukaannya berlanjut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa yang paling menentukan pembukaan Selat Hormuz?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Iran kembali meningkatkan retorika terkait kebuntuan pembukaan Selat Hormuz dengan mengancam serangan terhadap infrastruktur di kawasan Timur Tengah. Ancaman itu disampaikan ketika Teheran masih menunggu tanggapan resmi Amerika Serikat (AS) mengenai proposal untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan tidak ada infrastruktur di kawasan yang akan aman jika keamanan Iran tidak dijamin. Ghalibaf yang juga menjabat Ketua Parlemen Iran menyampaikan pernyataan tersebut dalam video yang dirilis televisi pemerintah Iran.

“Di kawasan di mana kami tidak dapat menjual minyak, tidak ada pihak lain yang akan menjual minyak juga; atau jika keamanan kami tidak dijamin, tidak ada infrastruktur yang akan tetap aman,” kata Ghalibaf, seperti dilansir dari AFP, Rabu (30/9/2026).

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran mengharapkan jawaban resmi dari Washington pada Rabu. Pernyataan itu disampaikan setelah Qatar menjadi perantara dalam pembicaraan terkait proposal Iran mengenai pembukaan Selat Hormuz.

  1. 1. Iran tunggu jawaban AS soal Selat Hormuz

    Abbas Aragchi sedang menghadiri pertemuan.
    potret Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi (commons.wikimedia.org/محمد برنو)

    Araghchi mengatakan para mediator Qatar telah menyampaikan sejumlah gagasan kepada Iran. Menurutnya, pembahasan selanjutnya akan dilakukan dengan pihak Amerika Serikat sebelum jawaban resmi Washington disampaikan kepada Teheran.

    “Pihak Qatar menyampaikan sejumlah gagasan dan kami mendiskusikannya. Mereka akan kembali membahas persoalan ini dengan pihak Amerika, setelah itu jawaban final dari AS akan disampaikan kepada kami,” kata Araghchi.

    Araghchi yang berada di New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB mengatakan Qatar berharap proses tersebut dapat berlangsung dalam waktu dekat.

    “Fokus saat ini semata-mata pada Selat Hormuz, dan pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan yang telah kami sampaikan kepada pihak lain,” ujarnya.

    Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menolak proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Menteri Luar Negeri Iran mengatakan dirinya masih menunggu tanggapan resmi Washington terkait proposal tersebut.

  2. 2. Iran ajukan sejumlah syarat

    potret Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi
    potret Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi (By Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

    Pembahasan mengenai Selat Hormuz berlangsung setelah pertemuan antara Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff serta Jared Kushner di New York pada pekan lalu. Iran mengajukan sejumlah persyaratan sebagai bagian dari upaya mengakhiri blokade jalur pelayaran tersebut.

    Iran menuntut gencatan senjata selama tujuh hari di seluruh kawasan Timur Tengah, termasuk Lebanon. Di negara tersebut, kelompok Hezbollah yang merupakan sekutu Iran disebut masih menjadi sasaran serangan Israel.

    Teheran juga meminta pembekuan aset Iran di luar negeri dihentikan, sanksi terhadap sektor minyak Iran dicabut, serta blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran diakhiri.

    Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia diangkut melalui jalur tersebut.

    Sejak perang dimulai pada akhir Februari setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, Teheran mempertahankan blokade terhadap pelayaran komersial melalui Hormuz. Sementara itu, militer AS disebut mempertahankan blokade tandingan terhadap pelabuhan Iran untuk mencegah Teheran mengekspor minyak.

  3. 3. Iran dan AS beda klaim soal Hormuz

    Selat Hormuz.
    potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/European Space Agency)

    Status Selat Hormuz juga menjadi sumber perbedaan klaim antara Iran dan AS. Washington menyatakan masih terdapat pengiriman minyak melalui jalur tersebut, sedangkan Teheran bersikeras bahwa selat itu tetap ditutup.

    Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang merupakan bagian ideologis dari militer negara tersebut, kembali membantah klaim AS bahwa Selat Hormuz masih terbuka.

    “Pernyataan AS bahwa selat tersebut masih terbuka adalah tidak benar,” kata juru bicara IRGC Hossein Mohebi.

    Mohebi mengatakan keberadaan sejumlah kecil kapal yang berhasil melewati jalur tersebut tidak dapat disebut sebagai kondisi selat yang terbuka.

    “Menyelundupkan beberapa ratus barel minyak dalam kegelapan—dengan transponder dimatikan dan dengan biaya besar—tidak berarti selat tersebut terbuka,” ujarnya.

    “Selat yang benar-benar terbuka adalah ketika, seperti sebelumnya, setidaknya 125 kapal melintas setiap hari, mengangkut sedikitnya 20 juta barel minyak dan produk minyak,” lanjut Mohebi.

    Ia juga menyampaikan peringatan terhadap kapal yang mencoba melintas.

    “Setiap kapal yang mencoba melintas akan mengalami kerusakan—entah kami yang menyerangnya, atau kapal tersebut terkena ranjau,” katanya.

    Di tengah perbedaan klaim tersebut, pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada respons AS terhadap proposal Iran. Hingga saat ini, Trump telah menyatakan penolakan terhadap proposal tersebut, sementara Teheran menunggu jawaban resmi Washington. bagasi akan sepenuhnya kembali seperti semula. Maskapai masih berfokus membersihkan penumpukan bagasi yang terjadi setelah banjir mengganggu akses para pekerja menuju bandara.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More