Ilustrasi kapal tanker. (pexels.com/Luis Morales Torres)
Para ahli mengatakan dampak bagi Korsel akan jauh melampaui kenaikan tagihan impor minyak dan gas. Kang Sung-jin, profesor ekonomi di Korea University, mengatakan bukan hanya impor minyak mentah yang berisiko, tetapi logistik dan transportasi untuk ekspor dan impor juga terganggu (dalam jangka panjang). Ia juga mencatat bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mengisyaratkan operasi militer terhadap Iran akan berlangsung setidaknya empat hingga lima minggu.
"Karena minyak biasanya diimpor berdasarkan kontrak di muka, biasanya ada jeda sekitar 3-5 bulan sebelum perubahan harga spot tercermin dalam biaya impor Korea. Sementara itu, bahkan sebelum dampak sektor riil dirasakan, ketidakpastian yang meningkat cenderung membebani investasi dan dengan cepat tercermin dalam harga saham dan terutama nilai tukar," kata Kang, dikutip dari The Korea Times.
Jang Sang-sik, kepala analisis tren perdagangan di Asosiasi Perdagangan Internasional Korea mengatakan jika situasi ini berlarut-larut, kenaikan biaya hampir tidak dapat dihindari. Sebab, biaya tambahan risiko perang, premi asuransi, dan biaya pengiriman kemungkinan besar akan meningkat.
Pada 2 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz tertutup. Mereka mengancam akan membakar kapal-kapal yang mencoba melewati jalur air tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap salah satu jalur ekspor minyak terpenting di dunia. Di sisi lain, Komando Pusat militer AS membantah selat tersebut telah ditutup.