AS Sebut Punya Opsi untuk Tangkap Presiden Kuba

- Menteri Perang AS Pete Hegseth menyebut ada opsi operasi untuk menangkap Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, meniru langkah terhadap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
- Hegseth menegaskan semua rencana masih menunggu keputusan Presiden Donald Trump dan memperingatkan Kuba agar tidak mengakses senjata jarak jauh yang bisa mengancam wilayah AS.
- Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan Hegseth ke pangkalan militer Guantanamo, di tengah upaya diplomasi CIA dengan Havana untuk meredakan ketegangan kedua negara.
Jakarta, IDN Times - Menteri Perang Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth mengungkapkan terdapat opsi untuk operasi penangkapan Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel. Ia menyebut, operasi itu akan seperti penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
“Kami memiliki opsi di mana pun. Entah itu operasi untuk menangkap atau membunuh dan Diaz Canel masuk dalam opsi tersebut,” terangnya, dikutip dari EFE, Kamis (11/6/2026).
Beberapa hari terakhir, hubungan Amerika Serikat (AS) dan Kuba sudah terlibat ketegangan. Alhasil, Kuba terdampak krisis energi besar imbas blokade AS sejak awal 2026.
1. Sebut Pentagon selalu merencanakan yang terbaik

Hegseth mengungkapkan bahwa Pentagon akan selalu merencanakan yang terbaik dalam operasinya. Tidak ada yang merencanakan lebih dari Komando Pusat Militer AS.
“Terdapat banyak tekanan kepada rezim Kuba saat ini dan ini adalah alasan yang baik. Mereka punya keputusan besar yang harus dibuat dan terkadang pemimpin membuat keputusan yang salah ketika mereka ditekan,” tuturnya.
Namun, Menteri Perang AS itu mengaku bahwa semua operasi itu masih rencana. Semua keputusan berada di tangan pemimpin tertinggi, yakni Presiden AS, Donald Trump.
2. Peringatkan Kuba agar tidak mengancam AS

Pada saat yang sama, Hegseth memperingatkan Havana agar tidak mengancam Washington. Menurutnya, terdapat upaya Kuba untuk mendapatkan akses senjata yang bisa mencapai pangkalan militer AS atau teritori AS.
“Ini akan menjadi kecerobohan besar dari pemerintah Kuba jika berniat mendapatkan atau mengakses senjata jarak jauh untuk dapat mencapai teritori AS. Kami tidak mencari musuh atau pihak yang menentang,” terangnya, dikutip dari The Guardian.
Menteri Perang AS itu menegaskan bahwa masa depan Kuba ada di tangan pemimpinnya dan Trump. Apapun yang terjadi di Kuba nanti, militer AS akan mempersiapkan segalanya.
3. Hegseth mengadakan kunjungan ke Guantanamo

Pernyataan ini disampaikan dalam kunjungan Hegseth ke pangkalan militer AS di Teluk Guantanamo. Pangkalan militer tersebut diketahui berada di tengah Kuba yang berfungsi sebagai penjara usai serangan 11 September 2001 di New York.
Pada akhir Mei, Kepala CIA, John Ratcliffe sudah mengadakan kunjungan ke Havana. Kunjungan itu sebagai bentuk negosiasi antara AS dan Kuba dalam menyelesaikan ketegangan dalam beberapa bulan terakhir.
















