Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Survei: Dukungan Warga AS untuk Perang Iran Anjlok ke Rekor Terendah
unjuk rasa menolak perang dengan Iran pada 2020 (Anthony Crider, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Survei Reuters/Ipsos mencatat dukungan warga AS terhadap perang Iran turun menjadi 31 persen, dipicu merosotnya persetujuan pemilih Republik; kepuasan terhadap Presiden Donald Trump bertahan di 33 persen.
  • Blokade Iran di Selat Hormuz mengganggu pasokan minyak dan menaikkan harga bensin lebih dari 1 dolar AS per galon, menambah tekanan biaya hidup menjelang pemilu sela.
  • AS menyiapkan sanksi Operation Economic Outcast terhadap lima sektor vital Iran serta entitas terkait perdagangan Teheran, sementara opsi serangan militer tetap terbuka di tengah negosiasi mandek.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dukungan publik Amerika Serikat (AS) terhadap perang melawan Iran merosot ke level terendah sejak konflik dimulai pada Februari lalu. Berdasarkan survei terbaru Reuters/Ipsos yang dirilis pada Senin (24/8/2026), hanya 31 persen warga AS yang mendukung aksi militer tersebut. Angka ini terus menurun dibanding 37 persen pada Maret dan 34 persen pada awal bulan ini.

Penurunan dukungan dari pemilih Partai Republik menjadi pemicu utama tren kemerosotan tersebut. Di saat yang sama, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Donald Trump masih berada di titik terendah.

1. Popularitas Trump berada di titik terendah

Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kepuasan publik terhadap kepemimpinan Trump kini hanya menyentuh 33 persen dalam dua survei beruntun. Angka tersebut menyamai rekor terendah sepanjang masa jabatan pertama dan keduanya di Gedung Putih.

Penurunan dukungan terhadap perang terlihat jelas di kalangan partai pendukungnya. Pemilih Republik yang menyetujui perang di Iran turun dari 77 persen pada Maret menjadi 69 persen.

Mayoritas responden sebesar 83 persen juga meyakini bahwa perang akan berlangsung lebih lama. Survei pada Juli mencatat bahwa 69 persen responden menilai pemerintah belum menjelaskan arah perang di Iran dengan baik. Namun, Trump dan stafnya sendiri kerap meremehkan hasil survei.

"Hal terpenting bagi rakyat Amerika adalah memiliki Panglima Tertinggi yang mengambil tindakan tegas untuk melenyapkan ancaman dan menjaga mereka tetap aman," kata Juru Bicara Gedung Putih Davis Ingle, dilansir USA TODAY.

2. Kenaikan harga bahan bakar bayangi pemilu sela

kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Dampak ekonomi akibat perang kini menjadi sumber kekhawatiran utama bagi masyarakat di AS. Blokade yang diterapkan Iran di Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan pasokan minyak mentah dunia.

Harga bensin tercatat naik lebih dari satu dolar AS (sekitar Rp17 ribu) per galon dibanding sebelum pecahnya perang. Kondisi ini bertolak belakang dengan janji kampanye Trump yang bertekad menurunkan angka inflasi dan menghindari keterlibatan militer di luar negeri.

Tekanan biaya hidup berisiko mengganggu performa politisi Partai Republik di pemilihan umum sela mendatang. Sebanyak 33 persen pemilih independen menyatakan akan mendukung kandidat Demokrat, sementara yang akan mendukung Republik hanya berjumlah 19 persen.

3. AS siapkan sanksi baru ke Iran akibat mandeknya negosiasi

Ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah mengumumkan rencana penjatuhan sanksi bertajuk Operation Economic Outcast pada Senin. Kebijakan ini menargetkan lima sektor vital Iran, yaitu aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan jasa perkapalan.

Departemen Keuangan AS juga membidik puluhan entitas, kapal, dan individu asing yang membantu aktivitas perdagangan Teheran. Bessent menyatakan bahwa Washington berkomitmen meningkatkan isolasi perekonomian Iran.

"Tujuan kami adalah memutuskan setiap urat nadi ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran berdiri sendiri," ujar Bessent, dilansir Al Jazeera.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk kembali melancarkan serangan militer. Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan tidak gentar dan telah menyiapkan rencana jangka panjang guna menghadapi tekanan ekonomi AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article