100 Hari Wabah Ebola, RD Kongo Perluas Upaya Hentikan Penyebaran

- Seratus hari setelah diumumkan, wabah Ebola di RD Kongo mencatat 5.515 kasus dan 2.642 kematian, menyebar ke enam provinsi serta menjadi wabah paling mematikan di negara itu.
- WHO menyatakan wabah belum terkendali; strain Bundibugyo belum memiliki vaksin atau pengobatan khusus, sementara konflik, pengungsian, kelaparan, dan keterbatasan peralatan menghambat penanganan.
- Respons diperluas melalui 19 lokasi tes, 1.300 tempat tidur, pelacakan kontak, dan uji vaksin; 2.890 sekolah di 18 distrik berisiko beralih sementara ke pembelajaran jarak jauh.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan perlunya peningkatan skala tanggap darurat seiring wabah Ebola di Republik Demoratik (RD) Kongo yang terus meluas. Hingga Senin (24/8/2026), tepat 100 hari sejak wabah diumumkan, tercatat 5.515 kasus dan 2.642 kematian, dengan tingkat fatalitas sekitar 48 persen. Jumlah kematian tersebut menjadikan wabah ini yang paling mematikan dalam sejarah negara tersebut, melampaui wabah 2018-2020 yang menewaskan 2.299 orang.
Peringatan badan kesehatan PBB tersebut menyoroti penyebaran virus yang kini telah melanda enam provinsi. Provinsi Ituri masih menjadi pusat utama penyebaran, dengan menyumbang sekitar 85 persen total kasus dan 79 persen kematian. Upaya penanganan juga menghadapi berbagai hambatan, termasuk bentrokan antarkelompok bersenjata, pengungsian, hingga krisis kelaparan, UN News melaporkan.
1. WHO: Wabah Ebola di RD Kongo belum terkendali

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. (x.com/WHO) Pada 19 Agustus 2026, Kementerian Komunikasi dan Media RD Kongo mengatakan bahwa terjadi lonjakan pada kasus di luar Ituri, termasuk di Kivu Utara, Haut-Uele, Tshopo, dan Bas Uele. Total distrik kesehatan yang terdampak di seluruh negeri kini mencapai 56 wilayah, sehingga menekan kapasitas fasilitas kesehatan secara ekstrem.
Sebelumnya, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan dalam pertemuan darurat pada 18 Agustus 2026 bahwa epidemik ini masih jauh dari terkendali. Ia menyerukan dukungan internasional untuk memperkuat upaya menghentikan penularan.
"Wabah tersebut menyebar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Wabah tidak akan berakhir sebelum seluruh rantai penularan ditemukan dan diputus. Lokasi sejumlah kematian menunjukkan kemungkinan adanya penularan yang belum terdeteksi," kata Tedros, dikutip dari Al Jazeera.
Kekhawatiran meningkat karena virus penyebab wabah ini merupakan strain Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui secara khusus.
Analisis pengurutan genetik WHO mengindikasi virus telah menyebar sejak Februari, sekitar tiga bulan sebelum epidemik diumumkan secara resmi. Penularan diperparah oleh keterbatasan ambulans dan alat pelindung diri, serta penolakan sosial di masyarakat.
2. Upaya pengobatan dan vaksin sedang diuji klinis

Ilustrasi pemberian vaksin. (unsplash.com/Mathurin NAPOLY / matnapo) Menanggapi krisis yang berlanjut, intervensi skala besar telah dikerahkan. Kapasitas pengujian laboratorium diperluas dari 1 menjadi 19 lokasi, yang mampu memproses lebih dari 3 ribu sampel per hari. Sementara itu, tempat tidur perawatan ditingkatkan dari kurang dari 10 menjadi lebih dari 1.300 unit.
Keberhasilan operasional lapangan mencakup peningkatan pelacakan kontak dari 0 persen pada minggu pertama menjadi 84 persen per 18 Agustus 2026. Kegiatan edukasi komunitas telah menjangkau lebih dari 2,5 juta jiwa, didukung pengiriman 330 ton perlengkapan medis dan pengerahan ratusan tenaga ahli, serta petugas kesehatan lapangan.
Sektor medis juga menguji efektivitas 2 ribu dosis vaksin Ervebo di Tshopo dan mengajukan tambahan 500 ribu dosis. Meskipun Ervebo diformulasikan untuk spesies Ebola Zaire, otoritas kesehatan sedang mengkaji potensi efektivitasnya terhadap strain penyebab wabah saat ini.
Pada saat yang sama, uji klinis vaksin kandidat spesifik strain Bundibugyo yang dikembangkan oleh Universitas Oxford tengah berjalan di Inggris. Ratusan ribu dosis telah diproduksi di India dan siap didistribusikan apabila lolos uji klinis.
3. Wabah Ebola meluas, sekolah beralih ke pembelajaran jarak jauh

Ilustrasi anak-anak sekolah di kelas. (pexels.com/Gabriel Joe Amuzu) Direktur Regional WHO untuk Tanggap Darurat di Afrika, Marie Roseline Belizaire, menyatakan bahwa meski pencapaian teknis menunjukkan kemajuan pesat, penanganan tidak boleh dilepaskan dari krisis kemanusiaan. Penanganan medis harus dilakukan sejalan dengan penyediaan bantuan pangan dan air bersih bagi masyarakat terdampak.
Epidemik Ebola terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang lebih luas, di mana masyarakat menghadapi kekurangan gizi dan kurangnya akses terhadap air minum yang aman.
Wabah Ebola juga berdampak pada sektor pendidikan. Sebagai upaya mengurangi risiko penularan lokal, pemerintah RD Kongo menetapkan 18 distrik pendidikan yang mencakup 2.890 sekolah sebagai wilayah berisiko tinggi. Mulai 1 September, kegiatan belajar tatap muka akan digantikan sementara oleh materi tertulis serta pembelajaran melalui siaran radio dan televisi. Kebijakan itu akan berlaku selama empat minggu dan dievaluasi berdasarkan perkembangan epidemik, dilansir The Straits Times.




















