Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Ancam Putus Jalur Ekonomi Iran, China Jadi Titik Krusial

AS Ancam Putus Jalur Ekonomi Iran, China Jadi Titik Krusial
Presiden China Xi Jinping (kanan) mengadakan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing, pada 14 Mei 2026. (x.com/SpoxCHN_MaoNing)
  • Pemerintahan Donald Trump mengancam memutus jalur ekonomi Iran melalui kampanye sanksi yang disebut paling keras yang pernah diterapkan Washington.
  • China menjadi faktor penting karena perdagangan bilateral dan pembelian minyaknya menjadi jalur ekonomi utama bagi Teheran.
  • Langkah Washington berpotensi memengaruhi hubungan AS-China menjelang pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping pada 24 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Akankah China membalas jika sanksi AS makin luas?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memutus setiap jalur ekonomi yang menopang Iran melalui kampanye sanksi yang disebut-sebut sebagai yang paling keras yang pernah diterapkan Washington.

Rencana tersebut akan menempatkan China, mitra dagang terbesar Iran, dalam posisi yang berpotensi berhadapan langsung dengan AS. Pemerintahan Trump dijadwalkan mengumumkan langkah yang disebut sebagai ‘economic D-Day’ pada Senin (24/8/2026), meski rincian mengenai sanksi tersebut belum diungkap.

Ancaman itu muncul ketika hubungan AS-China tengah berupaya distabilkan. Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pada 24 September 2026, dalam pertemuan tatap muka kedua kedua pemimpin sejak AS melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari.

  1. 1. China jadi kunci jalur ekonomi Iran

    Presiden China Xi Jinping di Brazil pada 2024
    Presiden China Xi Jinping di Brazil pada 2024 (Vice-Presidência da República, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

    China memiliki hubungan perdagangan yang sangat penting bagi Iran. Data yang dilaporkan China menunjukkan nilai perdagangan bilateral dengan Iran mencapai 9,96 miliar dolar AS pada 2025. Angka tersebut belum mencakup pengiriman minyak Iran senilai sekitar 31,2 miliar dolar AS.

    Pembelian minyak Iran oleh China menjadi salah satu jalur ekonomi utama bagi Teheran. Departemen Keuangan AS memperkirakan China menyumbang sekitar 90 persen dari penjualan minyak Iran.

    Karena itu, kampanye tekanan ekonomi AS terhadap Iran akan sulit mencapai cakupan penuh apabila tidak menyasar hubungan ekonomi Iran-China. Brett Erickson, pakar sanksi sekaligus managing principal Obsidian Risk Advisors, mengatakan keputusan Washington untuk menargetkan China dapat menjadi indikator keseriusan pemerintahan Trump dalam menjalankan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

    “Jika Amerika Serikat memutuskan untuk benar-benar membawa China ke dalam arena, itu akan menjadi indikasi serius bahwa Amerika Serikat berencana melancarkan perang ekonomi ini dalam jangka panjang,” kata Erickson dikutip dari Al Jazeera.

    Namun, sejumlah analis meragukan Washington akan menerapkan sanksi terhadap China sesuai dengan retorika yang disampaikan pemerintah Trump. Jennifer Kavanagh, peneliti senior Defense Priorities, mengatakan memutus hubungan ekonomi China dengan Iran menjadi kunci keberhasilan tekanan terhadap Teheran, tetapi ia menilai AS tidak akan mengambil langkah tersebut.

  2. 2. Sanksi AS selama ini sasar entitas berbasis di China

    Donald Trump sedang menghadiri pertemuan.
    potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

    Sejauh ini, pemerintahan Trump baru menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah entitas yang berbasis di China dan Hong Kong. Washington belum menargetkan lembaga keuangan China yang dipandang sebagai salah satu simpul penting dalam perdagangan minyak Iran.

    Pada April, pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery, salah satu perusahaan penyulingan independen terbesar China, yang dikenal sebagai ‘teapot’, atas dugaan pembelian minyak Iran.

    Pada Mei, AS menjatuhkan sanksi terhadap empat perusahaan di Hong Kong. Kemudian pada Agustus, Washington menjatuhkan sanksi terhadap enam perusahaan pelayaran yang berbasis di China dan Hong Kong.

    Menurut Kavanagh, langkah yang lebih jauh terhadap hubungan ekonomi China-Iran berisiko memicu tindakan balasan dari Beijing. China selama ini secara tegas menentang sanksi AS terhadap Iran dan menilai tekanan ekonomi tidak akan menyelesaikan perang yang telah berlangsung hampir enam bulan.

    Kementerian Luar Negeri China menyatakan, Beijing tetap berkomitmen mendorong perundingan damai dan bersedia terus melakukan upaya untuk memulihkan perdamaian serta ketenangan di kawasan.

    “China tetap berkomitmen untuk mendorong perundingan damai dan bersedia terus melakukan upaya untuk pemulihan perdamaian dan ketenangan di kawasan,” kata Kementerian Luar Negeri China.

    Wang Wen, dekan Chongyang Institute for Financial Studies di Renmin University of China, mengatakan Beijing kemungkinan akan mengambil tindakan balasan apabila AS menjatuhkan sanksi terhadap China. Menurutnya, intensitas respons China akan bergantung pada seberapa berat tindakan yang diambil Washington.

    “China mempertahankan keinginannya untuk menghindari konflik, tetapi garis batas kami tidak dapat dilanggar,” kata Wang kepada Al Jazeera.

  3. 3. Rencana pertemuan Trump-Xi Jinping bulan depan

    IMG_0244.jpeg
    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di depan Temple of Heaven di Beijing. (AFP/Pool/BRENDAN SMIALOWSKI)

    Langkah AS terhadap hubungan ekonomi China-Iran juga berpotensi memengaruhi hubungan Washington dan Beijing. Trump dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan dengan Xi pada 24 September, yang akan menjadi pertemuan tatap muka kedua mereka untuk menurunkan ketegangan hubungan AS-China sejak perang terhadap Iran dimulai.

    Zichen Wang, wakil sekretaris jenderal Center for China and Globalization (CCG), mengatakan baik Beijing maupun Washington kemungkinan tidak ingin persoalan Iran mendominasi agenda pertemuan Trump dan Xi.

    “Kecuali langkah-langkah AS menjadi sangat luas atau secara langsung menargetkan kepentingan utama China, kedua pihak kemungkinan akan berusaha agar perselisihan ini tidak menguasai agenda yang lebih luas,” kata Wang.

    Meski demikian, ia mengatakan sikap China yang menahan diri tidak berarti Beijing tidak akan merespons. Menurutnya, China semakin menunjukkan kesediaan mengambil tindakan balasan ketika kebijakan sepihak AS berdampak secara material terhadap perusahaan atau kepentingan China lainnya.

    Iran sendiri telah mengancam akan melakukan pembalasan terhadap negara-negara yang mendukung langkah AS. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei pada Sabtu memperingatkan bahwa negara mana pun yang ikut menerapkan sanksi akan dianggap sebagai musuh. Ia juga mengancam tidak setetes pun minyak akan keluar dari Teluk apabila negara-negara tetangga Iran bergabung dengan kampanye AS.

    Erickson menilai sanksi AS dapat membuat hubungan ekonomi China-Iran menjadi lebih sulit dan mahal, tetapi Washington kemungkinan tidak dapat menghentikan Beijing apabila China memutuskan mempertahankan hubungan dengan Teheran.

    “Sanksi AS benar-benar dapat memaksa perusahaan melakukan de-risk untuk menghindari paparan, tetapi akan selalu ada entitas yang bersedia mengisi peran tersebut,” kata Erickson.

    Ia juga meragukan tekanan ekonomi saja dapat membuat pemerintahan Trump mencapai tujuan perangnya terhadap Iran. Menurutnya, AS perlu menggunakan seluruh instrumen tekanan ekonomi yang tersisa secara bersamaan jika ingin menghasilkan hasil yang signifikan.

    “Kecuali pemerintahan Trump bersedia membakar jembatan-jembatan penting dan menggunakan semua pengungkit perang ekonomi yang tersisa secara bersamaan, tidak ada dasar yang masuk akal untuk menyatakan bahwa hal itu akan mampu menghasilkan kemenangan yang tidak dapat dicapai melalui perang kinetik,” ujar Erickson.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More