Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tak Masalah Jokowi Safari Politik, Puan Ingatkan Jaga Kondusif
Ketua DPP PDIP, jPuan Maharani (IDN Times/Amir Faisol).
  • Puan Maharani menilai safari politik Jokowi merupakan hak warga negara, namun mengingatkan pentingnya menjaga situasi tetap kondusif di tengah ketidakpastian global.
  • Peneliti SMRC Saidiman Ahmad menyebut Jokowi berupaya mengidentikkan diri dengan PSI untuk memperluas basis elektoral partai melalui kedekatan figur dan popularitasnya.
  • Saidiman menanggapi polemik injak kepala kerbau di Lampung, menilai tindakan itu bisa jadi tradisi lokal dan tidak memberi keuntungan elektoral jika dimaknai sebagai sindiran terhadap PDIP.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Puan Maharani menanggapi soal kegiatan safari politik Presiden Ketujuh RI, Joko "Jokowi" Widodo ke berbagai daerah. Menurutnya, kegiatan tersebut adalah hak semua warga negara, termasuk Jokowi.

Namun, Puan mengingatkan agar tetap menjaga kondusif dan ketenangan di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian seperti sekarang ini.

"Safari politik, hak semua warga negara untuk bisa melakukan kunjungan ke mana saja. Namun dalam situasi global yang sekarang sedang tidak menentu, alangkah baiknya jika kita sama-sama bisa menjaga situasi untuk bisa tetap kondusif. Artinya ya tetap adem aja," kata dia kepada awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (30/7/2026).

1. Jokowi berupaya identikkan diri dengan PSI, punya potensi ceruk suara besar

Presiden Ketujuh RI, Joko Widodo (Jokowi) menghadiri kegiatan silaturahmi di Pondok Pesantren Nurul Qodiri, Lampung Tengah, Minggu (28/6/2026)(dok. Istimewa)

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad menilai, Jokowi masih memiliki pengaruh politik yang signifikan menjelang kontestasi Pemilu 2029. Oleh sebab itu tak heran jika ia semakin gencar blusukan ke berbagai daerah bersama PSI.

Saidiman mengatakan, langkah tersebut menunjukkan upaya Jokowi untuk semakin mengidentikkan dirinya dengan PSI. Menurutnya, strategi itu jika berhasil, berpotensi memperluas basis elektoral partai berlambang mawar tersebut jika berhasil membangun asosiasi yang kuat di mata publik.

Saidiman mengatakan, selama dua periode memimpin Indonesia, Jokowi menikmati tingkat kepuasan publik (approval rating) yang tinggi. Kondisi itu membuat mantan kepala negara tersebut masih memiliki kelompok pendukung yang besar meski sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden.

Namun, menurut Saidiman, tantangan utamanya bukan lagi soal besarnya pendukung Jokowi, melainkan apakah dukungan personal itu dapat dialihkan menjadi suara untuk partai politik yang didukungnya.

"Sebagai mantan presiden yang mendapatkan approval rating sepanjang pemerintahannya, Jokowi tentu punya massa pendukung yang besar. Persoalannya adalah apakah pendukung ini bisa dialihkan dari mendukung Jokowi menjadi pemilih partai yang didukung Jokowi, dalam hal ini PSI," ujar Saidiman.

2. Upaya Jokowi semakin identik dengan PSI

Jokowi saat blusukan ke UMKM di Kotagajah Lampung Tengah. (Istimewa)

Saidiman menilai, proses pengalihan dukungan tersebut dapat terjadi apabila publik semakin melihat PSI sebagai partai yang identik dengan Jokowi. Karena itu, berbagai agenda bersama kader PSI dinilai menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan tersebut.

"Saya melihat Jokowi berusaha lebih mengidentikkan diri dengan PSI. Kalau itu berhasil, saya menduga PSI potensial punya ceruk yang lebih besar," katanya.

Menurutnya, kedekatan figur dengan partai menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk preferensi pemilih, terutama ketika figur tersebut masih memiliki tingkat popularitas dan penerimaan publik yang tinggi.

3. Simbol injak kepala kerbau sindir PDIP?

Presiden ke-7 Jokowi menginjak kepala kerbau dalam upacara adat saat berkunjung ke kerajaan di Lampung dalam agenda keliling Indonesia. (Dok.Istimewa)

Saidiman juga menanggapi polemik aksi menginjak kepala kerbau saat kunjungan Jokowi ke Lampung. Kegiatan ini dikaitkan sebagai bentuk sindiran terhadap PDIP.

Saidiman mengaku tidak mengetahui secara pasti konteks peristiwa tersebut. Namun menurutnya, aksi itu bisa saja merupakan bagian dari ritual atau tradisi masyarakat setempat.

"Soal injak kepala kerbau saya tidak tahu persis. Tapi bisa jadi itu adalah bagian dari ritual tradisional di Lampung," ujarnya.

Di sisi lain, Saidiman menilai tidak ada keuntungan elektoral bagi Jokowi apabila tindakan tersebut dimaknai sebagai bentuk pelecehan terhadap simbol partai politik lain.

Ia menegaskan, selama ini Jokowi dikenal mengedepankan politik yang santun atau polite democracy. Karena itu, apabila benar ada anggapan tindakan tersebut ditujukan untuk melecehkan simbol partai tertentu, hal itu dinilai tidak sejalan dengan karakter politik Jokowi.

"Tidak ada manfaat elektoral bagi politik Jokowi dengan tindakan pelecehan simbol partai lain kalau betul itu dilakukan. Dan itu sangat bukan Jokowi," kata Saidiman.

Jokowi sendiri mengunjungi Lampung selama tiga hari, yakni mulai (26/6/2026) hingga (28/6/2026). Jokowi mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari menghadiri rapar koordinasi PSI di daerah, beli jajan di UMKM, hingga menyapa warga Lampung.

Editorial Team

Related Article