Jokowi Ingin Identik dengan PSI, Masih Punya Potensi Ceruk Suara Besar

- Jokowi dinilai masih punya pengaruh politik besar menjelang Pemilu 2029 dan aktif turun ke daerah bersama PSI untuk memperkuat citra kebersamaan dengan partai tersebut.
- Saidiman Ahmad menilai strategi Jokowi mengidentikkan diri dengan PSI bisa memperluas basis elektoral partai jika publik melihat keduanya memiliki hubungan yang erat.
- Polemik aksi injak kepala kerbau di Lampung disebut tidak memberi keuntungan politik bagi Jokowi, karena ia dikenal mengedepankan gaya politik santun dan jauh dari pelecehan simbol partai lain.
Jakarta, IDN Times - Mantan Presiden Ketujuh RI, Joko Widodo dinilai masih memiliki pengaruh politik yang signifikan menjelang kontestasi Pemilu 2029. Oleh sebab itu tak heran jika ia semakin gencar blusukan ke berbagai daerah bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad menilai, langkah tersebut menunjukkan upaya Jokowi untuk semakin mengidentikkan dirinya dengan PSI. Menurutnya, strategi itu jika berhasil, berpotensi memperluas basis elektoral partai berlambang mawar tersebut jika berhasil membangun asosiasi yang kuat di mata publik.
1. Jokowi dinilai punya basis pendukung yang masih kuat

Saidiman mengatakan, selama dua periode memimpin Indonesia, Jokowi menikmati tingkat kepuasan publik (approval rating) yang tinggi. Kondisi itu membuat mantan kepala negara tersebut masih memiliki kelompok pendukung yang besar meski sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Namun, menurut Saidiman, tantangan utamanya bukan lagi soal besarnya pendukung Jokowi, melainkan apakah dukungan personal itu dapat dialihkan menjadi suara untuk partai politik yang didukungnya.
"Sebagai mantan presiden yang mendapatkan approval rating sepanjang pemerintahannya, Jokowi tentu punya massa pendukung yang besar. Persoalannya adalah apakah pendukung ini bisa dialihkan dari mendukung Jokowi menjadi pemilih partai yang didukung Jokowi, dalam hal ini PSI," ujar Saidiman.
2. Upaya Jokowi semakin identik dengan PSI

Saidiman menilai, proses pengalihan dukungan tersebut dapat terjadi apabila publik semakin melihat PSI sebagai partai yang identik dengan Jokowi. Karena itu, berbagai agenda bersama kader PSI dinilai menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan tersebut.
"Saya melihat Jokowi berusaha lebih mengidentikkan diri dengan PSI. Kalau itu berhasil, saya menduga PSI potensial punya ceruk yang lebih besar," katanya.
Menurutnya, kedekatan figur dengan partai menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk preferensi pemilih, terutama ketika figur tersebut masih memiliki tingkat popularitas dan penerimaan publik yang tinggi.
3. Simbol injak kepala kerbau sindir PDIP?

Saidiman juga menanggapi polemik aksi menginjak kepala kerbau saat kunjungan Jokowi ke Lampung. Kegiatan ini dikaitkan sebagai bentuk sindiran terhadap PDIP.
Saidiman mengaku tidak mengetahui secara pasti konteks peristiwa tersebut. Namun menurutnya, aksi itu bisa saja merupakan bagian dari ritual atau tradisi masyarakat setempat.
"Soal injak kepala kerbau saya tidak tahu persis. Tapi bisa jadi itu adalah bagian dari ritual tradisional di Lampung," ujarnya.
Di sisi lain, Saidiman menilai tidak ada keuntungan elektoral bagi Jokowi apabila tindakan tersebut dimaknai sebagai bentuk pelecehan terhadap simbol partai politik lain.
Ia menegaskan, selama ini Jokowi dikenal mengedepankan politik yang santun atau polite democracy. Karena itu, apabila benar ada anggapan tindakan tersebut ditujukan untuk melecehkan simbol partai tertentu, hal itu dinilai tidak sejalan dengan karakter politik Jokowi.
"Tidak ada manfaat elektoral bagi politik Jokowi dengan tindakan pelecehan simbol partai lain kalau betul itu dilakukan. Dan itu sangat bukan Jokowi," kata Saidiman.


















