ilustrasi jagung, pertanian, lahan pertanian (pexels.com/Nothing Ahead)
Jagung menjadi tanaman lain yang mengalami perubahan waktu panen cukup jelas. Hermann Greif mengatakan bahwa lebih dari 20 tahun lalu petani di wilayahnya masih sibuk memanen jagung sekitar 14–16 September, sedangkan sekarang waktunya hampir bergeser ke awal September. Data Komisi Eropa juga menunjukkan kematangan jagung di sejumlah wilayah Eropa terjadi lebih awal dibandingkan sekitar dua dekade lalu.
Di balik panen yang lebih cepat, terdapat persoalan besar terkait panas dan kekeringan. Laporan JRC pada Agustus 2026 menyebut panas berkepanjangan dan kekurangan air yang ekstrem memperburuk prospek tanaman musim panas di Eropa Barat dan sebagian besar Eropa Tengah. Kondisi tersebut mengganggu pembentukan biomassa, pengisian biji, kesuburan tanaman, hingga mempercepat penuaan tanaman.
Jagung termasuk tanaman yang terkena dampak cukup besar. JRC menyebut perkiraan hasil seluruh tanaman musim panas di Uni Eropa telah turun hingga 14 persen di bawah rata-rata lima tahun, sementara dampak serius tercatat di sejumlah wilayah seperti Prancis, Jerman bagian selatan, Italia utara dan tengah, Austria, Ceko, Slovakia, Hungaria, serta Rumania bagian barat. Di wilayah-wilayah tersebut, suhu tinggi dan kurangnya hujan terjadi ketika tanaman sedang berada dalam fase penting seperti pembungaan dan pembentukan hasil.
Data Prancis juga menunjukkan tekanan yang cukup berat. FranceAgriMer memperkirakan hanya 27 persen tanaman jagung biji-bijian berada dalam kondisi baik atau sangat baik pada 31 Agustus 2026, menjadi angka terendah dalam catatan lembaga tersebut sejak 2011. Kementerian Pertanian Prancis memperkirakan produksi jagung biji-bijian turun 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara analis memperkirakan penurunannya bisa sekitar setengah dan mencapai level terendah sejak 1976.
Perubahan waktu panen gandum musim dingin, rapeseed, dan jagung memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar isu jangka panjang bagi sektor pertanian Eropa. Suhu yang lebih tinggi dapat membuat tanaman matang lebih cepat, tapi pada saat bersamaan gelombang panas dan kekeringan dapat mengurangi kualitas serta hasil panen. Laporan JRC menunjukkan masalah tersebut sudah terlihat pada 2026, ketika panas dan kekurangan air menekan berbagai tanaman di Eropa Barat dan Tengah.
Artinya, kalau kamu melihat panen yang datang lebih cepat, kondisi tersebut gak bisa langsung dianggap sebagai tanda produktivitas pertanian meningkat. Petani justru harus menghadapi kalender tanam dan panen yang berubah, kebutuhan air yang semakin sulit dipenuhi, serta risiko hasil yang lebih rendah. Perubahan cuaca akhirnya bukan hanya mengubah kapan tanaman dipanen, tapi juga menentukan seberapa banyak dan seberapa baik hasil yang bisa diperoleh dari lahan pertanian.