Prabowo Siap Hadapi El Nino Panjang, Gagal Panen Bisa Bertahan 10 Bulan

- Prabowo menyatakan pemerintah bersiap menghadapi ancaman El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal 2027.
- Cadangan beras di gudang Bulog disebut mencapai lima juta ton, dengan perkiraan mampu bertahan sekitar 10 bulan bila panen gagal total.
- BMKG menetapkan 22 provinsi, termasuk DKI Jakarta, dalam kategori Awas kekeringan pada Dasarian II September 2026.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto menyatakan, pemerintah telah bersiap menghadapi ancaman el nino yang dipresdiksi akan berakhir hingga awal tahun 2027. Menurut dia, Indonesia masih bisa bertahan selama 10 bulan apabila harus menghadapi dampak kekeringan yang membuat petani tidak dapat panen.
Di sisi lain, Prabowo menyebut, Indonesia saat ini tengah mengalami swasembada beras. Cadangan beras di gudang-gudang Bulog telah mencapai lima juta ton.
"Kalau katakanlah kita umpamanya gagal total eh semua panen, kita bisa bertahan kurang lebih 10 bulan. Tapi kita percaya bahwa kita tidak akan gagal panen karena tadi saya bilang kita masih banyak eh sumber air. Masih banyak sumber air," kata Prabowo dalam forum diskusi bersama jurnalis senior, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
1. Prabowo pastikan pemerintah siap hadapi el nino panjang

Presiden Prabowo Subianto saat menggelar pertemuan dengan pengusaha KADIN Pusat dan Daerah seluruh Indonesia, Jumat (31/7/2026). (Youtube/Sekretariat Presiden) Kepala Negara juga telah mendapatkan laporam dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengenai kesiapan sektor pertanian untuk menghadapi ancaman fenomena el nino.
Prabowo menyebut, pemerintah telah menjalankan program pompanisasi selama satu tahun terakhir ini sebagai bagian dari upaya memitigasi ancamam kekeringan yang pernah terjadi pada 2003-2004 silam.
"Saya sudah cek semua, persiapan kita cukup bagus. Eh kita siap hadapi El Nino, ya kan? Menteri Pertanian meyakinkan saya bahwa kita siap karena kita sudah punya program yang sudah kita laksanakan 1 tahun lebih yang lalu untuk mengatasi kekeringan tahun 2003 2024," kata dia.
2. Fenomena El Nino diprediksi terjadi hingga awal tahun 2027

ilustrasi kekeringan (magnific.com/wirestock) Badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan, fenomena iklim El Nino diprediksi menguat hingga mencapai kriteria sangat kuat dalam beberapa bulan mendatang.
Pengumuman yang disampaikan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di Jenewa pada Kamis (3/9/2026) tersebut mengonfirmasi tingkat kepastian hampir 100 persen bahwa fenomena ini bakal bertahan hingga Februari 2027.
Anomali pemanasan tersebut tidak hanya terjadi di permukaan laut, melainkan juga menembus hingga ke lapisan bawah permukaan Samudra Pasifik. Laporan WMO menunjukkan suhu bawah permukaan laut di beberapa area kawasan Pasifik bahkan melonjak lebih dari 8 derajat Celsius di atas rata-rata normal sepanjang Juli dan awal Agustus. Kondisi ini menjadi cadangan energi raksasa yang terus memberi bahan bakar bagi penguatan El Nino.
3. 22 Provinsi kekeringan termasuk Jakarta

Ilustrasi kekeringan (pexels.com/Pyae Phyo Aung) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis wilayah Indonesia untuk Dasarian II September 2026 atau periode 11-20 September 2026.
Berdasarkan data BMKG, sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia mengalami musim kemarau. Musim kemarau ini mengindikasikan kondisi atmosfer yang relatif kering. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya wilayah mengalami hari tanpa hujan yang berkepanjangan.
Berdasarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis BMKG untuk Dasarian II September, provinsi-provinsi ini berada pada kategori Awas, yaitu Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Maluku Utara.
BMKG juga mencatat suhu maksimum mencapai lebih dari 36 derajat Celsius di sejumlah wilayah, di antaranya Lampung, Aceh, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
Cuaca kering juga membuat tutupan awan berkurang sehingga radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi meningkat. Suhu tinggi tersebut dapat mengurangi kenyamanan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.





















