Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tentara Israel Bunuh 54 Anak Palestina di Tepi Barat Sepanjang 2025
tentara Israel memeriksa tas seorang anak Palestina di Hebron, Tepi Barat (Trocaire from Ireland, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Laporan B'Tselem mencatat 54 anak Palestina tewas di Tepi Barat sepanjang 2025, menjadikannya angka tertinggi sejak 1967 akibat kebijakan militer Israel yang longgar terhadap penggunaan kekuatan mematikan.
  • Pasukan Israel dilaporkan menghalangi akses medis dan menahan 18 jenazah anak Palestina, tanpa ada tentara yang didakwa atas pembunuhan sejak Oktober 2023 meski pelanggaran terus terjadi.
  • B'Tselem menilai meningkatnya pembunuhan anak di Tepi Barat terkait dengan impunitas Israel atas serangan di Gaza, di mana lebih dari 21 ribu anak Palestina telah tewas sejak Oktober 2023.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pembunuhan anak-anak Palestina oleh pasukan Israel di Tepi Barat dilaporkan telah mencapai rekor tertinggi sejak tahun 1967. Organisasi hak asasi manusia Israel, B'Tselem, melaporkan hampir seperempat dari 1.086 warga Palestina yang tewas sejak Oktober 2023 adalah anak-anak.

Laporan terbaru mencatat ada 54 anak yang dibunuh oleh pasukan Israel sepanjang tahun 2025. Publikasi laporan ini bertepatan dengan tewasnya seorang anak laki-laki berusia 15 tahun akibat tembakan pasukan Israel di Al-Bireh.

1. Hasil dari kebijakan sistemik tanpa akuntabilitas

Tentara Israel di Tepi Barat. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)

B'Tselem menilai pembunuhan ini bukanlah sekadar kesalahan operasi. Hal ini adalah hasil dari kebijakan Israel yang memperluas izin bagi tentara untuk menembak warga Palestina.

Militer Israel kerap melabeli warga Palestina yang tewas sebagai teroris. Label tersebut disematkan secara sepihak meskipun mereka tidak terlibat bentrokan dengan pasukan Israel.

"Pembunuhan anak-anak dan remaja Palestina yang meluas di Tepi Barat adalah hasil dari kebijakan Israel yang lebih luas, yang memungkinkan pembunuhan warga Palestina hampir tanpa akuntabilitas," tutur Direktur Eksekutif B'Tselem Yuli Novak, dilansir Al Jazeera.

Komandan militer Israel di Tepi Barat, Avi Bluth, dilaporkan pernah membanggakan tingginya jumlah kematian tersebut. Ia menyatakan dalam sebuah forum tertutup bahwa pasukannya membunuh dalam skala yang belum pernah terjadi sejak tahun 1967.

2. Israel halangi medis dan tahan jenazah anak Palestina yang tewas

ilustrasi bendera Israel (unsplash.com/Taylor Brandon)

Laporan B'Tselem menemukan pola pelanggaran lain dalam berbagai kasus kematian di Tepi Barat. Pasukan Israel dilaporkan menghalangi tim medis atau penduduk lokal untuk menjangkau anak-anak yang terluka dalam hampir seperempat kasus di tahun 2025.

Tindakan ini membuat para korban gagal mendapatkan pertolongan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa mereka. Otoritas Israel saat ini juga masih menahan 18 jenazah dari 54 anak yang tewas pada tahun lalu.

Pengamat menyebut penahanan jenazah ini sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional. Sementara itu, tidak ada satu pun tentara maupun pemukim yang didakwa atas pembunuhan tersebut sejak Oktober 2023.

Kekerasan dan penembakan terus berlanjut hingga pekan ini. Ahmad Jawad Jaber meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit setelah ditembak di dada dan kepala dalam serangan Israel pada Senin (29/6/2026).

3. Terkait dengan pembiaran di Jalur Gaza

anak-anak di Gaza berdesakan mengantri makanan (Ashraf Amra, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

B'Tselem menekankan pembunuhan anak-anak di Tepi Barat memiliki kaitan dengan serangan di Gaza. Peningkatan pembunuhan di Tepi Barat dinilai terkait dengan kematian lebih dari 21 ribu anak Palestina di Jalur Gaza.

Komunitas internasional dinilai telah memberikan lampu hijau kepada Israel untuk melanjutkan pembunuhan ini. Pembiaran tanpa konsekuensi di Gaza membuat Israel bebas menerapkan kebijakan yang sama di Tepi Barat.

"Selama Israel terus menikmati impunitas, nyawa warga Palestina, termasuk anak-anak, akan tetap tidak terlindungi dan terancam," ujar Novak, dilansir Middle East Eye.

Serangan militer Israel di wilayah Gaza telah menewaskan lebih dari 73 ribu orang sejak Oktober 2023. Konflik ini juga telah menyebabkan sekitar 173 ribu orang lainnya terluka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article