Korsel-Jepang Perkuat Kerja Sama Hadapi Ancaman Nuklir Korut

- Korsel dan Jepang sepakat memperkuat kerja sama pertahanan untuk menghadapi ancaman nuklir Korea Utara, termasuk dukungan terhadap penghapusan total senjata nuklir di Semenanjung Korea.
- Kedua negara memperluas latihan militer bersama seperti pencarian dan penyelamatan di laut serta kolaborasi tim udara, sambil menjajaki kerja sama teknologi militer berbasis kecerdasan buatan.
- Pembahasan pakta bantuan logistik militer ditunda karena sensitivitas publik, sementara kedua menteri fokus membangun kepercayaan melalui kunjungan simbolis dan kegiatan persahabatan di Seoul.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Korea Selatan, Ahn Gyu-back, bertemu dengan Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, di Seoul pada Minggu (28/6/2026). Pertemuan tingkat tinggi ini bertujuan untuk mempererat hubungan pertahanan kedua negara.
Langkah ini diambil demi memperluas kemitraan militer di tengah situasi keamanan regional yang terus berubah. Kunjungan resmi ini sekaligus menjadi momen penting bagi diplomasi militer antara Seoul dan Tokyo.
1. Fokus menolak senjata nuklir Korea Utara
Pertemuan di Seoul ini menghasilkan kesepakatan kuat untuk terus mendukung penghapusan total senjata nuklir di Semenanjung Korea. Langkah diplomasi ini tetap dipertahankan meski Korea Utara berulang kali menyatakan niatnya untuk memperbanyak senjata nuklir mereka.
Komitmen ini muncul setelah Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, berjanji memperkuat militer negaranya. Rencana modernisasi tersebut mencakup pemasangan senjata nuklir taktis pada kapal-kapal Angkatan Laut mereka.
Pyongyang mengklaim bahwa pembaruan militer tersebut saat ini berjalan lancar sesuai rencana.
"Rencana mempersenjatai Angkatan Laut dengan senjata nuklir berjalan lancar sesuai jadwal tanpa ada kesalahan," ujar Kim Jong Un.
Korea Selatan dan Jepang menilai aksi sepihak Korea Utara tersebut dapat mengancam stabilitas kawasan. Oleh karena itu, kedua menteri sepakat untuk terus bekerja sama dengan Amerika Serikat demi menangkal ancaman tersebut.
2. Perluasan latihan militer bersama
Selain isu nuklir, kedua menteri sepakat untuk memperluas latihan pencarian dan penyelamatan bersama di laut. Latihan kemanusiaan ini akhirnya aktif kembali pada Juni 2026 setelah sempat terhenti selama hampir sembilan tahun.
Kerja sama taktis juga diperluas lewat program saling kunjung rutin antar-tim akrobatik angkatan udara kedua negara. Program ini melibatkan tim Black Eagles dari Korea Selatan dan Blue Impulse dari Pasukan Bela Diri Udara Jepang.
Hubungan kerja sama ini makin kuat setelah pesawat militer Korea Selatan mendapat bantuan pengisian bahan bakar di Pangkalan Naha, Okinawa. Kolaborasi aktif tersebut dinilai sangat penting untuk menjaga perdamaian di wilayah Indo-Pasifik.
"Jepang dan Korea Selatan harus aktif menjaga perdamaian di Indo-Pasifik. Kita perlu memperkuat pertahanan lewat aliansi dengan AS serta kerja sama strategis lainnya," kata Shinjiro Koizumi, dilansir The Star.
Pertemuan ini juga mulai membahas peluang kerja sama pertahanan di bidang sains dan teknologi canggih. Fokus utama kemitraan baru ini diarahkan pada pengembangan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk sektor militer.
3. Penundaan pakta logistik
Meski kerja sama militer meningkat, kedua negara sepakat menunda pembahasan pakta bantuan logistik militer (ACSA). Pemerintah Korea Selatan bersikap hati-hati karena kesepakatan ini masih sensitif akibat sentimen sejarah di masyarakat domestik.
Sebagai gantinya, kedua menteri memilih fokus membangun rasa percaya secara personal demi mempermudah hubungan militer ke depan.
"Saya merasa hubungan saling percaya yang kami bangun dari waktu ke waktu telah membawa kita pada keberhasilan hari ini," ujar Shinjiro Koizumi, dilansir The Japan Times.
Kedekatan ini terlihat saat Koizumi mengunjungi pangkalan udara Black Eagles di Wonju bersama Ahn menggunakan helikopter militer khusus Korea Selatan. Selain itu, Koizumi juga menyempatkan diri berziarah dan meletakkan karangan bunga di Pemakaman Nasional Seoul.
Kunjungan bersejarah ini ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan berupa foto kunjungan ayah Koizumi di masa lalu. Kedua menteri kemudian mengakhiri pertemuan dengan pertandingan persahabatan tenis meja di Seoul yang dimenangkan tipis oleh Menteri Ahn.


















