Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tolak Kolaborasi dengan China, Trump Tegaskan Keunggulan AI AS
ilustrasi bendera AS dan China (Territory of American Canada, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commos)
  • Trump menolak integrasi pengembangan AI AS-China, mengklaim AS unggul satu hingga dua tahun dan tidak akan memperlambat laju teknologi meski ada seruan pembatasan.
  • Dalam pertemuan dengan Xi Jinping, Trump mendorong penggunaan istilah “super intelligence” menggantikan AI; China menghormati perubahan istilah itu dan Xi menekankan teknologi harus tetap dikendalikan manusia.
  • KTT AS-China tidak menghasilkan kesepakatan tata kelola AI, tetapi Gedung Putih mengumumkan kanal komunikasi insiden AI; kedua pemimpin juga membahas Taiwan tanpa kepastian sikap baru AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan penolakannya untuk mengintegrasikan upaya pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) antara negaranya dan China. Trump menyatakan bahwa AS tidak akan memperlambat laju pengembangan teknologi tersebut karena memimpin jauh di atas Beijing.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada awak media di Gedung Putih, Washington, D.C., Sabtu (26/9/2026) waktu setempat, saat hendak menaiki helikopter Marine One. Penegasan itu diutarakan usai dia menyelesaikan konferensi tingkat tinggi selama tiga hari bersama Presiden China Xi Jinping.

1. Alasan penolakan integrasi teknologi dan regulasi

Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Trump menegaskan bahwa AS tidak perlu bekerja sama dengan China dalam bidang AI karena posisi teknologi AS yang lebih unggul. Berdasarkan penilaian Trump, AS memimpin setidaknya satu hingga dua tahun di depan China pada sektor tersebut. "Aku lebih memilih untuk tidak berintegrasi, karena kita memimpin jauh," ujar Trump kepada para jurnalis. Dia menambahkan, "Saat kalian memimpin, kalian tidak saling memberi kesempatan."

Sikap tersebut sekaligus menepis seruan anggota parlemen AS dan para pimpinan perusahaan teknologi yang meminta penahanan laju AI karena ancaman eksistensial terhadap manusia. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Selasa juga mendesak para pemimpin dunia menerapkan pembatasan pada AI saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB. Trump menyamakan kekhawatiran bahaya AI dengan isu pemanasan global dan penyelidikan dugaan keterlibatan Rusia yang dia sebut sebagai hoaks.

2. Peralihan penggunaan sebutan super intelligence

ilustrasi AI (pexels.com/Aerps.com)

Dilansir Al Jazeera, Trump menyatakan pembahasan AI dengan Xi sebagian besar berfokus pada pergantian istilah menjadi super intelligence atau SI. Pemerintah AS sendiri telah mengumumkan pada Selasa (22/9/2026) bahwa mereka resmi menggunakan istilah tersebut dalam komunikasi resmi pemerintahan. Trump menyebut kata super intelligence jauh lebih tepat serta elegan, dan mengklaim Xi setuju menggunakan istilah itu dibanding kecerdasan buatan.

Kementerian Luar Negeri China pada Sabtu menyatakan pihaknya menghormati pergantian istilah dari Washington tersebut. Juru bicara kementerian yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa para pihak dapat memperkuat pertukaran, membahas secara mendalam, serta mencari konsensus terkait situasi terkini. Laporan Al Jazeera juga mencatat bahwa dalam merespons AI, Xi mengambil nada yang lebih terukur dibanding Trump dengan menegaskan bahwa teknologi tersebut harus berkembang di bawah kendali manusia.

3. Kanal komunikasi insiden dan pembahasan isu Taiwan

Gedung Putih, Washington D.C. (unsplash.com/Tabrez Syed)

Legislator dan pakar AS semula berharap pertemuan kedua pemimpin melahirkan kesepakatan terobosan tata kelola AI, tetapi kesepakatan tersebut tidak terwujud. Trump mengakui bahwa kedua pihak tidak menghabiskan banyak waktu untuk membahas isu AI tersebut. Gedung Putih pada Jumat hanya mengumumkan kesepakatan pembentukan saluran komunikasi bilateral khusus untuk menangani insiden AI, tanpa adanya komentar langsung dari Beijing.

Dilansir Chosun Biz, Trump juga menyinggung pembicaraan singkat terkait isu Taiwan selama rangkaian perundingan di Gedung Putih. Pada pertemuan Kamis (24/9/2026), Xi memegang teguh penolakan atas kemerdekaan Taiwan dan meminta AS bersikap hati-hati dalam isu tersebut. Trump menahan diri dari memberikan jawaban pasti untuk mempertahankan posisi ambiguitas strategis AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article