AS Kucurkan Rp1,75 T Demi Bendung Teknologi China di Afrika

- Pemerintah AS menyetujui pinjaman 99,6 juta dolar AS atau Rp1,75 triliun kepada Africell untuk memperluas jaringan seluler cepat dan pusat data di Angola.
- Dana EXIM Bank digunakan membeli perangkat dari pemasok AS dan Eropa, di tengah upaya Washington menyaingi dominasi Huawei pada pasar 5G dan 4G Afrika subsahara.
- Africell, operator milik AS yang melayani 15 juta pelanggan, akan mengintegrasikan ekspansi jaringan dengan proyek Koridor Lobito untuk memperkuat infrastruktur komunikasi kawasan.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi menyetujui pinjaman untuk operator telekomunikasi Africell pada Jumat (11/9/2026). Langkah strategis ini diambil sebagai upaya diplomatik Washington guna membendung dominasi raksasa teknologi asal China, Huawei, di benua Afrika.
Penyaluran dana melalui bank ekspor ini bertujuan untuk memperluas rantai pasok teknologi AS beserta para sekutunya di berbagai pasar berkembang. Suntikan modal tersebut sekaligus mempertegas persaingan geopolitik kedua negara dalam memperebutkan kendali infrastruktur nirkabel secara global.
1. Pembiayaan EXIM Bank dukung modernisasi jaringan di Angola
Export-Import (EXIM) Bank of the United States menyalurkan pinjaman langsung senilai 99,6 juta dolar AS (Rp1,75 triliun) kepada Africell. Operator tersebut akan menggunakan kucuran dana ini untuk membeli perangkat jaringan modern dari sejumlah pemasok asal AS dan Eropa.
Langkah ekspansi ini berfokus pada perluasan infrastruktur jaringan seluler berkecepatan tinggi di Angola. Guna mewujudkan proyek tersebut, Africell turut menggandeng perusahaan teknologi raksasa global seperti Nokia, HP, Dell, dan Oracle untuk membangun fasilitas pusat data.
"Kami menyambut baik kerja sama dengan EXIM Bank untuk menghadirkan infrastruktur komunikasi yang lebih aman dan tepercaya," ujar Chief Executive Officer Africell Holding Limited, Ziad Dalloul, dilansir Associated Press.
2. Diplomasi AS berupaya tekan dominasi 5G Huawei di Afrika
Bantuan finansial dari Washington ini mengalir di tengah kuatnya dominasi Huawei, yang saat ini menguasai 52 persen pasar 5G dan 70 persen jaringan 4G di kawasan Afrika subsahara. Inisiatif strategis ini merupakan kelanjutan dari program Clean Network yang dirancang guna menyingkirkan teknologi China dari fasilitas publik.
Pemerintah AS menilai bahwa ketergantungan pada perangkat buatan China berisiko tinggi mengancam keamanan data nasional. Meski demikian, manajemen Huawei telah berulang kali menepis tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa produk mereka sepenuhnya mematuhi standar privasi internasional.
"Penyedia jasa yang tetap memilih Huawei berpotensi mengorbankan kedaulatan data negara mereka," sebut mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS, Wendy Sherman.
3. Integrasi Koridor Lobito perkuat kemandirian digital kawasan
Sebagai satu-satunya operator milik AS di Afrika, Africell tercatat melayani 15 juta pelanggan yang tersebar di Republik Demokratik Kongo, Sierra Leone, Gambia, dan Angola. Kucuran pinjaman baru ini semakin melengkapi rekam jejak positif Africell, yang sebelumnya sukses melunasi utang pembangunan lebih cepat dari jadwal.
Ekspansi jaringan nirkabel ini akan berjalan beriringan dengan megaproyek Koridor Lobito yang bernilai miliaran dolar AS untuk memperbarui sarana transportasi dan penyiaran di kawasan tersebut. Pemanfaatan sistem transmisi yang tepercaya ini diharapkan mampu memperkuat keamanan informasi publik sekaligus meminimalkan ancaman siber.
"Langkah ini menunjukkan kepemimpinan teknologi AS sekaligus menciptakan jalur digital yang aman di Afrika subsahara," tutur Ziad Dalloul.




















