Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Berencana Menemui Kim Jong Un Kembali pada Akhir 2026
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Matt Johnson from Omaha, Nebraska, United States, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump berencana bertemu Kim Jong Un pada akhir 2026, dengan peluang pertemuan bilateral di sela KTT APEC Shenzhen pada November untuk membuka kembali komunikasi langsung.
  • Trump memerintahkan pengurangan durasi latihan Ulchi Freedom Shield AS-Korea Selatan, langkah yang memicu kekhawatiran sekutu Asia meski Pentagon menilai kualitas pelatihan tetap terjaga.
  • Kim Yo Jong menyatakan tidak mengetahui komunikasi terbaru Washington-Pyongyang, namun menyebut Kim Jong Un masih memiliki kenangan baik tentang Trump dan mengabaikan pengurangan latihan militer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan rencananya untuk menggelar pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun 2026. Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat meninjau area landasan helikopter baru di Gedung Putih, Washington, pada Rabu (19/8/2026) waktu setempat. Langkah ini diambil demi menghidupkan kembali hubungan diplomatik yang pernah terjalin pada masa jabatan pertamanya.

Fokus mendadak Trump terhadap Kim Jong Un ini memicu spekulasi bahwa ia tengah mengejar capaian diplomasi luar negeri baru di tengah kebuntuan perangnya dengan Iran. Sebelumnya pada Minggu (16/8/2026), Trump secara mengejutkan memerintahkan pemangkasan skala latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan. Langkah mendadak tersebut langsung memicu kekhawatiran dari para sekutu AS di kawasan Asia.

1. Rencana pertemuan bilateral di sela KTT APEC

Kim Jong Un dan Trump berjabat tangan di KTT Singapura, 2018. (Shealeah Craighead, Public Domain, via WIkimedia Commons)

Trump mengarahkan fokus diplomasinya untuk membuka kembali saluran komunikasi langsung dengan Pyongyang setelah beberapa tahun vakum. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal yang dikutip Channel NewsAsia, Trump mengincar potensi pertemuan bilateral tersebut saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Shenzhen, China, pada November 2026.

Dalam keterangannya kepada para jurnalis di Washington, Trump membeberkan penilaian mendetail mengenai kapasitas militer Korea Utara. Dia mengungkapkan bahwa Pyongyang saat ini diperkirakan telah memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat di bawah kepemimpinan Kim Jong Un. Keterangan spesifik ini dinilai cukup tidak biasa bagi seorang presiden Amerika Serikat karena Washington secara resmi tidak mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir.

"Dia memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat, yang seharusnya tidak pernah dibiarkan terjadi. Jika aku presiden (saat itu), aku tidak akan membiarkannya terjadi," ujar Trump merujuk pada arsenal Kim Jong Un.

Trump menambahkan, "Namun dia sudah memilikinya. Aku berhubungan sangat baik dengannya. Aku tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, dan aku mengenal Kim Jong Un dengan sangat baik, dia akan baik-baik saja".

Estimasi angka yang disampaikan Trump tersebut sejalan dengan kalkulasi pemerintah AS dan lembaga kajian yang menaksir arsenal nuklir Pyongyang berada di kisaran 50 hingga 60 hulu ledak.

2. Pengurangan latihan militer gabungan dengan Korea Selatan

ilustrasi latihan militer (pexels.com/Get Lost Mike)

Sebagai bagian dari pendekatan diplomasinya, Trump memerintahkan pengurangan skala latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield antara Amerika Serikat dan Korea Selatan. Trump secara terbuka menilai latihan tempur bersama tersebut bersifat sangat menghina bagi pihak Korea Utara. Pemerintah Korea Selatan mengonfirmasi bahwa rentang waktu latihan militer gabungan dialokasikan selesai sekitar satu minggu lebih cepat dari rencana awal atas usulan Washington.

Dilansir The Straits Times, Keputusan mendadak pemangkasan porsi latihan militer ini sempat memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Amerika Serikat di Asia. Meski demikian, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menegaskan penyesuaian porsi latihan ini tidak akan mengurangi kualitas serta tujuan pelatihan pasukan mereka. Saat ini Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 prajurit militer di wilayah Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan kawasan pasca-Perang Korea 1950–1953.

Di sisi lain, jajaran pejabat tinggi Seoul menyampaikan tanggapan berbeda terkait dinamika geopolitik terbaru ini. Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back pada Kamis (20/8/2026) memperkirakan Korea Utara sebenarnya menguasai sekitar 80 hingga 120 senjata nuklir. Sementara itu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Rabu (19/8/2026) malam menegaskan komitmennya untuk berupaya maksimal dalam mendukung dan berkontribusi pada inisiatif perdamaian yang diusung Trump.

3. Tanggapan dari Pyongyang mengenai komunikasi bilateral

potret adik perempuan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Yo Jong (주식회사문화방송, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)

Adik perempuan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Yo Jong, merespons spekulasi mengenai komunikasi intensif antara Washington dan Pyongyang. Dia menegaskan sama sekali tidak mengetahui adanya klaim komunikasi terbaru yang disampaikan oleh pemerintah Amerika Serikat. Pernyataan resmi tersebut dirilis Kim Yo Jong beberapa jam setelah Seoul mengumumkan pengurangan durasi latihan militer gabungan.

"Terkait berita terbaru dari Washington tentang komunikasi antara pemimpin Korea Utara dan Amerika Serikat, aku sama sekali tidak mengetahuinya," kata Kim Yo Jong dalam rilis resminya. Dia menambahkan bahwa saudaranya tetap menyimpan kenangan serta perasaan yang baik terhadap sosok Trump. Menurut Kim Yo Jong, hubungan personal antara kedua pemimpin negara tersebut pada dasarnya masih terjalin sangat baik.

Mengenai langkah Amerika Serikat yang memangkas skala latihan militer tahunan di Semenanjung Korea, Kim Yo Jong mengabaikan penyesuaian tersebut. Dia menilai pemangkasan porsi latihan tempur itu tidak layak dikomentari dan sama sekali tidak menarik perhatian Pyongyang. Korea Utara menaruh penolakan keras pada latihan militer tersebut karena dianggap sebagai bentuk latihan invasi ke wilayah teritorial mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article