Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump dan Pakistan Ungkap Negosiasi Damai Iran Terakhir Menggembirakan
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/U.S. Air Force photo)
  • Donald Trump menyebut negosiasi damai dengan Iran hampir rampung dan berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, meski klaimnya dibantah media Iran yang menegaskan peran besar Teheran dalam pengelolaan selat.
  • Pakistan berperan sebagai mediator utama, dengan pertemuan tingkat tinggi antara pejabat militer dan diplomatik menghasilkan rancangan kesepakatan tiga tahap untuk menghentikan perang serta menstabilkan kawasan.
  • Iran menuntut jaminan penghentian ancaman serangan AS, pencabutan blokade pelabuhan, serta pengawasan atas Selat Hormuz sambil tetap mempertahankan kemampuan militernya selama masa gencatan senjata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Trump bilang dia dan orang-orang dari Iran dan Pakistan lagi ngomongin damai supaya perang bisa berhenti. Katanya nanti laut besar yang namanya Selat Hormuz bisa dibuka lagi buat kapal lewat. Tapi orang Iran bilang cerita Trump nggak benar semua. Sekarang mereka masih ngobrol, katanya hampir selesai dan hasilnya bikin senang banyak orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut kesepakatan damai terkait Iran kini sebagian besar telah dinegosiasikan. Menurutnya, jika benar rampung maka berpotensi membuka kembali Selat Hormuz yang selama beberapa bulan terakhir terganggu akibat perang di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui media sosial, di tengah upaya diplomatik yang melibatkan Iran, Pakistan, serta sejumlah negara Timur Tengah untuk menghentikan konflik yang pecah sejak Februari lalu setelah serangan AS dan Israel ke Iran.

“Bagian akhir dan rincian dari kesepakatan saat ini sedang dibahas, dan akan segera diumumkan,” tulis Trump di Truth Social. Ia juga mengatakan, kesepakatan yang sedang dibentuk akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia.

Namun, klaim Trump langsung dibantah media Iran, Fars News Agency. Dalam laporannya, Fars menyebut pernyataan Trump soal Selat Hormuz tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka menegaskan, rancangan kesepakatan justru memberi Iran peran untuk mengelola selat tersebut.

Meski begitu, sejumlah laporan menunjukkan negosiasi memang terus bergerak. Pakistan yang ikut menjadi mediator menyebut pembicaraan menghasilkan perkembangan yang menggembirakan, sementara sumber yang terlibat dalam proses negosiasi menyebut rancangan kesepakatan itu cukup komprehensif untuk mengakhiri perang.

1. Trump klaim ada kemajuan besar

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Trump menyampaikan, proses menuju memorandum kesepahaman damai dengan Iran kini memasuki tahap akhir. Meski tidak mengungkap detail lengkap isi kesepakatan, ia menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu poin utama.

Selat Hormuz sebelumnya terganggu setelah perang Iran-AS memicu krisis pengiriman energi global. Penutupan jalur itu menyebabkan lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok internasional.

Menurut laporan Axios yang dikutip dari pejabat AS, rancangan kesepakatan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam periode itu, Selat Hormuz akan dibuka tanpa pungutan biaya dan Iran disebut akan membersihkan ranjau yang dipasang di wilayah perairan tersebut.

Sebagai imbalannya, AS disebut akan melonggarkan blokade terhadap pelabuhan Iran serta memberikan sejumlah pengecualian sanksi agar Iran dapat kembali menjual minyak secara bebas.

Laporan itu juga menyebut Iran akan berkomitmen untuk tidak mengejar senjata nuklir dan membuka negosiasi mengenai penghentian pengayaan uranium serta pengurangan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.

2. Pakistan jadi penghubung negosiasi

bendera pakistan sebagai mediator (unsplash.com/Hamid Roshaan)

Peran Pakistan dalam proses diplomasi ini ikut mencuat setelah Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi Iran, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi dan negosiator senior Mohammad Baqer Qalibaf.

Militer Pakistan menyebut, pembicaraan tersebut menghasilkan kemajuan yang menggembirakan. Dua sumber Pakistan yang terlibat dalam negosiasi bahkan mengatakan rancangan kesepakatan yang dibahas cukup luas dan diarahkan untuk mengakhiri perang.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga memuji langkah Trump. Dalam unggahan di akun X miliknya, Sharif menyampaikan apresiasi atas upaya luar biasa Trump untuk mengejar perdamaian.

Sumber lainnya menyebut, kerangka kesepakatan akan berjalan dalam tiga tahap, yakni penghentian perang secara resmi, penyelesaian krisis Selat Hormuz, dan pembukaan negosiasi lanjutan selama 30 hari yang dapat diperpanjang.

Salah satu sumber Pakistan mengatakan, apabila AS menerima memorandum tersebut, pembicaraan lebih lanjut dapat kembali dilanjutkan setelah libur Idul Adha berakhir pekan depan.

3. Iran minta jaminan dan akhir ancaman serangan

Ilustrasi Peta tentara dan bendera Iran,Amerika Serikat dan israel

Di tengah pembicaraan damai, Iran tetap menekankan sejumlah tuntutan utama kepada Washington. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, isu blokade terhadap pelayaran Iran menjadi salah satu perhatian penting.

Namun menurut Baghaei, prioritas utama Teheran saat ini adalah menghentikan ancaman serangan baru dari AS dan mengakhiri konflik yang masih berlangsung di Lebanon.

“Tren minggu ini mengarah pada pengurangan perselisihan, tetapi masih ada isu yang perlu dibahas melalui mediator. Kita harus menunggu dan melihat bagaimana situasi berkembang dalam tiga atau empat hari ke depan,” ujar Baghaei, dikutip dari Straits Times, Minggu (24/5/2026).

Iran juga menuntut pengawasan terhadap Selat Hormuz, penghentian blokade pelabuhan Iran, serta pencabutan sanksi terhadap penjualan minyak mereka.

Di sisi lain, Qalibaf memperingatkan bahwa Iran telah membangun kembali kemampuan militernya selama masa gencatan senjata. Ia mengatakan, jika AS secara bodoh memulai kembali perang, maka konsekuensinya akan lebih kuat dan lebih pahit dibanding awal konflik.

Meski perang berlangsung selama berminggu-minggu, laporan menyebut Iran masih mempertahankan stok uranium yang mendekati level senjata nuklir, sekaligus kemampuan rudal, drone, dan jaringan proksinya di kawasan.

Editorial Team