“Ya, saya ingin mendapatkan penggantian biaya karena kita melindungi sebagian besar wilayah kaya di dunia, kita mengeluarkan uang, dan karena itu kita akan mendapatkan penggantian biaya perlindungan,” jelas Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C, pada Senin (13/7/2026) seperti dilansir The Hill.
Klaim Sudah Lindungi Selat Hormuz, Trump Minta Negara Teluk Bayar ke AS

- Donald Trump meminta lima negara Teluk membayar 20 persen biaya perlindungan AS di Selat Hormuz, menegaskan peran negaranya sebagai penjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.
- Pemerintah Iran menolak klaim Trump dan menyatakan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran, sehingga mereka yang layak disebut sebagai penjaga wilayah strategis itu.
- Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah insiden kapal melintas di luar jalur, memicu serangan balasan dari AS yang memperburuk ketegangan antara kedua negara.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta negara-negara Teluk untuk membayar negaranya karena sudah melakukan perlindungan dan pengawasan di Selat Hormuz. Sebab, Trump mengatakan AS sudah menggelontorkan dana jumbo hanya untuk menjaga selat tersebut dari ancaman Iran.
1. Ada lima negara Teluk yang diminta Trump membayar AS

Negara Teluk yang dimaksud Trump tadi adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Trump meminta kelima negara tersebut untuk membayar sebesar 20 persen dari total biaya yang sudah digelontorkan Negeri Paman Sam untuk melakukan perlindungan dan pengawasan di Selat Hormuz. Namun, Trump tidak merinci jumlah pasti dari biaya tersebut.
“Mereka akan berprestasi dengan sangat baik. Namun, kami rasa, ini sudah tepat (permintaan bayaran kepada negara Teluk). Kami melindungi mereka semua dan kami telah melakukan pekerjaan yang sangat efektif,” lanjut Trump kepada awak media.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa AS akan terus melakukan perlindungan dan pengawasan di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan untuk menjamin kapal-kapal agar bisa berlayar di sana dengan aman dan nyaman tanpa gangguan pihak mana pun, terutama Iran. Oleh karena itu, Trump dengan bangganya melabeli AS sebagai “Penjaga” di selat tersebut.
2. Iran menanggapi pernyataan Trump soal Selat Hormuz

Pernyataan Trump tadi akhirnya ditanggapi oleh pemerintah Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan AS bukan “Penjaga” di Selat Hormuz. Sebab, Selat Hormuz kini berada di bawah kontrol Iran, bukan AS. Oleh karena itu, Iran-lah yang pantas dijuluki sebagai “Penjaga” di selat tersebut.
“Trump benar sekali. Siapa pun yang menyediakan jalur pelayaran yang aman dan terjamin bagi kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz harus diberi kompensasi atas jasanya. Namun, Iran selalu menjadi penjaga Selat (Hormuz) dan akan tetap demikian selamanya,” tegas Araghchi.
3. Iran kembali menutup Selat Hormuz

Pada Sabtu (11/7/2026) pekan lalu, Iran memutuskan untuk kembali menutup Selat Hormuz. Keputusan ini dilakukan usai ada kapal yang melintas di sana di luar jalur khusus yang sudah ditentukan. Penutupan Selat Hormuz ini lantas membuat AS membalas dengan menyerang Iran. Sebab, AS menganggap tindakan tersebut telah melanggar kesepakatan perdamaian kedua negara.
Serangan terakhir AS ke Iran terjadi pada Senin malam kemarin. Itu merupakan serangan ketiga Washington ke Teheran sejak keduanya kembali terlibat bentrokan pada pekan lalu.
“Serangan-serangan ini akan terus memberikan kerugian besar bagi pasukan Iran dan mengurangi kemampuan mereka untuk menyerang warga sipil yang tidak bersalah dan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz,” bunyi pernyataan Komando Pusat (CENTCOM) militer AS dilansir The Guardian.






















